Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 12


__ADS_3

Keesokan harinya, Shanum dan Raka mengemasi barang-barang mereka. Dibantu kedua mamah dan papah berpindah tempat tinggal. Kedua pasangan paruh baya itu bahkan mengantar mereka sampai di rumah baru. Membantu membereskan semuanya sampai benar-benar selesai.


"Hari ini toko tutup dulu, ya." Raka membanting tubuh di sofa, setelah mengantar kepulangan orang tua mereka.


"Iya nggak apa-apa. Kalo toko kue, sih, nggak tutup. Tetap buka, cuma kayaknya aku nggak dateng ke toko. Capek," keluh Shanum sembari menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Iya. Untung Mamah tadi udah masak cukup banyak, cukup sampe makan malam, ya." Raka melirik Shanum dengan senyum nakal tersungging di bibir.


"Kenapa, sih? Kok, akhir-akhir ini kamu jadi aneh?" Shanum melempar Raka menggunakan bantal sofa.


Tiba-tiba saja, laki-laki itu beranjak dari sofa dan berlari mendekati Shanum. Memanfaatkan posisinya yang duduk, Raka merebahkan kepala di pangkuannya.


"Kenapa lagi, sekarang suka ngagetin kayak gini? Bikin jantungan!" Shanum memukul pelan lengan suaminya itu. Yang dipikul hanya tersenyum manis sambil memejamkan matanya.


"Aku lebih nyaman aja tidur di sini sekarang." Raka membuka mata menatap wajah istrinya yang selalu terlihat cantik dari mana pun dilihat.


"Sha, kamu mau, 'kan, jadi ibu buat anak-anakku? Mereka pasti cantik kayak kamu kalo laki-laki harus ganteng kayak aku,' celetuk Raka bertanya pada istrinya. Ia meraih tangan Shanum dan menggenggamnya.


Raka bahkan tak segan mencium punggung tangan sang istri, mencoba bersikap romantis dan menepis segala kecanggungan.


Shanum tersipu, apakah dia memang harus melakukannya? Memiliki anak? Siapa yang tak mau. Shanum adalah perempuan sehat dan normal, sudah tentu dia ingin memiliki anak. Akan tetapi, memiliki anak dari benih sahabatnya itu yang tak pernah terpikirkan oleh Shanum.


"Gimana, Sha?" Raka mengeratkan genggaman tangannya, menyimpan tangan tersebut di dada, membiarkan Shanum merasakan detak jantungnya.


"Mmm ... aku nggak tahu, Ka." Shanum berpaling sambil menggigit bibir, malu.


Raka berbalik menghadap perut sang istri. Tangannya tak melepaskan tautan, sambil tersenyum dia menatap kedua manik Shanum.


"Aku pengen, Sha. Aku pengen punya anak dari istri aku. Kamu tahu, 'kan, orang tua kita itu cuma punya kita sebagai anaknya. Mereka pasti senang kalo kita kasih cucu." Raka merayu sambil mencium tautan tangan mereka.


Shanum semakin tersipu, dia harus menjawab apa? Rasanya malu sekali bila harus menjawab iya. Shanum lebih memilih diam, melipat bibir menahan getaran yang kian meraja di hati.


"Shanum?" Raka memanggil dengan nada memelas.

__ADS_1


Tak ada yang dia katakan, Shanum melepas tautan tangan mereka dan membangunkan Raka dari pangkuan. Lalu, berlari meninggalkan suaminya itu ke halaman belakang yang masih berupa lahan kosong.


Ia menutup wajah, mendekap tubuhnya sendiri. Raka berhasil mencabik-cabik rasa di hatinya, menabur bunga yang tak henti terus berjatuhan.


"Kenapa lari?" Raka mendekapnya dari belakang, menjatuhkan dagu di bahu kanan Shanum tanpa segan. Gadis itu sedikit terlonjak, tapi menahan diri agar tidak bereaksi secara berlebihan.


"Aku malu, Ka. Kenapa, sih, kamu tanya-tanya kayak gitu segala?" Shanum menunduk memainkan jemarinya gugup. Padahal, tangan Raka melingkar di perutnya.


Raka beranjak, membalik tubuh Shanum menjadi berhadapan dengannya. Raka memiringkan kepala, menatap wajah Shanum yang menunduk.


"Kita ini udah dewasa, lagipula kita juga udah nikah. Nggak masalah kalo kita punya keinginan buat punya anak, 'kan? Kayak orang lain yang udah nikah, mereka punya anak," tutur Raka dengan lemah lembut.


Ia sudah tak canggung lagi terhadap Shanum, harus ada yang memulai. Jika tidak, kehidupan rumah tangga seperti yang diinginkan tak akan pernah terwujud.


Shanum mengangkat wajah, bersitatap dengan manik sang suami. Wajahnya merah merona, senyum tersungging di bibir.


"Tapi aku malu sama kamu, Ka. Kamu itu sahabat aku, rasanya canggung kalo sekarang jadi suami aku." Shanum mengerucutkan bibir, terlihat sangat jelas dia benar-benar malu.


Shanum menganggukkan kepala, akan mencoba menepis rasa persahabatan dan menggantinya dengan yang lebih tinggi.


Pandangan Raka beralih pada bibir ranum itu, ia tahu Shanum belum tersentuh kecuali olehnya. Ia mengikis jarak antara mereka, terus merapat hingga akhirnya berhasil mendaratkan bibirnya ke atas milik Shanum.


Sensasi lain menjalar ke seluruh tubuh mereka. Meski Raka sudah sering melakukannya dengan Shila, tapi bersama Shanum terasa lain. Gadis dalam dekapannya itu tidak begitu pandai bermain. Tak seperti Shila yang seperti sudah berpengalaman.


Raka melepas pagutan, mengusap bibir Shanum dengan lembut. Perlahan, gadis itu membuka mata. Beberapa saat darahnya berdesir hingga mencapai puncak kepala.


"Kamu pasti baru melakukannya, ya?" tanya Raka. Ibu jarinya masih menempel di bibir Shanum, enggan menjauh dari benda lembut itu.


Shanum menganggukkan kepala sambil menunduk. Raka terkekeh senang, mendekap erat tubuh sang istri dan membawanya berputar-putar senang. Shanum ikut tertawa, kali ini dia benar-benar bahagia menikah dengan Raka.


****


"Makanannya dingin. Aku buatin yang baru, ya," ucap Shanum saat membuka tutup saji di meja makan.

__ADS_1


"Nggak usah, diangetin aja. Nggak basi, 'kan?" Raka memeluknya dari belakang. Laki-laki itu benar-benar memperlakukan dirinya dengan romantis.


Shanum mengendus makanan itu, kemudian menggelengkan kepala. Raka melepas pelukan dan duduk menunggu sang istri menghangatkan masakan yang dibuat mamah mereka.


"Masih bagus, cuma dingin aja." Shanum bergumam, ia menyiapkan piring dan segala keperluan lainnya untuk makan. Suara anak-anak bermain di halaman terdengar sangat jelas.


"Di sini rame, ya. Masih banyak anak-anak," ucap Shanum sambil memberikan piring berisi nasi dan lauk pauk kepada suaminya.


"Iya, nggak sepi kayak di rumah." Raka menimpali dan menikmati makan malam sederhana mereka.


"Apalagi kalo siang nanti." Keduanya berbincang ringan sambil menikmati makanan. Membicarakan hal remeh sampai membahas perkembangan toko milik Raka.


"Aku nggak nyangka, kemarin toko rame banget. Pasti karena ada kamu," ujar Raka dengan senyum bahagia yang tak ia sembunyikan.


"Ya. Alhamdulillah. Apalagi kalo dilengkapi, pasti makin banyak yang datang." Shanum menyuapkan makanan ke mulutnya.


Untuk itu Raka setuju. Sehari saja ia menuruti kata-kata Shanum, tokonya ramai didatangi pelanggan.


Shanum merapikan bekas makan mereka, Raka membantu mencuci piring. Mereka terlihat harmonis dan romantis tentunya.


****


Shanum duduk di depan meja rias, membersihkan wajahnya dari kotoran. Sementara Raka berbaring di tepi ranjang dengan satu tangan menopang kepalanya. Ia tersenyum sambil memperhatikan sang istri yang begitu rapi dan rajin.


"Cepat, Sha!" Ia beranjak duduk, tak sabar menunggu Shanum.


"Kenapa, sih?" Berpura-pura saja tidak tahu, padahal hati bertalu-talu.


Raka beranjak mendekati istrinya. Tanpa pamit mengangkat tubuh Shanum dan membawanya ke atas peraduan.


"Raka!"


"Diem!"

__ADS_1


__ADS_2