
Hari-hari berlalu seperti biasa, setelah kejadian itu mereka lebih berhati-hati terhadap oknum yang ingin merusak hubungan mereka. Di pagi itu, Shanum tidak pergi ke toko.
Ia membereskan rumah dan segala perabotannya. Mencuci piring juga pakaian milik mereka. Usai memasukkan semua pakaian kotor ke dalam mesin pencuci, Shanum berniat pergi, tapi sesuatu yang teronggok di lantai menghentikan langkahnya.
Shanum memungut secarik kertas itu, membukanya untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Alis Shanum bertaut ketika mendapati bahwa itu adalah struk belanja.
"Raka beli ini semua buat siapa?" Shanum berpikir, mengingat-ingat siapa saja saudara Raka.
"Aku nggak inget dia punya saudara perempuan dan kalo pun ada mereka punya orang tua." Shanum meremas kertas tersebut, dia akan menyimpannya sendiri.
"Tanyakan? Jangan? Tanyakan? Jangan?" Shanum menimbang sambil keluar dari tempat pencucian.
Lalu, menjatuhkan bokong di atas sofa ruang depan rumah. Ia bermenung memikirkan langkah apa yang akan dia ambil. Pergerakan dari dalam perutnya menyita perhatian. Memang masih lemah terasa, tapi tetap saja membuat Shanum bahagia.
"Apa kita cari tahu sendiri aja, ya. Mamah jadi curiga sama papah kamu." Shanum berbicara dengan anaknya.
Beberapa saat terdiam, terbersit di dalam pikirannya untuk mengantarkan makan siang ke toko Raka.
"Bener, kita bawain papah kamu makan siang." Shanum tersenyum sumringah, ia kembali bersemangat dengan rencananya.
"Sayuuuurrrr!" Suara tukang sayur terdengar diikuti desas-desus para ibu rumah tangga yang berbelanja.
Shanum mengantungi kertas tersebut dan beranjak keluar untuk berbelanja berapa sayur. Ia mengenakan dress rumahan dengan rambut disanggul ala kadarnya. Tetap saja tidak dapat melunturkan kecantikan alaminya meskipun wajah itu tak dipoles make-up.
"Eh, Neng Shanum. Belanja? Neng nggak ke toko?" tanya salah satu tetangga dengan ramah.
"Nggak, Bu. Lagi pengen di rumah aja, beberes." Shanum tersenyum, untuk kemudian ikut memilih sayuran bersama para tetangga yang ramah.
"Eh, dengar-dengar si Rosa itu suaminya katanya selingkuh, ya. Bener nggak tuh?" Acara bergosip dimulai. Biasanya Shanum tak ingin mendengar, tapi mendengar nama Rosa, tetangga baru yang juga pengantin baru ia jadi tertarik.
"Masa, sih? Mereka itu, 'kan, pengantin baru. Neng Rosa juga lumayan cantik, masa suaminya selingkuh?" Yang lain menimpali.
"Iya, Bu. Katanya neng Rosa nemuin struk apa gitu, isinya belanjaan perempuan semua. Padahal saudara suaminya itu laki-laki semua. Ibunya juga udah tua."
Shanum tertegun mendengar itu, ia baru saja menemukan struk belanja sebuah mini market di lantai tempat pencucian. Beberapa bersisi keperluan perempuan, beberapa berisi keperluan laki-laki.
__ADS_1
"Ah, kalo cuma itu, 'kan, belum tentu selingkuh, Bu. Siapa tahu ada teman kantornya yang nitip. 'Kan, bisa aja. Harusnya jangan su'udzon dulu. Mending ditanyakan langsung aja sama yang punya. Bener nggak, Neng?" Tukang sayur menoleh pada Shanum yang tepat berada di sisinya.
Istri Raka itu tersadar dari lamunan, dan terus tersenyum kemudian mengangguk kecil.
"Tapi, ya, semalam aku denger mereka cekcok. Istrinya itu lagi-lagi nemuin kertas aneh. Itu katanya pembayaran di hotel gitu. Atau apalah saya nggak ngerti."
Shanum kembali termenung, mendalami apa yang para tetangga itu gosipkan.
"Waduh kalo udah gitu, sih, beneran selingkuh." Gosip semakin menjadi, dan berhenti ketika seseorang memberitahukan kedatangan orang yang mereka gosipkan.
"Pak, saya udah. Dihitung, ya." Shanum menumpuk belanjaan dan meminta dihitung si Abang.
"Semuanya, lima puluh enam ribu, Neng." Shanum membayar untuk kemudian segera pulang ke rumah.
"Saya duluan, ya, Ibu-ibu!" pamitnya sopan.
"Ya, Neng!"
Baru beberapa langkah, suara teguran salah satu ibu menyita kaki Shanum.
"Neng Rosa kenapa? Kok, mukanya pucet gitu? Sakit?"
Ia membanting diri di sofa, menghela napas, mewaraskan mentalnya. Jangan sampai termakan obrolan ibu-ibu tadi. Shanum meneguk ludah, teringat pada secarik kertas yang ia temukan.
"Nggak mungkin, 'kan, Raka selingkuh? Ya Allah!" Terngiang kembali ucapan si Tukang Sayur, bahwa sebaiknya ditanyakan lebih dulu kepada orang yang bersangkutan.
"Aku nggak mau nanya-nanya. Males, nanti malah jadi salah faham. Ya udah lah, aku yakin Raka nggak kayak gitu." Shanum menghela napas, beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang akan dibawanya ke toko Raka.
Shanum membersihkan ikan yang dibelinya, hari itu dia akan membuat pepes ikan kesukaan Raka, lalapan juga sambal tentu saja. Ketukan di pintu depan menyita perhatian Shanum.
Istri Raka itu beranjak dari dapur, tak lupa membersihkan tangannya terlebih dahulu.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
Suara lirih seorang perempuan mengucapkan salam membuat Shanum mempercepat langkahnya.
"Wa'alaikumussalaam. Ya, sebentar!" Shanum mengencangkan suaranya.
Ia membuka pintu dan terkejut saat melihat seseorang yang digosipkan ibu-ibu tadi di tukang sayur.
"Maaf, ada keperluan apa?" tanya Shanum dengan sopan.
"Boleh saya masuk?" pinta wanita tadi penuh harap.
Shanum tertegun, di dalam hati bertanya-tanya apa yang akan dilakukan wanita itu di rumahnya. Ia menelisik wanita di depannya dari atas hingga bawah. Tatapan matanya yang sendu membuat Shanum tak tega.
Ia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan wanita tadi untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa.
"Sebentar, aku bikinin teh anget." Shanum pergi ke dapur untuk membuatkannya teh hangat. Sambil sesekali melirik, mengintip apa yang dilakukan wanita itu.
Shanum meletakkan cangkir di atas nampan bersama satu kaleng biskuit untuk teman minum teh.
"Silahkan. Diminum dulu," ucap Shanum dengan sopan.
"Makasih, ya." Wanita bernama Rosa mengambil cangkir dan menyeruputnya sedikit.
Shanum menelisik kembali wajah sembab itu, ada jejak tangisan di sana. Akan tetapi, walaupun benar yang dibicarakan ibu-ibu tadi, itu semua bukanlah urusannya.
"Ada apa ke sini? Maaf, bukan apa-apa karena nggak biasanya aja kamu datang ke rumah aku?" tanya Shanum yang tidak menutupi keheranannya.
Wanita bernama Rosa itu meletakkan cangkir teh di atas meja. Terlihat ragu dengan keputusannya datang ke rumah Shanum.
"Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba aku pengen ke rumah kamu? Mungkin karena kita seumuran dan aku butuh teman di sini," jawab wanita tadi dengan suara yang sedikit parau.
Shanum menghela napas, membayangkan ketika dirinya baru pertama kali datang di komplek itu. Tak satu pun yang dikenalnya, tapi ia beradaptasi dengan para tetangga sehingga dengan mudah bergaul.
"Yah. Nggak apa-apa, sih, kalo mau berteman. Ngomong-ngomong kamu bener-bener baru, ya, di komplek ini?" tanya Shanum.
Rosa menganggukkan kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, baru seminggu. Diajak pindah sama suami. Kita boleh temenan, 'kan? Nama saya Rosa." Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Shanum.
"Shanum." Mereka berjabat dan hari itu menjadi teman.