Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 15


__ADS_3

"Kenapa Mamah teriak-teriak? Suaranya sampe kedengaran ke sana. Ngapain emangnya?" tanya Raka begitu tiba di toko sambil memberikan bungkusan berisi makanan kepada mereka berdua.


"Nggak ada apa-apa. Tadi itu cuma ada orang iseng aja datang ke sini, tapi udah Mamah usir. Sekarang, Mamah laper mau makan," jawab Leni seraya membuka bungkus makanan dan melahapnya.


Raka melirik sang papah, laki-laki itu justru menghendikan bahu seolah-olah tak tahu. Ia menghela napas, berpaling ke depan sambil memainkan ponsel. Raka menghubungi Shanum sekedar bertanya tentang makan siangnya.


"Hallo, Ka. Kamu udah makan siang belum? Aku masak sedikit banyak sekalian buat makan malam," sapa Shanum begitu panggilan tersambung.


Wanita itu sudah terlihat baik-baik saja, wajahnya kembali berseri, ceria seperti biasanya.


"Aku baru aja beli makan siang, ini lagi mau makan sama Mamah. Kamu jangan terlalu capek." Raka tersenyum menatap sang istri.


Wanita di seberang telepon sana sedang menikmati sepiring makanan bersama sahabatnya.


"Kamu masak apa?" tanya Raka, terasa lapar melihat Shanum melahap makanannya.


"Aku beli kangkung tadi, aku masak tumis, ada tempe goreng, sama sambel. Ada Lia yang bantu aku." Shanum menunjukkan makanan yang dibuatnya, kemudian menunjukkan keberadaan Lia di sampingnya.


"Mmm ... jadi pengen makan di rumah. Ya udah, makan yang banyak. Aku juga mau makan." Raka berpamitan diacungi jempol istrinya.


Ia menutup sambungan, kemudian duduk di lantai bersama orang tuanya.


"Gimana? Sukses nggak?" tanya Leni iseng. Alisnya dimainkan naik dan turun ketika Raka menoleh dengan dahi yang berkerut.


"Apanya yang sukses, Mah?" tanya Raka bingung. Pertanyaan sang mamah tak dapat ditangkap dengan jelas olehnya.


"Ih. Kamu itu pura-pura terus. Malam pertama kalian, sukses nggak? Apa belum ngelakuin?" tuding Leni dengan jari telunjuk lurus ke depan wajah Raka.


Pemuda itu tersipu-sipu, tak perlu lagi menjawab. Reaksi wajahnya yang memerah cukup menjadi jawaban yang diinginkan Leni. Wanita itu tersenyum sumringah, bertepuk tangan girang.


"Nggak usah dijawab, muka kamu udah menjawab sendiri. Mudah-mudahan cepat jadi, biar cepet punya cucu juga. Mamah udah kangen pengen gendong anak. Iya, 'kan, Pah?" Leni menautkan ke sepuluh jarinya di dada. Membayangkan seorang bayi dalam gendongan.

__ADS_1


Dunia terasa sempurna, kehidupan yang bahagia di hari tua akan terwujud seperti keinginannya. Raka menggelengkan kepala, berharap hal yang sama seperti yang diminta Leni.


****


Shanum baru saja melepas kepergian sahabatnya. Ia sengaja duduk di teras menunggu kepulangan Raka. Sambil memainkan gawai di tangan, sesekali akan menatap ke arah anak-anak bermain di pinggir jalan.


Ada beberapa ibu-ibu juga yang duduk di sebuah pos ronda memantau anak-anak mereka. Shanum tersenyum, ia sudah membayangkan di antara anak-anak itu ada anaknya.


Motor Raka muncul di gerbang komplek, ia membawa beberapa bungkusan bersamanya. Entah apa isi di dalamnya, tapi Shanum lekas berdiri ketika suaminya itu berhenti di kerumunan anak-anak. Ia memberikan bungkusan tersebut kepada mereka sebelum melajukan motornya memasuki halaman rumah.


Shanum berdiri di dekat gerbang, membuka pagar dan tersenyum pada sekelompok ibu-ibu yang mengucapkan terima kasih padanya. Ia menutup gerbang kembali, berjalan mendekati suaminya. Menyalami Raka selayaknya seorang istri kepada suami.


"Tadi bawa apaan?" tanya Shanum seraya mengikuti langkah Raka menuju teras.


"Cuma jajanan aja, kebetulan tadi pendapatan di toko lumayan dan ada lebihnya juga. Aku ingat banyak anak-anak di sekitar rumah, jadi beliin mereka jajanan." Raka mendaratkan bokong di kursi teras sambil melepas jaketnya.


"Perhatian banget, sih, suami aku!" Shanum gemas sendiri. Ia terkekeh sembari menerima jaket suaminya.


"Mau teh atau kopi? Atau mandi dulu?" tanya Shanum.


"Raka, ini di depan rumah!" pekik Shanum dengan suara tertahan.


"Nggak apa-apa. Aku mau kamu aja. Boleh, ya." Raka menatap sayu manik istrinya.


Tersipu wanita itu, berpaling muka kemudian melepas dekapan Raka. Ia berlari ke dalam, membuatkan suaminya secangkir teh hangat dan membawakan camilan juga.


"Jangan macem-macem! Nih, minum dulu." Shanum memberikan teh tersebut kepada Raka, diterima dengan perasaan bahagia luar biasa.


"Makasih, ya." Raka menyeruput teh tersebut, hanya secangkir, tapi ia begitu menikmatinya. "Ah ... segar!" serunya pelan.


Shanum tersenyum, menikah dengan sahabat ternyata tidaklah buruk. Mereka tetap bisa berbagi beban hidup, saling menguatkan satu sama lain. Raka mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah bungkusan plastik hitam dan menyerahkannya kepada Shanum.

__ADS_1


"Ini uang pendapatan hari ini. Kamu atur, ya. Buat keperluan sehari-hari, buat kebutuhan kamu juga. Simpan aja uang kamu, itu punya kamu sendiri. Kalo perlu apa-apa pakai ini aja." Raka menyerahkan uang tersebut kepada istrinya.


Sudah kewajibannya sebagai suami memenuhi nafkah istri meskipun mungkin pendapatan Shanum lebih besar darinya. Shanum terenyuh, ia menatap haru bungkusan yang kini berada di tangan. Tersenyum, untuk kemudian mengangkat wajah menatap sang suami.


"Apa kamu percaya sama aku? Gimana kalo habis?" tanya Shanum.


Raka menghendikan bahu, tak acuh dengan pertanyaan istrinya.


"Nggak masalah. Aku percaya sama kamu. Kalo habis, masih ada rezeki di depan. Masih banyak. Rezeki Allah tersebar luas di muka bumi ini. Jangan khawatir," sahut Raka dengan tenang dan santai.


Semakin terharu hati Shanum, ia beranjak dari kursi dan memeluk suaminya penuh syukur.


"Makasih, ya." Shanum melepas pelukan, tapi Raka tak membiarkannya menjauh.


Tangannya menarik tubuh Shanum hingga terduduk di pangkuan. Mengurung tubuh wanita itu yang selalu tercium harum.


"Nggak usah terima kasih. Aku ini suami kamu. Udah kewajiban aku buat menuhin semua kebutuhan kamu. Mulai dari makan, pakaian, juga tempat tinggal, dan keperluan lainnya." Raka membelai lengan Shanum, memberikan sentuhan lembut padanya.


Tanpa terduga, ia mendapat sebuah kecupan dari istrinya itu. Rasa lelah seketika menguap, berganti semangat yang menggebu. Raka berdiri, mengangkat tubuh Shanum ke dalam gendongan dan membawanya masuk.


"Eh! Uangnya ketinggalan!" pekik Shanum dengan tangan yang hendak menggapai bungkusan uang. Raka memutar kembali ke teras membiarkan Shanum mengambilnya.


Pintu tertutup, kelakuan mereka disaksikan para ibu-ibu yang tersenyum-senyum bersama kelompok mereka.


"Maklum pengantin baru." Mereka mulai bergosip.


"Mereka cocok, ya. Yang laki ganteng, yang perempuan cantik. Kebangetan lagi cantiknya." Mulai menilai secara fisik.


"Bukan cuma itu. Mereka juga baik, padahal masih baru tinggal di sini, tapi udah sering bagi-bagi makanan." Menilai secara karakter.


"Bener banget. Ini anak-anak kita juga dibeliin banyak banget. Mereka senang-senang aja nerimanya."

__ADS_1


"Senang, ya. Punya tetangga baik dan nggak sombong."


Demikian gosip para tetangga baru shanum.


__ADS_2