Sedih Dan Cinta

Sedih Dan Cinta
Chaft. 29 { Aset }


__ADS_3

Chafter 29


“ Raiyan.”


Suara Mandala terdengar datar ketika Raiyan baru masuk ke dalam rumah. Pria berusia 48 tahun itu terlihat menahan amarahnya. Dengan wajah datarnya ia meminta Raiyan duduk dan ikut berkumpul di ruang tamu.


“ Ada apa, ayah?” tanya Raiyan. Ia masih berdiri di belakang kursi yang menghadap kearah ayahnya.


“ Kakekmu menelpon. Ia memintaku untuk memberikan ini. “ jawab Mandala sembari menyodorkan beberapa map kearahnya.


Raiyan mengambilnya dan membuka isi dari map tersebut. Di dalam map, berisi penyerahan aset seluruh saham yang di miliki oleh Raiyan. Dengan mengerutkan sedikit matanya, ia tersenyum.


“ Kakekmu memintamu untuk menyerahkan semua aset yang kamu miliki. Aku paham kamu terkejut dengan hal tersebut. Tapi, bukankah kau akan menetap di Thailand. Jadi ...”


“ Jadi tuan Mandala berpikir jika semua saham yang ku miliki ini, pantas aku berikan kepada anda.” Potong Raiyan dengan tidak sopan.


Mandala sedikit melebarkan matanya. Ada amarah yang di pendamnya. Tapi, ia menahannya karena jika ia langsung bertindak emosional, hal ini tidak akan mendapatkan hasil apapun.


“ Jaga sikapmu.” Timpal Hazwan yang kebetulan tidak terima dengan sikap kakaknya.


“ Ayah.” Kata Raiyan. “ Aku sangat berterima kasih atas segalanya. Tapi, soal aset dari saham ini. Aku harus mempertimbangkan dan membicarakannya dengan kakek. “ sambung Raiyan dan kemudian langsung pamit ke kamar.


Mandala yang seolah merasa kesal, Memandang istrinya dengan wajah yang muram. Ada hal yang masih membekas dalam ingatan Mandala. Perkataan ayahnya yang membuatnya harus menikahi Kannika Jane.

__ADS_1


“ Menikahlah dengan nona Kannika Jane. Dengan begitu, keluarga kita tidak akan di hina terus dengan keluarga ibumu.”


“ Tapi, ayah. Aku mencintai Emma. Aku tidak mungkin meninggalkan Emma dalam keadaan seperti ini.” Tolak Mandala.


“ Masalah Emma. Mengapa tidak kau nikahi dia setelah kau menikah dengan nona Kannika. Bukankah ini tidak menjadi masalah buat non Kannika. “


“ Tapi, ayah.”


Ingin sekali Mandala menolaknya. Tapi, dia takut menentang keputusan ayahnya yang selalu di hormatinya. Pernikahan itu pun terjadi. Dan Emma merasa terpukul akan pernikahan mandala. Yang Emma ingat hanya satu kata dari Mandala.


“ Bersabarlah. Akhirnya kita pasti akan bahagia. Jadi aku mohon, beri aku sedikit waktu.”


Emma menyadari keadaan Mandala saat itu. Dengan sabar ia menunggu Mandala. Selain itu Kannika Jane, mengetahui tentang hal tersebut. Kannika mengijinkan Mandala menikahi Emma yang kebetulan telah mengandung anaknya.


“ Sudah sepantasnya aku mendapatkan semuanya.” Jawab Mandala. “ Kelahiran Raiyan adalah hari dimana aku harus menghadapi kematian putraku. Jika saja, Kannika tidak berbuat kasar kepadamu. Mungkin, putra kita masih hidup.” Ucap Mandala dengan mata yang mengingat sikap Kannika dengan Emma.


“ Kamu salah paham Mandala. Kannika tidak mendorongku. Aku yang terpeleset.”


“ Kau masih membelanya.”


Suara teriakan Mandala membuat Bilqis keluar dari kamar. Ia berdiri di tengah pintu sambil menyenderkan satu bahunya. Senyumnya seolah membuatnya mendapatkan sebuah ide. Ia berlahan berjalan keanak tangga. Melewati beberapa kamar dan akhirnya ia berhenti di sebuah kamar yang pintunya memiliki gaya seni Thailand. Kamar itu adalah kamar Raiyan.


Kamar yang tak terkunci itu, seketika terbuka dengan satu dorongan tangannya. Bilqis tak segan langsung masuk dan matanya seketika mencari sosok seorang yang sangat di inginkannya.

__ADS_1


“ Raiyan.”


Suara Bilqis membuat Raiyan terkejut. Ia membuka matanya dan sedikit membangkitkan tubuhnya. Dengan ekspresi tidak senang, Raiyan berkata sedikit ketus.


“ Berani nya kamu masuk ke kamarku tanpa izin.”


Bilqis tersenyum sembari memberanikan diri naik keatas kasur. Raiyan diam ketika Bilqis menaiki tubuhnya yang sejak tadi masih dalam setengah berbaring.


“ Lihatlah aku kak Raiyan.” Kata Bilqis. Ia kemudian membuka pakaiannya dan melepaskan apa yang di kenakannnya. “ Tubuhku lebih bagus dari pada Elisha. Dan...”


Bilqis semakin mendekat. Wajahnya seolah ingin meraih bibir tipisnya. Raiyan memalingkan wajahnya. Menolak apa yang di berikan Bilqis. Bilqis yang tidak kehabisan akal, meraba tubuhnya. Dan ketika Bilqis menyadari jika Raiyan tidak bereaksi. Ia semakin memberanikan diri untuk menyentuh bagian terlarangnya. Sontak Raiyan menangkap tangan Bilqis dan mendorongnya kasar.


Auh...!


Pekik Bilqis kesakitan. Ia terkejut dengan sikap kasar Raiyan. Dengan memandang Raiyan ia menggigit bibirnya.


“ Kau wanita yang memalukan.’ Kata Raiyan sembari beranjak dari kasur.


Bilqis buru-buru berdiri dan berkata. “ Apa yang berbeda dari aku dan Elisha? Mengapa kamu begitu menyukainya? Mengapa bukan aku ? Jelaskan kak Raiyan. “


Raiyan tersenyum sinis. Ia mendekat dan memandang Bilqis dengan mata angkuhnya.


“ Elisha bukan gadis munafik. Ia polos dan bukan pura-pura polos. Seharusnya kamu sadar, jika Ia lebih menyayangimu dan mengerti dirimu. Tapi, apa yang dimiliki Elisha. Tentu saja tidak di miliki olehmu. “

__ADS_1


Bilqis diam. Ia memandang tatapan Raiyan dengan kebencian. Elisha! Nama itu membuat seluruh kebenciannya menjadi sesuatu dendam di batinnya.


__ADS_2