
Shanum memutuskan pergi ke dapur untuk menyegarkan tenggorokan, tapi tak sengaja ia mendengar celoteh keluarganya di ruang keluarga. Shanum memutuskan bergabung dengan mereka. Bercerita tentang pekerjaan, dan apa saja demi mengusir rasa jemu.
Di kamar, Raka baru selesai membersihkan diri. Ia keluar hanya dengan lilitan handuk di bagian bawah tubuhnya. Raka mendengus disaat tak melihat Shanum di kamarnya. Ia membuang handuk begitu saja, mengenakan piyama lantas berbaring di tempat tidur.
Mencoba tak acuh pada suara tawa sang istri beserta keluarganya di lantai bawah. Raka sedang tidak ingin berkumpul dengan banyak orang. Ia memejamkan mata, tertidur tanpa Shanum di sampingnya.
"Istri macam apa dia? Suami di kamar malah ditinggal ngobrol." Raka menarik selimut, menggelung tubuhnya sendiri.
Sementara di bawah, Shanum bercerita tentang usaha yang dirintisnya sendiri setelah kuliah. Sebuah toko kue yang memiliki satu cabang di kota yang sama.
"Bapaknya pintar berbisnis, anaknya juga ternyata nggak kalah pandai. Sekarang baru satu cabangnya, bulan depan bisa-bisa udah jadi lima aja." Celoteh sang paman mengundang gelak tawa dari semua orang.
"Enaknya berdagang itu kita adalah bosnya. Nggak ada yang ngatur karena kita sendiri yang punya peraturan. Nggak harus patuh dan tunduk sama orang karena kita pemiliknya. Shanum itu kayak gitu prinsipnya dulu ketika memulai usaha toko kuenya," terang Hanan, ayah Shanum.
Paman Shanum mengangguk-anggukkan kepala sambil melirik keponakannya itu.
"Benar-benar. Walaupun sedikit yang didapat, tapi tetap disyukuri karena itulah rezeki. Sudah ada yang ngatur," ucap sang paman begitu bangganya kepada Shanum.
"Ya. Alhamdulillah, Paman. Meskipun dulu Shanum pernah mengeluh karena di awal-awal buka usaha nggak ada pembeli yang datang, tapi Shanum nggak putus asa. Shanum yakin suatu saat Allah pasti datangkan pembeli, dan alhamdulilah sekarang pelanggan Shanum udah banyak." Tersirat rasa syukur di wajah cantik itu.
Perjuangan yang sangat berat. Di saat semua temannya berlomba-lomba untuk dapat masuk ke sebuah perusahaan ternama di kota tersebut, tapi Shanum memilih membuka usaha sesuai kemampuannya.Tak sedikit cemoohan yang ia dapatkan dari mereka bahkan, Shanum hampir putus asa jika saja sang ayah tidak memotivasinya terus menerus.
"Yah, namanya juga usaha. Apalagi baru, nggak mungkin langsung dapet pelanggan. Sekalipun ada, pasti protes. Beginilah, begitulah, padahal belinya nggak seberapa, tapi itulah buah kesabaran. Selalu manis terasa," ujar sang paman yang tak salah sama sekali.
Yang dikatakan adik ayahnya itu memang benar, ada banyak protes yang didapat Shanum dari pembeli, tapi itu tidak membuatnya berhenti. Shanum terus membenahi diri sampai pada titik saat ini.
__ADS_1
Kesabarannya berbuah manis bahkan, lebih manis lagi daripada madu. Beberapa saat berbincang hingga lupa waktu.
"Udah malam. Baiknya kamu istirahat, kasihan suami kamu di kamar sendirian," ucap sang mamah mengakhiri percakapan.
"Ya udah. Shanum pamit tidur duluan, besok harus ke toko juga," ucap Shanum seraya berdiri dan pergi menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Ia merasa tak enak karena meninggalkan Raka sendirian di dalam kamar. Shanum membuka pintu perlahan, mengendap masuk ke dalam. Ia tertegun melihat Raka telah berada di dalam selimut. Tak biasanya laki-laki itu langsung tertidur. Biasanya dia akan menunggu Shanum, tidur sambil memeluknya.
Shanum menghela napas, memaklumi keadaan Raka yang mungkin saja sangat lelah hingga tidur lebih awal. Ia beranjak naik ke atas ranjang, mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.
"Ka!" Shanum mencoba memanggil suaminya. Siapa tahu belum tertidur.
"Raka?" Sekali lagi dia memanggil, tapi tetap saja tak ada sahutan. Laki-laki itu telah terlelap dalam buai alam mimpinya.
Shanum menghela napas, kemudian mencoba untuk terpejam dan hanyut seperti laki-laki di sampingnya. Diam-diam Raka membuka mata, dia masih terjaga, tapi enggan menyahut panggilan istrinya.
****
Sementara di tempat lain, Dzaky baru saja pulang dari acara pertemuan dengan calon istrinya. Seorang gadis lulusan pesantren yang alim lagi pendiam. Sangat jauh berbeda dengan kepribadian Shanum yang ceria dan suka tertawa.
Baginya, ia menyukai kepribadian Shanum yang tentu saja dapat memenuhi kekurangannya yang sangat irit sekali berbicara.
"Gimana tadi pertemuannya? Lancar?" tanya sang ibu sambil duduk di kursi samping putranya.
"Alhamdulillah lancar, Umi." Dzaky menjawab singkat.
__ADS_1
"Terus gimana? Kamu suka, 'kan? Dia lulusan pesantren, lho." Sang ibu tak sabar ingin anaknya segera menikah dan memiliki anak.
"Yah, untuk suka sekedar penilaian. Dia perempuan baik-baik, nggak banyak omong, dan yang pasti ilmu agamanya sudah bagus. Mungkin malah Dzaky yang nantinya harus belajar sama dia." Pemuda itu tersenyum sambil melirik ibunya.
"Ya, nggak apa-apa. Kalian harus saling melengkapi satu sama lain. Itulah fungsi dari ikatan tali pernikahan. Masing-masing kalian adalah penyempurna pasangan kalian." Wanita hampir tua itu mengusap lengan anaknya. Ia tahu hati Dzaky telah memilih Shanum, tapi sayangnya gadis itu telah menikah meskipun terpaksa.
"Iya, Mi. Insya Allah kalo jodoh nggak akan ke mana juga," sahut Dzaky dengan segenap kelapangan hatinya.
Ia harus merelakan Shanum untuk orang lain, dan memilih kehidupannya sendiri.
"Ya udah, mending Umi istirahat. Ini udah malam, nggak bagus buat kesehatan Umi." Dzaky meminta dengan penuh perhatian.
Kondisi sang ibu yang sudah tua memudahkannya terserang rasa sakit. Wanita itu mengangguk, mengusap kepala sang anak kemudian pergi ke kamarnya sendiri.
Sebagai anak tertua, Dzaky menjadi pengganti sang ayah yang lebih dulu meninggalkannya. Menjaga dan merawat ibu juga adik bungsunya yang sedang menimba ilmu agama.
Ia menghela napas, merenungi perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Lalu, memilih beranjak dari ruang keluarga dan masuk ke kamarnya di lantai dua rumah.
"A'uudzu billaahi minasy-syaaithoonir-rojiim. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala godaan syetan. Jauhkan hamba dari apapun yang menjerumuskan. Terutama bisikan-bisikan mereka yang menyesatkan."
Dzaky berbaring di ranjangnya, mencoba melupakan bayang-bayang Shanum yang masih melekat di dalam pikiran. Akan sangat sulit baginya menghapus gadis itu dari ingatan, karena bagaimanapun juga Shanum-lah gadis pertama yang mengisi hatinya.
Malam yang terasa panjang, bagi ketiga insan yang sedang dilanda kegelisahan hati. Mata mereka terpejam, tapi hati tetap terjaga menerawang entah ke mana. Larut dan hanyut dalam buai perasaan masing-masing.
Ya Allah, kenapa malam ini terasa panjang? Rasanya bosan aku nunggu pagi.
__ADS_1
Shanum bergumam, mulai bosan menunggu pagi datang.