Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 32


__ADS_3

"Kenapa Shanum nggak ngabarin aku kalo mau ke toko?" gumam Raka seorang diri.


"Mungkin dia mau ngasih kejutan buat kamu, tadinya. Nggak tahunya kamu nggak ada," sahut Irwan yang mendengar gumaman Raka.


Suami Shanum itu berdecak, kesal sendiri dengan semua yang terjadi. Bodohnya dia pergi begitu lama sehingga tak sempat bertemu dengan Shanum.


"Dia ke sini bawa apa? Motor?" tanya Raka sambil menatap Irwan. Sementara Doni, tak acuh dan sibuk melayani pelanggan.


"Dia pake ojek, Ka. Mungkin karena kamu bawa mobil, jadi dia pikir mau pulang sama-sama kamu." Irwan sangat menyesalkan tindakan Raka yang tak tahu waktu. Entah apa saja yang dia lakukan di luar sana.


Raka menghela napas, sangat menyesal karena terlalu mementingkan pelanggan. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Mencoba menghubungi Shanum, tapi ternyata ponsel sang istri tidaklah dapat tersambung.


"Ah, sial!" Raka mengumpat, dia berdiri dan bergegas pergi dari toko berniat untuk pulang.


"Kamu pikir dia nyembunyiin sesuatu nggak, Ir?" tanya Doni selepas kepergian mobil Raka.


Irwan menghendikan bahu, masih menatap mobil sang atasan yang perlahan menjauh.

__ADS_1


"Entahlah. Aku juga nggak tahu. Kalo lihat Shanum kadang aku kasihan, kayak yang banyak pikiran gitu. Mereka nikah itu terpaksa karena calon istri Raka dulu nggak dateng ke pernikahan," ujar Irwan sangat menyayangkan tindakan Raka yang terkesan tidak memperdulikan Shanum.


"Iya, aku tahu. Udah mending Shanum mau gantiin posisi perempuan itu, padahal dia bisa aja nolak. Kebangetan aja kalo si Raka nggak bisa ngehargain istrinya." Doni terlihat emosi.


Dia memang tidak tahu apa-apa soal rumah tangga mereka, tapi melihat Shanum yang berusaha menyembunyikan kesedihannya dia merasa tidak tega terhadap wanita itu.


"Apa mungkin Raka masih mengharapkan perempuan itu, ya?" gumam Irwan menerka-nerka kemungkinan.


"Ya, bodoh banget si Raka! Kalo emang dia kayak gitu, dia laki-laki paling bodoh di dunia ini. Mending aku komporin Shanum biar bubar sama dia." Doni mengumpat kesal.


Siapa yang tak tahu Shanum, gadis mandiri dan berprestasi meskipun dari keluarga berada. Tidak sombong dan tidak membanggakan harta orang tua. Menjadi rebutan setiap laki-laki, bahkan kolega bisnis sang papah selalu berbicara soal perjodohan anak mereka.


"Terus, mau kamu hembat gitu?" Irwan memicingkan mata curiga.


Doni tersenyum aneh, sambil menggaruk kepala dia memalingkan wajah.


"Rasanya nggak mungkin Shanum mau sama aku. Jadi, aku juga nggak terlalu berharap." Doni sadar siapa dirinya.

__ADS_1


Irwan terkekeh, menepuk-nepuk bahu sepupu Raka itu memberinya kekuatan.


"Sabar. Masih banyak perempuan." Dia berbisik mengejek.


Doni mendelik tak senang, status jomblonya memang patut diacungi jempol.


Sementara di tempat lain, Shila duduk bersama teman-temannya di sebuah cafe. Menikmati secangkir kopi yang mengepulkan asap. Dia terlihat bahagia.


"Ciee ... yang lagi seneng. Bagi-bagi, dong!" ejek temannya yang disambut tawa kecil oleh gadis itu.


"Benny mau ngelamar kamu, ya? Kapan?" Yang lain menyenggol bahu Shila, tak sabar ingin mendengar laki-laki kaya itu melamarnya.


"Ada, deh. Kalian itu kepo. Makanya cari pacar orang kaya, biar bisa diturutin semua yang kalian pinta. Kayak aku ini." Shila memamerkan tas branded yang baru dibelinya.


Mereka membelalak, iri dengan gadis itu.


"Mmm ... iri banget, deh, sama kamu. Aku juga mau punya pacar kaya kayak kamu, Shil. Cariin, dong. Siapa tahu Benny punya teman." Mereka merayu Shila.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum bangga, mengagumi dirinya sendiri yang begitu cerdik dalam menyiasati laki-laki.


Aku akan selalu mendapatkan apa yang aku mau.


__ADS_2