Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 8


__ADS_3

Menjelang siang shanum berpamitan kepada Raka untuk pergi ke tokonya sendiri. Seperti yang sering dia lakukan, hanya akan mengecek pesanan juga stok bahan-bahan pembuatan kue.


"Selamat siang semuanya! Gimana pesanan, aman?" tanya Shanum dengan nada ceria seperti biasanya.


"Siang, Bu! Alhamdulillah semaunya aman!" sahut semua serentak pula.


"Alhamdulillah. Silahkan dilanjut." Shanum memeriksa kue-kue di etalase, masih segar dan baru. Lanjut memeriksa bagian belakang, gudang penyimpanan.


"Pak, jangan menunggu stok habis, ya. Kalo udah menipis langsung aja belanja biar nggak keteter," ucap Shanum para pekerjanya di dalam sana.


"Siap, Bu! Aman, kok."


Shanum tersenyum, langkahnya berlanjut keluar memeriksa toko di sebelah yang menjual kue-kue kering. Meski tak seberapa besar, tapi toko itu memiliki pelanggan tetap yang tidak sedikit.


Ia duduk di mejanya, memeriksa laporan pengeluaran serta pemasukan. Bibirnya membentuk senyum lebar, puas dengan penghasilan yang didapatkan dari dua toko yang berdampingan itu. Belum lagi toko cabang yang berada di tempat lain meski masih satu wilayah.


"Alhamdulillah, ya Allah." Shanum bersyukur. Dia bisa membantu Raka mengembangkan tokonya.


Di tempatnya, Raka duduk menunggu pelanggan. Sudah beberapa yang datang untuk membeli aksesoris ataupun sekedar bertanya-tanya.


Ia bermenung memikirkan usul yang diberikan Shanum untuk mengembangkan tokonya.


"Apa aku bisa, ya. Aku takut Shanum kecewa nantinya," gumam Raka tak percaya pada dirinya sendiri.


"Raka! Raka! Kamu harus percaya diri, Ka. Shanum juga percaya sama kamu masa kamu nggak percaya sama diri sendiri. Kamu nggak boleh ngecewain Shanum, Ka. Kamu harus yakin kamu bisa!" Raka menasehati diri sendiri.


Dia bertekad untuk berkembang, membuktikan kepada sang istri bahwa dia bukanlah seorang pecundang. Raka tersenyum cerah ketika seorang pelanggan datang. Segera bangkit dari duduk dan menghampiri dengan sopan.

__ADS_1


"Ada yang bisa aku bantu, Kak?" tanyanya.


"Ini, Mas. Aku cari casing buat hp ini ada nggak?" Ia menunjukkan ponsel yang dimaksud dan Raka bersegera mengambilkannya.


Senyum Shanum terbayang memberinya tambahan energi, sedikit atau banyak harus disyukuri. Karena rasa syukur akan menambah rezeki.


"Makasih, Kak. Datang lagi!" ucap Raka melepas pelanggan tadi.


"Alhamdulillah, hari ini udah lumayan. Istri memang bawa rezeki. Aku harus semangat karena ada anak orang yang harus aku nafkahi," ucap Raka seraya memasukkan uang tersebut ke dalam laci.


Ia menghela napas, setiap kali membayangkan senyum Shanum, setiap itu semangatnya bangkit menggebu. Raka menepis rasa malas yang selama ini terkadang datang bergelayut manja di kedua bahunya.


"Raka!" Sebuah suara yang khas, menyapa gendang telinga Raka. Senyum yang diukirnya surut, rasa perih hadir memenuhi hati.


Namun, lagi-lagi senyum Shanum membayang, rasa perih berganti kebahagiaan.


"Ya. Ada yang bisa aku bantu, Kak?" sapa Raka dengan senyum ramah seperti kepada para pelanggan yang lain.


"Aku mau ngomong sama kamu," ucap Shila dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Kalo mau ngomong, ya, ngomong aja. Nggak ada yang larang, kok." Raka tetap memasang senyum meski hati perih dicabik-cabik. Ingin radang menguliti gadis tak tahu malu di depannya itu.


"Aku minta maaf masalah kemarin, Ka. Aku bisa jelasin sama kamu kenapa aku nggak datang," ucap Shila. Matanya sudah berkaca-kaca sedih, tapi tak menarik simpati Raka.


"Oh, nggak usah dipikirin lagi. Aku udah lupain semua itu. Lagian aku udah bahagia sama istri aku sekarang. Jadi, nggak usah bahas-bahas masa lalu lagi." Raka berucap penuh syukur. Memiliki Shanum sebagai istrinya adalah anugerah terindah dari Tuhan untuknya.


Raka tak melepaskan senyum Shanum dari pikiran agar rayuan Shila tertolak dengan sendirinya. Hanya ada Shanum dan Shanum. Bukan yang lain.

__ADS_1


"Ka, kamu dengerin aku dulu. Kemarin mamah masuk rumah sakit, aku nggak bisa ninggalin mamah sampai mamah selesai operasi. Hp-ku dijual buat biaya berobat mamah. Aku nggak sempet ngabarin kamu karena emang panik dengan kondisi mamah. Aku kira kamu akan nunggu aku, tapi kata orang-orang kamu malah nikah sama Shanum. Kenapa, Ka?" Shila menangis, mengisahkan dengan dramatis.


Raka mencibirkan bibir sama sekali tidak bersimpati.


"Aku doain mudah-mudahan mamah kamu cepat sembuh. Nggak usah tanya kenapa aku nikah sama Shanum. Sekarang, kalo nggak ada urusan lagi mending kamu pergi dari sini. Kamu ngalangin pelanggan aku," sahut Raka santai.


Ia bahkan tetap tersenyum saat mengatakan itu. Benar-benar menginjak harga diri Shila yang sudah berakting dengan maksimal.


Sialan si Raka! Kayaknya dia nggak percaya sama cerita aku. Kenapa biasa-biasa aja, sih? Apa yang udah dilakuin Shanum sampai-sampai laki-laki itu cuek sama aku. Selama ini Raka selalu maafin aku, nggak kayak gini.


Hati Shila mengumpat, masih saja menyalahkan Shanum atas apa yang terjadi pada dirinya. Jika Raka terus seperti itu, ia tak akan pernah mendapatkan uang lagi darinya.


Kurang ajar!


"Tapi, Ka. Apa kita nggak bisa kayak dulu lagi. Aku bukannya mau lari dari pernikahan itu, tapi aku benar-benar nggak bisa datang, Ka. Aku masih sayang sama kamu, Raka. Aku nggak mau kehilangan kamu." Shila menangis tergugu, enggan pergi dari toko Raka sampai laki-laki itu mau memaafkannya.


"Udahlah, nggak usah nangis di sini juga kali. Nanti kata orang apa? Kamu juga bikin pelanggan aku nggak jadi datang ke sini." Suara Raka terdengar ketus. Seorang pelanggan yang hendak mendatangi tokonya urung karena melihat Shila yang menangis di depan toko tersebut.


"Kenapa kamu sekarang berubah, Ka? Kamu jadi ketus, kamu cuek sama aku? Kenapa? Apa karena perempuan itu? Selama ini kita baik-baik aja, Ka. Kamu juga nggak pernah cuek sama aku, tapi kenapa sekarang kamu kayak gini?" cecar Shila dengan air mata berderai membasahi pipi.


Raka mendengus, malas sekali untuk menimpali ucapan ngawur Shila. Seperti orang gila yang terus meracau tanpa butuh balasan. Raka hanya diam, tak menanggapi. Membiarkan Shila terus menerus mengoceh tanpa ingin membalas.


"Kamu bahkan nggak mau dengerin penjelasan aku. Apa kamu udah nggak sayang sama aku? Coba seandainya kamu yang ada di posisi aku. Mamah kamu sakit dan harus dioperasi-"


"Cukup!" Raka bangkit sambil menggebrak etalase sampai-sampai menimbulkan sedikit retakan. Wajahnya merah padam, emosinya tersulut ketika Shila membawa-bawa mamahnya.


"Kenapa, Ka? Kenapa kamu marah? Kamu nggak terima? Aku juga!" sentak Shila tak mau kalah.

__ADS_1


"Wow! Ada perang rupanya di sini!"


Serentak mereka berdua menoleh.


__ADS_2