Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 33


__ADS_3

Raka tiba di rumah dan bergegas keluar dari mobil. Berlari menuju teras, tapi saat hendak membuka pintu ternyata pintu tersebut dikunci.


"Shanum! Shanum, kamu ada di dalam? Buka, Sha!" teriak Raka sambil menggedor-gedor pintu rumah.


"Shanum! Shanum!" Raka memanggil-manggil istrinya, tapi tetap tak ada sahutan. Ia berjalan menuju jendela kamar, tertutup tidak seperti biasanya.


"Shanum nggak ada di rumah. Apa dia ke rumah mamah?" Raka bergumam cemas saat menyadari rumahnya ternyata kosong.


Untuk memastikan, Raka mengeluarkan kunci cadangan rumah yang dibawanya. Ia menggeledah setiap sudut rumah, mencari keberadaan sang istri. Kosong, Shanum benar-benar tidak di rumah.


"Ke mana Shanum? Apa dia benar-benar pergi ke rumah mamah?" Raka terlihat kesal sekaligus cemas. Bagaimana jika dia mengadu kepada orang tua mereka soal kelakuannya.


"Nggak! Ini nggak bisa dibiarin!" Raka bergegas keluar, mengunci kembali pintu rumah mereka dan masuk ke dalam mobil dengan segera.


Dia akan pergi ke rumah mertuanya untuk mencari keberadaan Shanum. Dengan perasaan yang tak menentu, gelisah juga diiringi rasa takut, Raka melaju di jalanan yang mulai dipadati kendaraan oleh orang-orang yang kembali dari pekerjaan.


Jantung Raka berdentam-dentam tak karuan ketika jalanan menuju komplek sang mertua sudah terlihat. Mobil Raka menepi dengan pelan begitu tiba di depan gerbang rumah megah itu.

__ADS_1


"Silahkan, Den!" Penjaga gerbang yang sudah mengenali menantu keluarga tersebut pun mempersilahkan Raka untuk masuk ke halaman.


"Makasih, Pak."


Penjaga gerbang yang ramah itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Raka keluar dan menemui laki-laki paruh baya yang sudah kembali ke tempatnya.


"Pak, maaf. Apa Shanum ada pulang ke rumah ini?" tanya Raka karena sudah pasti sang penjaga gerbang tahu bila istrinya itu datang.


"Seingat saya non Shanum nggak ada pulang ke rumah hari ini, Den. Kenapa? Apa beliau nggak ada di rumah?" tanya sang penjaga gerbang dengan tatapan menyelidik.


Raka tersenyum canggung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung mencari jawaban.


"Nggak mampir dulu ke dalam, Den?" tawar sang penjaga gerbang tanggung sudah datang.


"Ah, nggak, Pak. Saya buru-buru takutnya Shanum udah nungguin," sahut Raka seraya masuk ke dalam mobil dan mundur keluar. Ia menekan klakson dan berlalu dengan cepat dari rumah megah itu.


"Apa mungkin dia ke rumah mamah? Tapi buat apa?" Raka memukul setir kesal, jangan sampai istrinya itu salah faham lagi. Jika tidak, entah apa yang terjadi untuk ke depannya.

__ADS_1


Perasaannya kembali gelisah saat memasuki komplek perumahan di mana orang tuanya tinggal. Gerbang rumah Lina selalu terbuka, mobil Raka masuk ke halaman dan bergegas turun.


Tak seperti di rumah Shanum, rumah Raka tidak memiliki penjaga gerbang. Untuk itu, dia harus memastikannya sendiri ke dalam rumah. Sepi, tak ada suara apapun di dalam.


"Ke mana semua orang? Kenapa sepi banget?" Raka bergumam saat hanya menemukan keheningan di dalam rumah kedua orang tuanya.


"Mamah!" Raka memanggil wanita paling berjasa dalam hidupnya.


"Ya, Mamah di belakang!" sahut Lina sedikit berteriak.


Raka segera menuju ke belakang rumah di mana dapur berada. Ia hanya melihat sang mamah yang sedang merapikan meja makan. Tak ada Shanum di sana, wanita itu sendirian.


"Raka? Kamu datang sendiri apa sama Shanum?" tanya sang mamah begitu melihat anaknya.


Dari pertanyaan sang mamah, dia tahu bahwa Shanum tidak ada di sana juga. Hati Raka gelisah, memikirkan keberadaan Shanum.


"Heh! Kok, ngelamun? Di mana menantu Mamah? Kamu datang sama dia, 'kan?" sentak Lina membuyarkan lamunan Raka.

__ADS_1


"Raka pergi dulu, Mah!" Tanpa berkata-kata lagi, Raka segera berbalik dan pergi dari rumah sang mamah.


"Eh, Raka!" Teriakan Lina tak dihiraukan laki-laki itu.


__ADS_2