Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 42


__ADS_3

Shanum mengamankan kotak hadiah itu agar Raka tak pernah melihatnya. Ia duduk bersama Lia di teras rumah menunggu kedatangan laki-laki itu. Beberapa saat berbincang, deru mobil Raka memasuki halaman.


Shanum menyambut dengan antusias, seolah-olah tak ada apapun yang terjadi. Setelahnya, Lia berpamitan pulang dan berjanji akan datang esok hari.


****


"Aku ada janji sama Lia hari ini. Jadi, aku nggak pergi ke toko. Nggak apa-apa, 'kan?" ucap Shanum sesaat mereka usai menyantap sarapan pagi.


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting kalian hati-hati. Ingat, ada janin di rahim kamu. Aku nggak mau kalian sampe kenapa-napa," sahut Raka sambil mengusap kepala sang istri.


Shanum beranjak mengikuti Raka ke teras, mengantar suaminya yang akan pergi ke toko. Ia duduk di teras menunggu kedatangan Lia dengan segala persiapan yang sudah dipastikan.


Tepat pukul sembilan pagi, motor Lia tiba di rumah Shanum. Gadis itu meminta izin kepada atasannya untuk tidak masuk kerja pada hari itu.


"Gimana? Udah siap semua? Jangan sampe ada yang salah." Lia mengingatkan.


"Kamu tenang aja, semuanya udah beres. Kita tinggal pergi aja. Mau sarapan dulu? Udah sarapan belum?" tawar Shanum khawatir sahabatnya itu belum mengganjal perut.


"Udah. Kamu tahu sendiri ibu aku kayak gimana." Lia tersenyum getir, membayangkan betapa cerewetnya sang ibu masalah sarapan.


Shanum mengangguk tahu betul besarnya kasih sayang ibu sahabatnya itu.


"Jam berapa kita mau berangkat?" tanya Lia sambil menyeruput jus yang dibuatkan Shanum.


"Bentar, agak siangan aja. Kamu tahu di mana dia?" Shanum balik bertanya pasalnya dia tak tahu keberadaan Shila.


"Dia sering nongkrong sama gangnya di cafe deket kantor aku kalo siang. Nanti kita coba ke sana," jawab Lia.


Shanum manggut-manggut tak sabar menunggu waktu berlalu yang terasa begitu lambat.


****


"Kamu yakin mereka pasti akan ke sini?" tanya Shanum sesampainya mereka di cafe yang dimaksud Lia.


"Iya, aku sering lihat mereka nongkrong di sini. Shila suka sama cowok, aku yakin dia itu pacarnya." Ekspresi wajah Lia meyakinkan Shanum.


Mereka menunggu di warung depan, tersembunyi dan tak terlihat. Dengan leluasa dapat melihat keadaan cafe yang selalu didatangi para remaja.


"Nah itu! Tapi kenapa Shila nggak ikut masuk?" Lia menunjuk Shila yang kembali berbalik saat hendak memasuki cafe tersebut. Dia terlihat menelpon seseorang, entah siapa? Mungkin pacarnya.


"Mungkin dia nungguin pacarnya," jawab Shanum menebak.


"Eh? Dia beneran nggak masuk, malah naik ojek. Mau ikutin?" Lia memekik dan sigap berdiri.


Shanum ikut berdiri, membayar es teh yang mereka beli dan pergi menaiki motor Lia, membuntuti Shila. Entah ke mana perempuan akan pergi?


"Mau ke mana dia?" tanya Lia.

__ADS_1


"Kayaknya mau ke taman, deh. Coba aja terus ikutin. Ini jalan ke taman kota," jawab Shanum hafal betul dengan jalan yang dilalui oleh Shila.


Benar saja, motor yang dinaiki Shila berhenti di pinggir taman. Gadis itu turun dengan senyum sumringah di bibir. Jelas kebahagiaan terlihat di wajahnya. Dengan siapa dia akan bertemu?


"Mau ketemuan sama siapa dia?" Shanum bergumam, jantungnya berdebar tiba-tiba. Ada rasa cemas menelusup ke dalam relung jiwa, membuatnya seketika gelisah.


Shanum dan Lia membuntuti Shila dalam jarak yang aman. Keduanya akan bersembunyi saat Shila menyadari keberadaan mereka dan menoleh ke belakang. Shila pergi mendekati sebuah bangku taman yang jauh dari keramaian. Ia duduk sendiri, entah menunggu siapa.


"Mungkin dia lagi nggak nungguin siapa-siapa. Kita ke sana sekarang," ajak Shanum tak sabar.


"Nanti dulu! Tunggu beberapa menit lagi, kalo nggak ada yang datang kita ke sana," cegah Lia sambil memegangi tangan Shanum agar tidak pergi ke tempat Shila.


"Tapi nggak ada orang di sini, Lia." Shanum menunjuk ke segala arah, memang tak ada siapapun di sekitar bangku itu. Sepertinya bangku itu jarang dikunjungi orang-orang.


"Nanti dulu. Aku masih penasaran, mau ketemu siapa dia di tempat sepi kayak gini." Lia tetap menolak, dan pegangannya semakin kuat pada lengan Shanum.


Istri Raka itu mendengus, melipat kedua tangan di perut hingga bulatannya menyembul jelas. Keduanya menunggu untuk sesuatu yang tidak jelas. Sampai kedatangan seseorang, membuat Shila bangkit.


Seseorang yang bersembunyi dibalik sebuah masker juga kacamata hitam dengan kepala ditutup hoodie. Misterius.


"Siapa dia?" Lia bergumam membuat Shanum ikut menoleh.


Alisnya saling bertaut satu sama lain, mencoba menelisik sosok tersembunyi tersebut. Kedua mata Shanum membelalak, sebuah rasa sakit tiba-tiba menghantam dada. Rasa tak percaya jika sosok tersebut adalah orang yang dikenalnya.


Shanum mematung dengan napas tertahan, wajahnya berubah pucat, mata yang memanas perlahan mengembun. Bibirnya bergetar menggumamkan satu nama yang hanya terdetik dalam hati. Ocehan Lia tak didengarnya, sibuk dengan rasa tak percaya yang memenuhi pikiran.


Ia terperanjat disaat Shila memeluk sosok tersebut dengan manja dan genit, tapi yang aneh sosok itu segera mendorong tubuh Shila dengan kuat dan kasar seolah-olah tak senang dia melakukan itu.


"Astaghfirullah, perempuan murahan itu benar-benar nggak tahu malu. Ini di tempat umum, tapi dia main nyosor aja," umpat Lia menatap jijik pada Shila, "eh, tapi kayanya yang datang itu nggak suka, deh." Lia melanjutkan celotehnya meski tak ditanggapi Shanum.


"Sha! Kamu denger nggak?" Lia menoleh ke tempat Shanum, tapi wanita itu sudah tidak ada di tempat.


"Sha! Shanum!" Panggilan Lia membuat kedua manusia di dekat bangku itu menoleh.


Sosok misterius itu tampak terkejut, dia menatap ke arah Lia. Akan tetapi, sebuah tamparan cukup keras tiba-tiba mendarat di pipinya hingga kacamata yang dia kenakan terbang dan jatuh.


"Raka?" Lia tak percaya dan Shanum sudah berada di sana.


Wanita itu berdiri dengan napas memburu, tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk mereka berdua, Shanum berbalik dan pergi meninggalkan taman. Tangannya mengusap air yang jatuh meski sekuat tenaga ditahannya. Tetap saja, hati Shanum merasa sakit.


"Sha!" panggil Lia lirih.


"Shanum! Tunggu, Sha!" Raka ikut memanggil, dia mengajar istrinya, tapi Shanum tetap melangkah pergi.


"Raka! Raka!" Shila tidak terima Raka meninggalkannya begitu saja. Ia ingin mengejar, tapi Lia menghalangi.


"Mau ke mana kamu? Dasar pelakor!"

__ADS_1


Plak!


Satu tamparan sangat keras dilayangkan Lia ke wajah Shila. Setelahnya, dia pergi meninggalkan wanita itu mengejar Shanum.


"Shanum!" Raka masih memanggil istrinya, tangan yang hendak menggapai Shanum terhenti saat sebuah cekalan menariknya.


"Kamu jahat, Ka. Nggak usah kejar Shanum, pergi aja sama perempuan gatel itu. Shanum nggak pantes buat laki-laki yang nggak tahu terima kasih kayak kamu!" sengit Lia seraya menyusul Shanum.


Raka mematung, menangis dalam penyesalan. Dia sudah berjanji tak akan pernah lagi menemui Shila, tapi kenyataannya ....


"Maafin aku, Sha. Ini nggak seperti yang kamu lihat," lirihnya pelan.


Shanum tak mengindahkan panggilan siapapun, dia terus pergi dan menaiki sebuah ojek. Entah ke mana dia pergi. Lia berbalik ke arah Raka karena tak dapat menghentikan Shanum. Tatapan matanya tajam dan mengancam, menambah rasa sesal di hati Raka. Lia berlari dan pergi menaiki motornya.


"Shanum!" Raka terhenyak, cepat-cepat berlari meninggalkan taman. Tak peduli panggilan Shila, dia segera masuk ke dalam mobil melaju dengan cepat menuju rumah.


"Kurang ajar!" Shila mengumpat sambil memegangi pipinya.


****


Raka tiba di rumahnya, dia melihat Lia yang juga baru turun dari motor. Tak peduli pada sahabat istrinya itu, Raka mendahului dan membuka pintu. Terkunci, itu artinya Shanum tidak kembali ke rumah.


"Kenapa kamu balik lagi?" tanya Lia ketus.


"Dia nggak pulang ke rumah." Raka menjawab dengan napas terengah.


"Ini semua gara-gara kamu. Aku harap kamu nggak akan pernah ketemu lagi sama Shanum. Kamu jahat, Raka. Kamu udah khianatin sahabat aku!" jerit Lia menghentikan langkah Raka.


Gegas gadis itu menaiki motornya dan pergi dengan cepat. Raka tak mau kalah, masuk ke mobil mencari Shanum ke rumah orang tuanya. Sayang, rumah mereka pun sepi. Ke mana Shanum?


Raka meraung sendirian, menyesal sedalam-dalamnya.


"Raka! Ojek yang bawa Shanum kecelakaan!"


****


Apakah Shanum menjadi korban kecelakaan itu?


Akankah Raka bertemu kembali dengan Shanum?


Ke mana sebenarnya Shanum pergi?


Untuk apa Raka bertemu dengan Shila?


Temukan jawabannya di Shanum season dua.


\=Tamat\=

__ADS_1


__ADS_2