
"Raka!" Shanum menjerit, kemudian menyambar kunci motor bergegas menyusul suaminya.
"Bu, hati-hati!" Teriakan Wati nyaris tak terdengar karena tertelan angin.
Shanum melaju dengan cepat, tapi tak secepat Raka yang melesat bagai angin. Ia tertinggal dan kehilangan jejak Raka, tapi dia tahu ke mana suaminya itu pergi.
Sementara Raka, membawa motor seperti orang yang kerasukan. Menyalip kendaraan di depannya, menekan klakson tiada henti. Ia mengerem sekaligus saat tiba di depan toko sampai terdengar bunyi ban yang bergesekan dengan aspal.
"Hah, sial!" umpat Raka sambil membanting kunci motor ke sembarang arah.
Doni dan Irwan saling menatap satu sama lain, bingung dengan sikap Raka yang tiba-tiba meraung keras dan memukul-mukul meja dengan kesal.
"Raka? Kenapa kamu?" Irwan memberanikan diri menegur sahabat sekaligus atasannya itu.
Raka menunduk dengan kedua tangan terkepal di atas meja. Napasnya memburu berat, peluh bercucuran hingga menghujani meja. Entah, apakah itu air mata?
"Ka, kalo ada masalah kamu bisa cerita sama kita. Jangan dipendam sendirian aja," ucap Irwan lagi merayu.
Namun, Raka bergeming, tidak menanggapi sama sekali. Hanya kepalan tangannya saja yang terlihat semakin erat hingga urat-uratnya menonjol.
Tak berselang lama, motor Shanum tiba di depan toko Raka. Wanita itu terlihat panik, berjalan tergesa memasuki toko.
"Raka, pulang sekarang. Kita harus bicarakan ini di rumah," pinta Shanum dengan pelan.
Raka tetap bergeming pada posisinya yang menunduk, belum ingin menanggapi ucapan siapapun.
Shanum berdecak, semakin mendekati suaminya bahkan, duduk di samping Raka. Ia mengusap bahu laki-laki itu, mencoba berbicara dengan hati.
"Jangan kayak gini. Kita pulang dulu, ya. Kita bicarakan baik-baik di rumah. Aku sama sekali nggak ngerti sama yang kamu omongin tadi. Pulang dulu, ya. Nggak enak kalo di sini, akan ada banyak orang yang lihat." Suara Shanum begitu lembut nyaris seperti bisikan.
__ADS_1
Ia melirik tangan Raka yang mengepal, perlahan menggenggamnya dan mengurai kepalan tangan itu. Menautkan jemari mereka berharap Raka akan sedikit mengendurkan amarahnya.
Sikap lembut wanita itu akhirnya meruntuhkan batu di dalam hati Raka. Perlahan kepalan tangannya terurai, diikuti tarikan napasnya yang panjang. Dibalasnya genggaman tangan Shanum, dia harus tenang.
"Yuk!" katanya seraya beranjak. Shanum tersenyum ikut berdiri dari kursi untuk pulang ke rumah.
"Aku pulang duluan, ya. Titip toko, kalo mau tutup nanti tutup aja nggak usah nungguin aku. Aku nggak akan balik lagi ke sini," pamit Raka pada kedua pekerjanya.
"Sekalian aku titip motor itu, ya. Tolong anterin ke toko," timpal Shanum sambil memberikan kunci motor milik toko kepada Irwan.
"Siap, Bos!"
Shanum dan Raka pergi sambil bergandengan tangan keluar dan masuk ke dalam mobil. Sekejap saja hati mereka menghangat ketika tangan saling bertaut satu sama lain.
"Jangan pulang, ya. Mending ke restoran buat makan siang. Kamu juga pasti belum makan, 'kan?" ucap Raka memutar haluan.
Mereka memilih tempat privasi agar obrolan tak terdengar oleh pengunjung lain. Duduk berhadapan dengan masing-masing segelas jus di depan mereka.
"Sini, Sha! Duduk samping aku," pinta Raka sambil menepuk ruang kosong di sampingnya.
Dengan senang hati, Shanum beranjak dan duduk di samping suaminya. Menyandarkan kepala pada bahu Raka, mengurai emosi yang sempat membuat mereka adu mulut. Raka mengaitkan jemari mereka, sebelah tangannya yang lain merangkul bahu wanita itu.
"Kamu dapat dari mana kalo aku ketemuan sama laki-laki? Siapa yang bilang itu sama kamu?" tanya Shanum mengawali bahasan.
Raka menghela napas, melepas tautan jemari mereka untuk mengambil ponsel di saku celana. Ia membuka pesan dari nomor asing dan menunjukkannya kepada Shanum.
"Ada yang kirim foto itu sama aku, tapi nggak tahu siapa." Raka melirik istrinya.
Shanum menegakkan tubuh, menelisik tiga gambar dalam ponsel suaminya. Shanum terkekeh, seseorang berniat menghancurkan hubungan mereka.
__ADS_1
"Kamu jangan terkecoh, Ka. Gambar ini diambil sebelum aku telpon kamu. Kamu inget tadi aku bilang apa di telpon?" Shanum menoleh pada suaminya.
Raka mengernyit, mengingat-ingat apa yang diucapkan Shanum di telpon tadi.
"Kamu bilang lihat aku di jalan."
Shanum menganggukkan kepala. Ia menghela napas, foto tersebut benar-benar menjadi sebuah fitnah untuk rumah tangga mereka.
"Aku mau ke toko cabang tadi buat meriksa laporan, tapi di tengah jalan aku kayak lihat kamu gandengan tangan sama perempuan. Aku turun buat mastiin, karena syok sampe nggak sadar ada mobil yang mau nabrak aku pas nyebrang. Untung aja nggak ketabrak. Laki-laki di foto ini yang hampir nabrak aku, dia juga yang nolongin aku. Dan ini benar-benar fitnah, di sini harusnya ada calon istri dari laki-laki ini." Shanum menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan orang yang ingin mengadu domba mereka.
"Coba kamu lihat baik-baik. Ini ada potongan baju, ini milik wanita calon istri laki-laki itu. Emang dasar ada yang mengadu domba kita, dia ingin hubungan kita rusak dan rumah tangga kita berantakan. Kamu nggak boleh gegabah." Shanum menunjukkan ponsel tersebut kepada Raka, sekaligus memperingatkan Raka agar tidak terkecoh oleh permainan orang tersebut.
Raka menelisik gambar tersebut, sekarang dapat dengan jelas dia lihat gambar potongan pakaian milik seseorang. Manggut-manggut kepala Raka, menghela napas kemudian. Betapa mudah dirinya diadu domba.
Ia mengangkat pandangan, menatap wajah Shanum yang tampak cantik seperti biasanya. Raka memeluknya, mengecup dahi wanita itu dengan mesra.
"Maaf, ya. Aku udah salah faham, udah marah tadi sama kamu. Untung kamu nggak balik marah. Coba kalo kamu marah juga, salah faham kita pasti akan panjang. Makasih, ya." Raka memeluk Shanum dengan erat. Merasa beruntung beristrikan wanita itu.
"Ya, kalo aku sama-sama keras, kita pasti salah faham terus. Makanya kalo ada masalah mending diomongin baik-baik supaya nggak berkepanjangan." Shanum membalas pelukan suaminya. Bersyukur masih dapat menyelesaikan masalah yang datang dengan baik.
Pintu ruangan diketuk, seorang pramusaji mendorong troli membawakan pesanan Raka dan Shanum. Keduanya menikmati makanan tersebut penuh kebahagiaan. Masalah yang terjadi di dalam rumah tangga mereka, menjadikan hubungan mereka semakin menguat dan harmonis.
"Mau ke mana kita abis ini?" tanya Raka usai menikmati santap siang mereka.
"Mmm ... ke mana aja asal berdua sama kamu," sahut Shanum dengan manja.
"Kita ke pasar malam, yuk! Ada banyak permainan katanya di sana."
Shanum mengangguk, keduanya pergi meninggalkan restoran menuju tempat selanjutnya. Kebahagiaan jelas memancar dari kedua pasang mata suami istri itu.
__ADS_1