
Hari-hari berlalu dengan sempurna, Raka dan Shanum melaluinya sebagai sepasang suami istri yang bahagia. Mereka ramah terhadap tetangga bahkan, Shanum sering berbincang ketika berbelanja sayuran.
"Ka, katanya nanti hari Minggu mau ada gotong royong beresin mushola. Kamu libur aja dulu, biar aku yang ke toko. Lagian udah ada karyawan juga, 'kan," ucap Shanum dalam perjalanan ke toko mereka.
"Beres, tapi tutupnya jangan malam. Sore aja, ya. Aku nggak mau kamu kecapean," sahut Raka penuh perhatian.
"Iya."
Perjalanan mengasikan, tak ada lagi kecanggungan. Mereka sudah terbiasa satu sama lain. Raka mengantar Shanum ke tokonya terlebih dahulu, barulah ia berangkat membuka tokonya sendiri. Di depan toko, seorang laki-laki seusia Raka sudah duduk menunggu. Dia Irwan, teman sekaligus karyawan yang mengajukan diri kepada Raka.
"Bro! Udah lama nunggu?" Raka menegur Irwan, bersemangat sekali kawannya itu.
"Nggak juga. Paling baru lima menit nunggu," jawabnya seraya ikut berdiri dan membantu Raka membuka toko.
"Gimana istri kamu? Udah sehat?" tanya Raka, pada saat itu dia tak tahu pergi ke mana. Tidak memiliki pekerjaan tetap, kebingungan mencari kerjaan. Beruntung bertemu dengan Raka yang memang membutuhkan karyawan.
"Alhamdulillah, Ka. Udah mendingan. Dia positif hamil, Ka, bukan sakit karena penyakit." Laki-laki itu tersenyum, kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya.
"Alhamdulillah, aku ikut seneng dengernya." Raka menimpali sambil berharap tak lama lagi istrinya pun akan mengabarkan hal tersebut.
Usaha yang digeluti Raka semakin berkembang, tapi ia belum berniat membuka cabang. Fokus pada tokonya yang sekarang saja dulu, memegang amanah dari sang istri sebagai penyalur modal di sana.
Berbeda dengan Raka, Shanum tiba di toko dan semuanya sudah rapi. Ia menyapa satu per satu karyawan di sana dengan ramah seperti biasanya. Duduk di kursinya memeriksa laporan yang menumpuk di atas meja.
"Alhamdulillah, pesanan semakin banyak. Semoga mereka nggak keteteran ngelayaninnya," gumam Shanum.
Ia beranjak dari kursi, berjalan memeriksa pesanan. Shanum tersenyum melihat mereka bahu membahu saling membantu.
"Kalian butuh tambahan orang nggak?" tanya Shanum pada mereka.
"Aman, Bu. Kami masih bisa mengatasi semua pesanan yang datang," sahut kepala di sana.
"Alhamdulillah kalo gitu. Nanti kalo kalian butuh tambahan orang bilang aja, ya. Aku cariin lagi," pinta Shanum diacungi jempol oleh mereka.
Ia keluar dan pergi ke toko kue kering di sampingnya, memeriksa stok yang ada, memilah dan memilih yang mana saja yang sudah tak layak konsumsi. Ia duduk di depan menunggu pelanggan, dan tiba-tiba saja menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Wati!" Shanum memanggil karyawannya.
"Iya, Bu."
"Di sini yang jual es cendol di mana, ya? Aku lagi pengen," tanya Shanum pada wanita itu.
"Oh, biasanya suka ada yang lewat, Bu. Coba Ibu tunggu aja. Kalo nggak di depan mal sana juga suka ada, tapi datangnya biasanya siang." Ia menunjuk mal di seberang toko kue Shanum.
"Oh. Makasih, ya. Kalo gitu aku tunggu aja," ucap Shanum sambil tersenyum.
Ia fokus kepada bangunan tinggi di seberang, memperhatikan setiap manusia yang keluar masuk gedung tersebut. Shanum tersenyum saat melihat seseorang yang dikenalnya keluar dari sana.
Shila dan Benny yang tampak mesra tak terlihat kesedihan di wajah wanita itu. Dia terlihat biasa saja dan bahagia.
"Dia keliatannya baik-baik aja, tapi kenapa kalo di depan Raka kayak yang nggak berdaya gitu. Perempuan serakah, ini mau itu mau." Shanum mencibirkan bibir, sungguh Shila perempuan yang tak tahu malu.
Lagi apa, yang?
Sebuah pesan dari Raka masuk, Shanum tersenyum manis membacanya.
Lagi pengen cendol, tapi belum datang.
"Mungkin lagi banyak pelanggan yang datang." Dia bergumam kembali fokus pada depan mal di mana akang cendol akan muncul.
Tin!
Suara klakson mengejutkannya. Di depan toko, Raka tersenyum padanya, laki-laki itu turun sambil menenteng kantong plastik di tangan. Shanum berdiri dan menyambut kedatangan suaminya dengan sumringah.
"Apa itu?"
"Katanya mau cendol, kebetulan ada yang lewat di depan toko. Jadi, aku beli aja. Ayo, makan sama-sama." Raka mengajak Shanum masuk ke dalam. Ia juga menumpahkan cendol tersebut ke dalam sebuah cup dan memberikannya kepada Shanum.
"Seger banget! Nggak beli buat karyawan sekalian?" ucap Shanum saat menikmati cendol tersebut.
"Tadi aku suruh ke sini si Abangnya. Bentar lagi juga datang." Siapapun yang melihat, mereka akan ikut merasakan kebahagiaan pasangan sederhana itu.
__ADS_1
Tak segan duduk di lantai, menikmati es cendol yang dibeli dari pedagang keliling. Beberapa saat kemudian, bunyi khas dari si Abang cendol terdengar. Shanum memanggil semua karyawannya untuk memesan.
Kebahagiaan tersendiri baginya melihat semua karyawan tersenyum bahagia.
"Gimana kabar istrinya Irwan?" tanya Shanum teringat pada karyawan Raka.
"Udah mendingan, katanya lagi hamil. Kamu kapan, ya?" celetuk Raka melirik perut istrinya.
"Udah, kamu tenang aja." Shanum menyahut santai.
Uhuk-uhuk!
"Beneran kamu?" Raka memekik sampai-sampai tersedak cendolnya mendengar jawaban sang istri.
"Biasa aja, Ka. Sampe keselek gitu. Ya, nggak tahu juga. Soalnya aku belum dapet bulan ini." Shanum menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.
"Ya udah, kita periksa aja. Kali aja bener." Raka memegangi kedua bahu sang istri, tak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
"Nanti tunggu tiga hari lagi aja buat mastiin, ya. Abis itu kita pergi ke bidan," ucap Shanum. Entah seperti apa perasaannya saat ini. Ada bahagia, haru, dan rasa cemas bercampur jadi satu.
"Ya udah." Raka terlihat tak sabar, air mukanya berubah lebih cerah dan berbinar.
"Oya, kalo Irwan mau istrinya diajak kerja di situ juga nggak apa-apa kali, ya." Shanum berpendapat mengingat Irwan yang hanya seorang diri.
"Ya, nanti aku coba omongin sama dia." Raka menghabiskan cendolnya, kemudian berpamitan setelah membayar cendol tersebut kembali ke tokonya.
Shanum mengusap perutnya sendiri, berharap si jabang bayi akan segera hadir mengisi hari-hari mereka.
"Kalo emang beneran jadi mamah sama papah pasti seneng banget," gumamnya sambil membayangkan kedua orang tua yang begitu menantikan seorang bayi.
Shanum kembali fokus ketika para pelanggan berdatangan ke toko. Baik ke toko kue maupun ke toko kue kering. Shanum tersenyum manis dan ramah ketika mereka mendatangi dirinya. Membayar dan berterimakasih atas kunjungan mereka.
Di kejauhan satu sosok memperhatikan dengan senyum manis mengalahkan manisnya madu. Ada lesung pipi di kedua sisi wajahnya, menambah kesan manis pada paras tersebut.
Ia berjalan pelan mendekati toko Shanum, berniat memberi wanita itu kejutan.
__ADS_1
Sosok tersebut berdiri di dekat etalase, sepertinya Shanum belum menyadari kehadirannya.
"Shanum?"