Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 10


__ADS_3

"Kamu beneran lihat mamahnya?" tanya Raka usai kepergian Shila dari tokonya.


Dengan lancang menarik tubuh Shanum dan mendudukkannya di pangkuan.


"Ka, lepas! Malu tahu!" Shanum memberontak sambil menoleh ke segala arah.


"Diem! Kamu bangunin yang di bawah." Raka mendesis, sontak Shanum terdiam dengan mata terbelalak.


"Lagian kamu ini istri aku. Kenapa, sih?" Suara Raka sedikit berubah.


Shanum berpaling malu, kedua tangannya menahan dada Raka agar tidak terus menempel.


"Di mana kamu lihat?" Raka mengulangi pertanyaannya setelah Shanum cukup anteng di pangkuan.


"Iya, di mal. Sama laki-laki, kayaknya abis belanja banyak." Shanum masih berpaling darinya.


"Laki-laki? Bukannya emang masih punya suami, ya?" Dahi Raka mengernyit bingung. Ucapan istrinya terdengar ambigu, laki-laki yang seperti apa?


"Ish!" Shanum memukul bahu Raka. "Kalo papahnya aku tahu, tapi ini laki-lakinya masih muda. Apa Shila punya kakak laki-laki?" Shanum menatap wajah Raka. Sudah pasti laki-laki itu tahu karena dia adalah mantan kekasihnya.


Raka terlihat berpikir, mengingat-ingat kembali anggota keluarga Shila.


"Seingatku nggak, deh. Dia cuma punya satu adik perempuan yang masih sekolah. Kalo laki-laki muda aku nggak tahu. Mungkin saudaranya." Raka menghendikan bahu tak acuh.


Ia lengah, dan Shanum buru-buru beranjak dari pangkuannya. Gadis itu tertawa garing ketika Raka menatap kecewa padanya.


"Sha, bulan madu, yuk! Kita, 'kan, udah nikah. Aku laki-laki normal, Sha. Butuh itu," pinta Raka dengan wajah yang memelas.


Sentuhan tadi membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Sebuah keinginan bersifat kelelakian yang harus dituntaskan. Wajah Shanum merona mendengar itu, ia melempar sebuah casing ponsel pada Raka. Bukan marah apalagi kesal, tapi lebih kepada malu.

__ADS_1


Membayangkan akan seperti apa malam pertama mereka nanti, semakin membuat pipi Shanum memerah.


"Kamu sakit, Sha? Pipi kamu merah, lho." Raka bangkit dan menghampiri Shanum. Menangkup wajah gadis itu sehingga berhadapan.


Shanum membelalak, meneguk ludah gugup. Jarak mereka terlalu dekat bahkan, mereka dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Semakin lama, semakin dekat. Raka terus mengikis jarak membuat jantung Shanum tak karuan.


"Jangan deket-deket, Raka!" Shanum mendorong wajah Raka agar menjauh, tanpa sadar tangan Raka yang memegangi kursi menariknya hingga kursi tersebut jatuh bersamaan dengan dirinya juga Shanum yang menimpa tubuhnya.


"Argh!"


Hampir wajah mereka saling beradu, jika saja kedua tangan Shanum tak mampu menahan bobot tubuhnya. Ia memejamkan mata takut, juga malu. Raka menggunakan kesempatan itu untuk mengurung tubuh sang istri, menahannya agar tidak segera bangkit.


Senyum menyeringai menyambut kedua mata Shanum saat terbuka. Keduanya terdiam cukup lama, saling menatap satu sama lain. Debaran di dada kedua insan itu kian tak terkendali, terutama saat pandang mereka jatuh pada bibir masing-masing.


Pelan, tapi pasti Raka semakin mendekatkan wajah pada Shanum. Gadis itu memejamkan mata dengan bibir yang terlipat. Dia malu, tapi mau tentu saja. Sampai ....


"Permisi!" Suara seorang pelanggan amat mengganggu momen tersebut.


"Dia istriku, Bu. Tadi kami jatuh nggak sengaja," ucap Raka tanpa diminta untuk menjelaskan.


Shanum menggelengkan kepala, melirik malu pada pelanggan yang tengah tersenyum-senyum menggoda itu. Ia tidak menanggapi ucapan Raka, melainkan lanjut berbelanja aksesoris di toko itu.


Shanum menghela napas, melirik tajam suaminya yang menatap aneh.


"Malu tahu. Ini, 'kan, di toko. Orang lain bisa lihat. Kalo di rumah cuma mamah sama papah aja," sungut Shanum sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


Mata Raka berbinar, seperti mendapat lampu hijau dari gadis itu.


"Di rumah nggak apa-apa, ya. Ya udah, di rumah aja nanti. Nggak sabar jadinya pengen nutup toko." Raka terkekeh, terlihat bersemangat sekali. Sekali lagi Shanum melemparnya dengan casing hp, malu.

__ADS_1


Sementara itu, Shila berjalan dengan perasaan kesal menemui mamah dan kekasihnya. Wajahnya ditekuk, bibir cemberut kesal. Ia membanting diri di kursi belakang, tepat di samping Benny.


"Hei, kenapa sama kamu?" Benny mengangkat wajah Shila dengan jari telunjuknya.


Terlihat jejak kesedihan dan bekas tangisan di sana, membuat dahi laki-laki itu berkerut bingung. Shila tak menjawab, melainkan berhambur memeluk tubuh Benny dan menangis histeris. Sang mamah di depan terlihat bingung melihat anaknya.


"Kenapa sama kamu, Shila? Kok, datang-datang nangis. Siapa yang bikin anak mamah nangis kayak gini?" tanya mamah Shila dengan nada tak suka.


Di belakang, Benny mendekap tubuh kekasihnya sambil menenangkan. Mengusap-usap rambutnya dengan lembut sesekali akan mencium kepala itu.


"Shila ketemu sama Shanum, Mah. Dia menghina Shila, dia bilang Shila cuma orang miskin yang nggak punya apa-apa. Makanya Shila nggak pantes buat Raka katanya," rengek wanita itu mengadu domba mamahnya dengan Shanum.


Shila semakin menelusupkan wajah di dada laki-laki itu. Meminta perlindungan darinya. Dia benar-benar aktris yang hebat.


"Kurang ajar! Mentang-mentang dia punya segalanya, seenaknya aja bisa menghina orang. Keterlaluan! Lain waktu kalo ketemu, Mamah akan kasih dia pelajaran," ancam sang mamah sembari mengepalkan tangannya.


"Siapa itu Raka? Apa dia pacar kamu yang direbut temannya itu?" Benny bertanya memastikan.


Shila menganggukkan kelapa tanpa mengangkatnya. Seolah benar-benar merasa sedih karena penghinaan itu.


"Udah, Shil. Nggak usah kamu mikirin laki-laki kayak gitu lagi. Biarin aja. Punya apa-apa nggak, belagu iya. Sekarang udah ada Benny yang selalu ada buat kamu. Mamah yakin Benny jauh lebih baik dari laki-laki itu. Bisanya cuma selingkuh aja," sungut mamah Shila begitu membenci Raka karena tak pernah membawanya berbelanja seperti Benny.


"Iya, Shil. Kamu nggak usah mikirin dia lagi. Sekarang ada aku yang akan mencintai kamu selalu. Jangan nangis lagi," sahut Benny meyakinkan.


Perlahan tangis Shila mereda, ia juga mengangkat wajahnya yang basah menatap Benny mencari kesungguhan.


"Kamu beneran nggak akan selingkuh, 'kan? Aku juga nggak mikirin dia lagi, kok. Untuk apa, dia cuma bisanya nyakitin aku aja. Aku cuma sedih karena waktu aku dihina nggak ada yang belain aku di sana. Aku sendirian tadi," ucap Shila sambil menitikkan air mata palsu demi meyakinkan hati Benny.


Laki-laki itu membersihkan air mata di pipi Shila, tersenyum lembut menatapnya.

__ADS_1


"Maaf, ya. Coba aja aku ada di sana, kamu nggak akan dihina sampai kayak gini. Udahlah, jangan nangis lagi." Benny kembali memeluk tubuh itu, tersenyum Shila merasa sudah menguasai hati laki-laki itu.


"Jalan, Pak!" titah mamah Shila pada supir yang sejak tadi hanya diam mendengarkan drama keluarga itu. Hatinya merasa kasihan terhadap Shila, dan merutuki perbuatan orang yang sudah menghinanya.


__ADS_2