
Di toko, Raka terlihat tidak seperti biasanya. Ia tampak gelisah dan mengkhawatirkan sesuatu. Tak ada yang dia lakukan, hanya diam di kursi. Membuat Irwan dan Doni keheranan karenaya.
"Kenapa, Bro?" tegur Irwan sambil menepuk bahu Raka.
Suami Shanum itu menghela napas, memilih diam daripada menyahuti pertanyaan Irwan.
"Hei, kalo ada masalah cerita-cerita sama kita. Kayak sama siapa aja," ucap Irwan lagi merasa Raka sedang menghadapi masalah.
Raka mendongak, menatap wajah Irwan yang masih berdiri di sampingnya.
"Nggak ada apa-apa. Udah, kamu fokus kerja aja. Aku nggak apa-apa, kok." Raka melepas tangan Irwan dari bahu, memintanya untuk kembali bekerja tanpa harus menghiraukannya.
"Beneran kamu nggak apa-apa? Dari tadi kamu ngelamun terus, lho." Irwan enggan meninggalkan Raka karena merasa laki-laki itu tidak sedang baik-baik saja.
"Beneran. Udah sana. Aku lagi pengen sendirian." Raka mendorong tubuh Irwan agar menjauh darinya.
Dia sedang ingin sendirian, merenungi sesuatu yang entah apa. Hanya dia yang tahu. Di tengah-tengah acara melamunnya, ponsel Raka berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor asing yang tak dikenal.
"Siapa yang iseng kirim pesan?" Raka bergumam, cukup hanya dipandangi tanpa ingin membukanya.
Namun, pesan kedua, pesan ketiga yang masuk mengganggu Raka dan membuatnya penasaran. Ia membuka pesan tersebut, berkerut keningnya melihat sebuah foto yang dikirim nomor asing itu.
"Shanum?" Raka bergumam saat melihat foto Shanum di pinggir jalan bersama seorang laki-laki.
"Siapa laki-laki di dalam foto ini? Kenapa mereka kelihatannya deket?" Raka bertanya-tanya sendiri. Dia belumlah mengenal sosok Dzaky meski Shanum sering menceritakan sosok laki-laki idamannya.
Raka melihat tanggal dan jam yang tertera pada gambar tersebut. Lalu, membandingkannya saat Shanum menelpon.
"Ini waktu tadi Shanum nelepon aku. Apa dia nggak pergi ke toko cabang, tapi ketemuan sama laki-laki ini?" Raka melipat bibir, rahangnya tiba-tiba mengeras. Hati bergejolak, membara hingga ke ubun-ubun.
Raka beranjak, berniat menyusul Shanum ke tokonya untuk meminta alamat toko cabang istrinya itu.
"Mau ke mana, Ka?" Doni bertanya ketika melihat Raka menyambar kunci motornya.
"Pinjem dulu. Mau ke toko istriku." Raka bergegas menaiki motor Doni, dan melaju dengan secepat mungkin.
__ADS_1
"Mau ke mana dia?" Irwan mendekati Doni, menyenggol bahu pemuda itu.
"Katanya mau ke toko istrinya. Dia kenapa, sih?" Doni merasa heran dengan gelagat Raka yang berubah akhir-akhir ini.
"Nggak tahu. Emangnya kenapa?" Irwan balik bertanya dengan heran.
"Nggak tahu, perasaan dari kemarin dia lebih banyak diem. Sering ngelamun aku lihat. Ngelamunin apa gitu?" ujar Doni setelah mengamati Raka beberapa hari itu.
Irwan turut memikirkan keadaan Raka, entah sejak kapan laki-laki itu jadi hobi melamun.
"Mungkin sedang ada masalah pribadi. Aku tanya juga dia nggak mau jawab, nggak mau cerita." Irwan menghela napas, dari dulu Raka memang tak pernah membagi masalahnya dengan orang lain.
Laki-laki itu selalu menyimpannya sendiri, dan menyelesaikannya seorang diri. Mereka kembali fokus bekerja, melayani para pengunjung yang datang untuk melakukan transaksi di toko.
Sementara Raka, terus melajukan motornya ke toko Shanum. Ia menyesal tak pernah tahu lokasi toko cabang milik istrinya itu. Sesampainya di sana, ia segera mematikan mesin motor dan memanggil Wati. Karyawan Shanum yang sudah begitu lama bekerja dengan istrinya.
"Wati!" panggil Raka dari luar toko. Ia tak berniat untuk masuk ke dalam karena akan langsung pergi menyusul istrinya.
Shanum yang kebetulan sudah kembali, mengernyit ketika mendengar suara suaminya memanggil Wati.
Shanum termenung, kenapa Raka mencari Wati bukannya dia.
"Coba kamu temui dulu. Aku mau tahu kenapa dia manggil kami." Shanum sengaja tak menampakkan diri.
Ia membiarkan Wati menemui Raka di depan, entah untuk apa. Tak biasanya Raka menemui karyawannya. Wati bergegas ke depan menemui suami atasannya.
"Ya, Pak. Ada apa?" tanyanya segera begitu berhadapan dengan Raka yang bahkan tidak turun dari motornya.
"Aku mau tahu di mana alamat toko cabang milik istriku." To the point. Raka segera bertanya tak berniat untuk berlama-lama di sana.
Alis Shanum semakin menyatu kala mendengar permintaan suaminya. Hatinya diliputi tanya tentang maksud dan tujuan Raka yang bertanya tentang alamat toko cabang.
"Maaf, Pak. Itu bukan ranah saya memberitahu Bapak alamat toko cabang ibu. Sebentar saya tanya dulu ke dalam," ucap Wati tak berani memberitahu Raka tentang alamat toko cabang milik atasannya.
"Nggak perlu, Wati! Cepat kasih tahu, aku ini suaminya. Kenapa kamu kayak nggak percaya gitu sama aku?" ketus Raka tak senang dengan penolakan karyawan istrinya itu.
__ADS_1
Wati urung berbalik, dia tersenyum kepada Raka dengan ramah dan sopan.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Selama itu bukan perintah dari Bu Shanum kami nggak berani memberitahu Bapak sekalipun Bapak itu suaminya. Mohon maaf, Pak." Wati membungkukkan tubuh. Ia tak ingin mengkhianati atasannya meskipun Raka suami Shanum, tapi dia tetap orang baru bagi mereka.
Raka berdecak kesal, ia menghidupkan mesin motor hendak pergi, tapi kemunculan Shanum dari dalam toko membuatnya urung untuk pergi.
"Kenapa kamu tanya alamat toko cabang aku?" tanya Shanum sembari melangkah keluar menemui Raka.
Laki-laki itu tercenung, meneguk ludah tak percaya jika sang istri ada di sana.
"Kamu di sini? Bukannya pergi ke toko cabang?" tanya Raka mematikan kembali mesin motornya.
Shanum berdiri di depan toko, menatap suaminya dalam-dalam. Ada kecurigaan yang tiba-tiba bersarang di hati, perihal sosok Raka.
"Iya, tapi aku cuma melihat ke sana. Aku nggak pernah lama di sana karena mereka semua dapat aku percaya. Kenapa kamu mau pergi ke sana?" Sekali lagi Shanum bertanya, dari nada bicaranya ia terdengar tak senang Raka bertanya demikian kepada karyawannya.
Raka turun dari motor dan menghampiri wanita itu. Sama-sama memendam tanya di dalam hati, sama-sama menaruh curiga juga.
"Kamu nggak bohong sama aku?" tanya Raka dengan pelan.
Alis Shanum bertaut bingung, pertanyaan macam apa yang ditanyakan suaminya itu.
"Bohong? Bohong apa maksud kamu?" tanya Shanum yang tak menutupi kebingungannya.
"Kamu pergi ke toko cabang atau ketemuan sama laki-laki?" Pertanyaan Raka sudah bukan lagi pertanyaan, tapi lebih pada sebuah tuduhan atas dasar kecurigaan.
Shanum semakin terlihat bingung, dia yang baru saja mengalami kejadian naas hampir tertabrak justru sekarang dituding suaminya bertemu dengan laki-laki lain.
"Laki-laki? Laki-laki yang mana? Aku memang pergi ke toko cabang, tapi bukan mau ketemuan sama laki-laki. Aku memeriksa laporan di sana. Kamu ...." Shanum tak dapat berkata-kata, tudingan sang suami benar-benar menggores bagian hati terdalamnya.
"Apa? Kamu nggak bisa jawab, 'kan? Bilang aja kalo kamu emang ketemuan sama laki-laki itu!" sengit Raka tersulut emosi.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Jaga mulut kamu, Raka! Kamu pikir aku perempuan apa, hah?" Shanum tidak terima.
"Halah!" Raka berpaling dan pergi meninggalkan toko Shanum.
__ADS_1
"Raka!"