
"Kalian nggak nyembunyiin sesuatu dari aku, 'kan?"
Keduanya mendongak dengan cepat, menatap Shanum dengan mata membelalak. Wanita di hadapan mereka bukan hanya sekedar bertanya, tapi lebih kepada menginterogasi mereka.
Irwan menelan dengan cepat makanan di mulutnya.
"Maksud kamu? Nyembunyiin apa?" tanyanya dengan raut bingung yang kentara.
Shanum menelisik dua wajah di depannya, mereka terlihat tak tahu apa-apa. Ia menghela napas, mengibaskan tangan dan terkekeh.
"Lupain aja. Aku mau pulang." Shanum menyambar tas miliknya, dan bergegas keluar.
"Eh. Tunggu! Tunggu, Shanum!" Irwan mencegah istri atasannya itu.
Shanum berbalik sambil bersedekap dada. Menatap jengah pada karyawan suaminya itu.
"Seenggaknya kamu makan dulu sama kita, Sha!" teriak Doni dari dalam toko dengan mulutnya yang penuh.
Shanum berdecak, lalu berbalik dan lagi-lagi dicegah Irwan.
"Tunggu, Shanum!" Irwan mencekal tangan Shanum, mencegahnya untuk pergi.
"Kenapa?" Shanum menarik tangannya kesal.
"Kenapa kamu tanya begitu sama kita? Apa ada hal yang bikin hati kamu nggak tenang?" tanya Irwan, ia menelisik kedua manik Shanum yang terlihat sendu dan gelisah.
"Kamu kelihatan gelisah, kayak orang yang lagi banyak pikiran. Ingat, Sha. Kamu itu lagi hamil, nggak boleh terlalu banyak pikiran," ingat Irwan menasihati.
Dia memiliki istri di rumah yang sedang mengandung, betapa mengerti dengan perasaan Shanum yang sensitif dan mudah tersinggung. Irwan terlihat lebih mengerti daripada Raka.
Shanum menghela napas, dia sendiri tidak tahu harus apa. Tingkah laku Raka terasa lain, tapi laki-laki itu selalu dapat meyakinkan Shanum ketika mereka berbicara. Shanum hanya diam, tak akan mungkin berbagi kisah rumah tangganya dengan laki-laki lain.
"Kalo kalian ada masalah, baiknya dibicarakan. Kalo ada terasa yang janggal, jangan dipendam sendirian yang akhirnya menimbulkan kecurigaan. Tenangin hati kamu, Sha. Bayi di dalam perut kamu juga nggak akan tenang kalo ibunya gelisah." Irwan terlihat peduli pada Shanum.
Bibir wanita itu berkedut, matanya memanas ingin menangis, tapi ia menahannya sekuat tenaga agar air tidak tumpah dari tahtanya.
__ADS_1
"Makasih, ya. Aku mau pulang dulu," ucap Shanum tak ingin terlalu banyak bicara.
Ia berbalik dan berjalan menjauh dari toko suaminya. Dia tak akan kembali ke rumah, juga tak akan menghubungi Raka.
"Sha, mau aku antar nggak?" tawar Doni yang sudah berdiri di depan toko.
Shanum berbalik, dan menggelengkan kepala.
"Nggak usah. Aku mau naik ojek aja." Ia kembali melanjutkan langkah sambil memainkan ponsel di tangan memesan ojek online.
Beberapa saat menunggu, ojek pun tiba. Shanum pergi ke rumah Lia untuk bercerita dan berbagi keluh kesah. Dia tahu, gadis itu masih bekerja. Pastilah hanya ada sang ibu di rumah, tapi tak apa. Itu sudah biasa.
"Berhenti dulu di toko kue yang di sana, ya." Shanum meminta tukang ojek untuk berhenti di toko kue cabang miliknya.
Lagi-lagi, dia berhalusinasi. Seperti melihat Raka yang berjalan masuk ke sebuah restoran. Meski hanya punggung saja, dan tak pernah melihat rupanya. Kali ini, Shanum tak peduli.
Ia masuk ke dalam toko, membeli beberapa kue sebagai oleh-oleh untuk Lia dan ibunya. Dari dalam sana, ia terus memperhatikan restoran di mana sosok seperti Raka masuk ke dalamnya.
Shanum mengingat-ingat pakaian yang dikenakan suaminya pagi tadi. Tidak sama. Shanum menghela napas, kemudian keluar dan kembali melanjutkan perjalanan.
Ia masuk ke pekarangan rumah yang banyak ditumbuhi bunga-bunga. Ibu dari sahabatnya itu memang menyukai berbagai macam jenis bunga. Shanum mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Menunggu sampai terdengar jawaban dari dalam rumah.
"Wa'alaikumussalaam! Bentar!" Suara wanita paruh baya yang memilki khas nada melengking terdengar samar.
Berselang, pintu rumah terbuka, Shanum tersenyum menyambut kemunculan sang pemilik rumah.
"Siang, Tante!" Shanum menyalami wanita itu, ibunya Lia selalu ramah terhadapnya.
"Maa syaa Allah! Udah lama banget nggak datang ke sini. Tante kangen, lho." Wanita itu memeluk Shanum, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, Tante. Biasalah kalo udah nikah nggak sebebas masih perawan." Shanum terkekeh diikuti wanita itu.
"Iya, bener. Kebetulan Tante udah masak agak banyak tadi. Nggak tahu kenapa firasat Tante bilang akan ada tamu, nggak tahunya kamu." Mereka duduk di sofa, Shanum menyerahkan kue yang dibawanya kepada wanita itu.
"Kamu itu suka repot-repot kalo ke sini. Bawa apa aja, tapi ayahnya Lia suka banget sama kue-kue dari toko kamu, Sha." Ibu Lia menerima kue tersebut dengan senang hati.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalo suka. Lia masih suka pulang pas jam makan siang, Tante?" tanya Shanum teringat pada sahabatnya yang kerap pulang ke rumah di jam makan siang.
"Masih, Sha. Anak itu mana mau makan makanan yang di luar. Kalo nggak bawa bekal dari rumah, dia pasti pulang. Bentar lagi juga pulang." Ibu Lia melirik jam di dinding, sudah hafal betul jadwal anaknya pulang.
"Nanti kita makan sama-sama, ya. Kamu belum makan, 'kan?" ajak ibunya Lia dengan senang hati.
"Iya, Tante. Aku emang belum makan, sengaja mau makan di sini." Shanum terkekeh, sedikit terobati kegelisahan hatinya.
Mereka berbincang sambil menunggu kedatangan Lia, ada gelak tawa yang menguar. Shanum benar-benar datang ke tempat yang tepat, ia merasa terhibur berbincang dengan wanita itu. Sampai suara motor Lia terdengar, barulah obrolan mereka terhenti.
"Assalamu'alaikum!" Suara salam yang lantang, khas seorang Lia.
"Wa'alaikumussalaam!"
Lia tertegun mendengar suara sahabatnya. Ia buru-buru masuk, dan menjerit melihat Shanum.
"Shanum!" Lia memeluknya, seolah-olah mereka tidak bertemu untuk waktu yang lama.
"Kangen tahu. Rasanya udah lama banget kita nggak ketemu," ucapnya manja.
Shanum terkekeh, dia memang lebay. Selalu berlebihan dalam beberapa hal.
"Duh, kayak nggak ketemu tahunan aja kamu. Lebay banget, sih," cibir ibunya Lia, tapi bibirnya tersenyum senang melihat keakraban mereka.
"Ih, Ibu, ganggu aja. Aku beneran kangen sama Shanum tahu." Lia mengerucutkan bibir, melirik sang ibu kemudian memeluk Shanum lagi.
"Iya, iya. Udah, ayo makan. Nanti keburu dingin sayurnya." Ibu Lia berjalan ke dapur, dia seperti mempunyai anak kembar jika keduanya berkumpul di rumah. Heboh dan ramai tentu saja.
"Ayo, makan yang banyak." Ibu Lia memberikan piring kepada Shanum.
"Makasih, Tante."
"Di mana Jihan? Belum pulang sekolah?" tanya Shanum teringat pada adiknya Lia yang masih bersekolah.
"Dia ada ekskul di sekolah, pulang sore nanti." Ibu Lia menjawab.
__ADS_1
Ketiganya makan dengan nikmat. Wanita itu tahu, seperti apa yang dirasakan Shanum saat pernikahannya dulu. Dia ingin menanyakan, tapi khawatir akan menyinggung.