
Shanum merenung seorang diri, acara memasak yang sempat membuatnya bersemangat terus saja menguap. Curahan hati Rosa amat mengganggu pikirannya.
Ck!
Shanum berdecak, kesal sendiri sebab tak juga mendapatkan ketenangan. Berkali-kali mengalihkan pikiran, tetap saja sosok Rosa yang sempat menangis di hadapannya enggan enyah dari sana.
"Dia sama kayak aku dan Raka, cuma beda cerita aja." Shanum menggigit bibir, kisah yang diceritakan Rosa benar-benar mengganggunya.
"Gosip itu bener, ya. Bikin cemas aja." Shanum menghela napas, teringat pada pernikahannya sendiri yang terkesan terpaksa.
****
"Aku sama suamiku itu dijodohin sama orang tua kita. Posisi suami masih punya pacar dan mereka juga udah ada rencana mau nikah, tapi gagal karena paksaan dari orang tuanya."
Kisah Rosa menuangkan curahan hatinya dengan suara yang parau dan bergetar. Shanum meringis, hampir serupa dengannya hanya beda jalan cerita.
"Kamu tahu, Shanum? Sampe sekarang suami aku masih berhubungan sama pacarnya itu. Mereka sering pergi bahkan, dia nggak pernah anggap aku istrinya." Rosa mulai terisak.
Shanum yang mendengar jadi penasaran dengan hubungan suami istri itu.
"Terus hubungan kamu sama suami gimana? Mm ... maksudku, suami istri. Kamu paham, 'kan?" tanya Shanum hati-hati.
Rosa mengangguk pelan, dia mengerti yang dipertanyakan Shanum. Wanita menyedihkan itu menghela napas, teringat pada hubungan ranjangnya dengan sang suami.
"Tetap berjalan. Kalo urusan ranjang kami kayak suami istri biasa, tapi kalo yang lain kita selalu masing-masing." Rosa menggelengkan kepala, menutup wajah dan menangis tersedu-sedu.
Shanum merasa iba padanya, mendekat dan mengusap-usap punggung wanita itu.
"Yang sabar, ya. Ini ujian buat rumah tangga kamu. Setiap rumah tangga pasti ada ujiannya yang berbeda-beda. Yang kelihatannya bahagia, kita nggak tahu seperti apa kehidupan mereka yang sebenarnya. Sabar aja, Allah nggak akan tinggal diam." Shanum menasihati, bukan hanya Rosa terutama untuk dirinya sendiri.
"Tapi aku nggak kuat, shanum. Kalo terus kayak gini, aku nggak akan pernah nemu bahagia. Aku juga mau bahagia sama kayak yang lain." Rosa melabuhkan diri pada pelukan Shanum.
Sebagai sesama wanita, Shanum mengerti perasaan Rosa.
"Kamu udah coba ngomong sama orang tua kalian?" tanya Shanum mengingat yang dialami Rosa bukanlah masalah biasa.
__ADS_1
Dia menggelengkan kepala, tak ada keberanian untuk mengadukan sikap dan tingkah laku suaminya kepada orang tua mereka.
"Aku nggak berani. Aku nggak berani bilang sama mereka, Shanum. Aku takut mereka sedih, aku takut mereka kecewa sama suami aku. Aku nggak berani." Rosa menggelengkan kepala lagi, menangis tersedu-sedu.
Shanum merasa perih, sungguh tak dapat membayangkan bila ia berada di posisi Rosa.
"Harusnya kami bilang sama mereka. Nggak perlu takut. Kamu harus pikirkan dirimu sendiri. Kamu juga pantas bahagia," ucap Shanum sembari mengangkat tubuh Rosa dari pelukannya.
Wanita itu mengangkat wajahnya yang basah dan memerah. Menatap Shanum yang sudah memberikan bahu untuknya bersandar.
"Kamu nggak boleh diem aja, Rosa. Kalo kamu rasa pernikahan kalian itu nggak ada kebaikannya, apa salahnya diomongin sama orang tua. Mungkin aja mereka punya solusi, mereka punya jalan terbaiknya. Orang tua selalu bijak dalam menghadapi masalah yang dialami anak-anaknya. Coba kamu ngomong baik-baik sama mereka."
Shanum mencoba berbicara kembali, berharap Rosa akan memberanikan diri untuk berbicara kepada orang tua mereka.
"Mungkin sekarang nggak, Shanum, tapi nggak tahu kapan. Kalo kelakuannya nggak berubah juga aku mau ngomong sama mereka." Rosa tersenyum, ia menghapus air matanya.
Itulah perempuan, setelah berbicara dari hati ke hati, rasanya sedikit lega.
"Makasih, ya. Kamu udah mau dengerin aku, dan juga udah mau jadi teman aku. Aku mau pulang dulu. Kapan-kapan aku boleh, 'kan, main ke sini lagi?" ucap Rosa sambil berharap.
****
Shanum menghela napas, mengingat obrolannya dengan Rosa. Dia begitu pandai menasihati orang lain, tapi masih kalah oleh prasangkanya sendiri.
Ia tersadar saat mencium aroma masakan. Buru-buru Shanum membuka tutup panci memeriksa ikan di dalamnya. Ia membungkus makan siang sedikit banyak. Lalu, bersiap-siap pergi ke toko Raka.
Shanum sengaja memesan ojek online karena Raka membawa mobil mereka. Dengan senyum manis tersemat di bibir, ia mendekap kotak bekal tersebut. Shanum berhenti sedikit jauh dari toko Raka, membayar ongkos dan berjalan perlahan menuju toko.
Ia tersenyum saat melihat Irwan dan Doni begitu ramah melayani pembeli. Beberapa saat menunggu sampai para pembeli berkurang dan akhirnya sepi. Barulah Shanum mendekati toko suaminya.
"Assalamu'alaikum!"
Doni dan Irwan mendongak, tercengang melihat kedatangan Shanum.
"Wa'alaikumussalaam! Shanum?" Mereka seperti terkejut melihat Shanum ada di sana.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Raka ada, 'kan? Aku bawa makan siang, ada buat kalian juga." Shanum mengangkat rantang ke atas.
Tersenyum lebar kedua pegawai Raka itu. Kebetulan mereka sudah lapar karena sudah waktunya makan siang.
"Wah, kebetulan. Ibu Bos pengertian banget. Sering-sering kayak gini, deh." Doni membuka pintu membiarkan Shanum masuk.
Mengernyit dahi wanita itu saat tak mendapati Raka di dalam sana.
"Ke mana Raka?" tanya Shanum membuat kedua laki-laki itu saling menatap satu sama lain.
"Tadi pamit keluar. Katanya mau ketemuan sama pelanggan baru." Irwan menjawab sambil membersihkan tempat untuk mereka duduk.
"Dia emang sering kayak gini? Mmm ... pergi-pergi kayak gini, gitu?" tanya Shanum sambil menyerahkan makan siang untuk mereka.
"Nggak sering juga, sih. Kalo ada pelanggan yang ngajak ketemuan di luar aja dia pergi. Kalo nggak, ya tetap di toko," jawab Irwan sambil membuka rantang yang diberikan Shanum.
"Wah ... pepes ikan!" seru mereka antusias.
Shanum tersenyum meski dalam hati merasa tak nyaman. Ia memilih berdiri untuk melayani pelanggan dan membiarkan mereka makan siang terlebih dahulu.
"Emangnya ada, ya, pelanggan yang minta ketemuan? Biasanya, 'kan, langsung datang aja ke toko biar bisa langsung lihat barangnya," tanya Shanum lagi tak habis pikir dengan sistem yang diterapkan Raka.
"Nggak tahu, Sha. Soalnya Raka bilang pelanggan itu biasanya ngomongin harga dulu. Deal-dealan dulu gitu, katanya. Baru abis itu lihat barang." Irwan menyahut dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Aneh." Shanum bergumam. Toko Raka bukanlah agen, hanya toko biasa dengan barang-barang yang hampir lengkap.
Shanum memeriksa ruangan dibalik pintu, gudang tempat penyimpanan stok barang-barang di toko.
"Kalian belum ada belanja lagi?" tanya Shanum dari dalam sana.
"Udah pesan, tapi barangnya belum datang. Senin baru datang."
Shanum membulatkan bibir, kembali keluar setelah memeriksa penyimpanan.
"Kalian nggak nyembunyiin sesuatu dari aku, 'kan?" Shanum menatap mereka curiga.
__ADS_1