Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 24


__ADS_3

Shanum menuruni lantai rumah, sekalian akan berpamitan untuk langsung pulang ke rumahnya. Paman dan bibi Shanum masih ada di sana, bercengkerama asik bersama kedua orang tuanya.


"Kamu nggak nginep lagi di rumah ini, Nak?" tanya Nia terlihat masih merindukan anaknya.


"Iya, Mah. Nanti kapan-kapan kita nginep lagi di sini," jawab Shanum seraya ikut duduk di kursi teras menunggu kedatangan Raka.


"Padahal kami masih kangen sama kamu, lho. Kenapa nggak nginep dua hari atau tiga hari gitu?" ujar sang bibi sambil memegangi tangan Shanum.


"Bi, bukannya Shanum nggak kangen, tapi Shanum udah punya rumah sendiri sekarang. Kalo ditinggal terlalu lama nggak ada yang ngurus," ucap Shanum begitu memikirkan rumahnya.


"Iya, bener. Ya udah nggak apa-apa. Nanti main-main ke rumah Bibi sama suami kamu, ya." Bibi Shanum tersenyum, berharap pengantin baru itu akan berkunjung ke rumahnya.


"Iya, Bi. Insya Allah."


Beberapa saat berbincang, mobil Raka memasuki halaman. Shanum berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Laki-laki itu keluar, berjalan menghampiri mereka semua.


"Shanum pamit, ya." Shanum menyalami mereka diikuti dengan Raka pula. Keduanya bergandengan tangan menuju mobil bahkan, Raka membukakan pintu untuk istrinya itu.


Mobil mereka pergi dibawah tatapan penuh syukur dari anggota keluarga Shanum. Masing-masing dari mereka mendoakan rumah tangga keduanya agar tetap bahagia sepanjang hidup.


"Kamu yakin nggak mau nginep lagi?" tanya Raka teringat pada kebahagiaan Shanum di rumah itu.


"Nggak. Kita, 'kan, udah punya rumah sendiri. Nanti siapa yang ngurusin rumah kita. Kalo nginep kapan-kapan lagi bisa," jawab Shanum sambil bersender menatap suaminya.


Raka menggenggam tangan Shanum dan membawanya mendekati bibir. Mengecup punggung tangan itu penuh cinta. Benar-benar menuangkan perasaannya kepada Shanum.


Wanita itu tersenyum, terpancar kebahagiaan yang luar biasa dari kedua maniknya.


"Nanti kalo hamil kamu udah besar, tinggal di rumah aja, ya. Nggak udah ke mana-mana. Toko, 'kan, ada karyawan. Aku nggak mau mau kerja dengan kondisi perut yang besar," pinta Raka tanpa melepaskan tautan jemari mereka.

__ADS_1


Shanum kembali menoleh, tersenyum mendengar permintaan manis suaminya itu.


"Iya. Aku sekarang punya suami udah bukan gadis bebas lagi. Nanti kalo perut aku udah besar, aku mau di rumah aja." Shanum balas mengeratkan genggaman. Keduanya terlihat bahagia.


"Oya, rencananya aku mau ajak sepupu aku buat kerja di toko. Irwan kewalahan karena pelanggan yang datang terus membludak. Menurut kamu gimana?" tanya Raka meminta pendapat Shanum.


"Ya, nggak apa-apa. Justru itu bagus menurut aku. Biar kerjaan kalian nggak terlalu berat," sahut Shanum setuju dengan ide tersebut.


Raka menoleh sebentar sambil tersenyum. Untuk kemudian kembali fokus ke jalanan.


"Makasih, ya. Kamu pengertian banget," ucap Raka.


Mobil terus melaju ke toko Shanum, Raka mengantarkannya, kemudian kembali ke tokonya sendiri. Shanum tidak terlalu menyibukkan diri dengan kegiatan, ia lebih banyak mengontrol persediaan toko juga pesanan.


Tak ada yang dia lakukan selain hanya duduk di meja kasir menunggu pembayaran. Shanum terlihat bahagia, melayani dengan senyuman sampai kedatangan seseorang membuatnya kembali tercenung.


"Kakak nggak masuk? Bantu pilih-pilih kuenya." Suara lembut seorang wanita mengalun di telinga Shanum. Dia masih tenang dan fokus pada buku laporan yang sedang dibacanya.


Ia mengangkat wajah, melongo ke kanan memastikan telinga tak salah mendengar. Di depan toko kue basahnya, seorang laki-laki berpakaian alim berdiri sambil memainkan gawai.


Seketika jantung Shanum berdenyut, kehadiran laki-laki itu selalu berhasil merusak konsentrasinya.


"Kak Dzaky? Dia datang sama siapa?" tanya Shanum pada diri sendiri.


Ia mencoba tak acuh dan kembali fokus pada laporan di atas meja. Namun, rasa penasaran dengan siapa laki-laki itu datang, sangat mengganggu ketenangan Shanum. Ia kembali menyibukkan diri dengan laporan toko, berharap pikirannya akan teralihkan dari sosok rupawan di depan toko kue itu.


"Sha? Aku kira kamu nggak ada di toko. Ternyata di sini," tegur laki-laki itu yang entah sejak kapan dia sudah berdiri di hadapan Shanum.


Dengan terpaksa istri Raka itu mendongak, memaksakan bibirnya untuk tersenyum sambil terus menahan hati agar tidak terbawa perasaan.

__ADS_1


"Iya. Kakak beli kue lagi? Buat apa lagi?" tanya Shanum berpura-pura tak tahu.


Dzaky tersenyum, senyum yang selalu berhasil mengoyak pertahanan Shanum hingga runtuh.


"Nggak. Bukan aku. Aku cuma antar calon istriku beli kue di sini. Kue di toko kamu ini enak-enak, beda sama di toko lain," jawab Dzaky.


Laki-laki itu bersikap biasa saja, berbeda dengan Shanum yang seketika rasa nyeri melanda hatinya. Mendengar Dzaky mengantar calon istri membeli kue di tokonya. Shanum tak senang karenanya.


"Oh, iya. Makasih. Silahkan dilanjutkan, Kak. Pilih aja, minta diskon sama karyawan di sana buat calon manten," ucap Shanum menahan perasaannya yang tak karuan.


Dzaky bukannya pergi, justru semakin mendekat ke meja Shanum. Mungkin niat hati memanasi wanita itu, tapi justru dia sendiri yang kepanasan melihat Shanum dapat menguasai perasaannya.


"Maaf, Kak. Jangan deket-deket, aku udah nikah sekarang." Shanum memundurkan kursinya menjauh.


Meski terhalang, tetap saja tak sedap dipandang mata mengingat dia adalah wanita bersuami dan Dzaky laki-laki dewasa.


"Aku tahu. Aku cuma mau lihat muka kamu aja sebelum pergi." Dzaky kembali menjauh setelah berhasil menatap lekat wajah gadis idamannya itu.


"Kak. Aku udah selesai, kita langsung pulang aja, ya." Suara wanita itu kembali terdengar, membuat Shanum semakin penasaran.


Namun, ia enggan melongo, karena malu pada laki-laki yang masih berdiri di depan mejanya.


"Oh, iya. Udah bayar belum?" tanya Dzaky dengan harapan gadis itu belum membayar kuenya.


"Udah, Kak. Aku udah beli beberapa kue. Sekarang, kita langsung pulang aja, ya." Wanita itu berkata lagi semakin menambah rasa penasaran di hati Shanum.


"Oh. Kirain belum, katanya tadi kita boleh minta diskon. Kalo udah dibayar, ya udah." Dzaky kembali menatap Shanum, seolah-olah tak peduli gadis yang bersamanya akan tahu.


"Aku pamit, ya. Diskonnya buat besok-besok nggak apa-apa, 'kan?" ucap Dzaky kemudian berbalik setelah Shanum menganggukkan kepala setuju.

__ADS_1


Rasa penasaran di hatinya, membuat Shanum memanjang leher guna dapat melihat gadis seperti apa yang menjadi calon istri laki-laki alim itu. Sayangnya, ia hanya melihat bagian punggung saja.


Seorang gadis bergamis dengan kerudung besar membalut tubuhnya. Sangat tertutup dan sangat jauh berbeda dengan dirinya. Shanum menghela napas, minder sendiri melihat penampilan wanita itu.


__ADS_2