Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 34


__ADS_3

Raka tak tahu lagi harus ke mana mencari Shanum, dia lupa memiliki satu sahabat lagi yaitu Lia. Sahabat yang begitu kental dengan Shanum, dan sudah seperti saudara sendiri.


"Ke mana kamu sebenarnya, Shanum? Nggak mungkin kamu di toko, 'kan?" Raka bergumam cemas.


Dia belum mencari istrinya ke toko, kemungkinan Shanum di sana. Di toko cabang yang tak Raka ketahui di mana lokasinya. Dia benar-benar menyesal karena tak pernah tahu tentang toko cabang itu.


Lagi-lagi Raka memukul setir, meluapkan emosinya. Sambil berharap di bawah payung senja, dia pergi ke toko Shanum. Berkali-kali Raka menghela napas, membuang rasa yang menumpuk di dalam hati.


Tak akan lagi dia melakukan itu, cukup sekali karena tak ingin kejadian seperti sekarang ini terulang lagi. Shanum pandai sekali menghilang, membuatnya ketar-ketir takut kehilangan. Mobil tiba di depan toko, tak terlihat sosok Shanum yang biasa duduk di meja kasir.


"Di mana Shanum?" tanya Raka pada Wati yang kebetulan berjaga menghentikan atasannya.


"Ibu nggak dateng ke toko hari ini, Pak. Ibu bilang pengen istirahat di rumah karena kecapean," jawab Wati dengan raut bingung yang kentara.


"Jangan bohong kamu!" Raka tidak mempercayai pegawai istrinya itu. Ia menerobos masuk ke dalam gudang penyimpanan, tak ada siapapun di sana.


Tak puas, Raka pergi ke samping ke toko kue basah milik Shanum. Masuk begitu saja sampai ke dapur tempat pembuatan kue-kue. Tetap saja, Shanum tak ditemukan di sana.


"Ada apa, Pak? Bu Shanum hari ini nggak datang ke toko karena butuh istirahat." Ucapan dari salah satu pegawai Shanum semakin memperkokoh pernyataan Wati.


Raka yang putus asa dan hampir frustasi pergi keluar tanpa sepatah kata pun. Masuk kembali ke dalam mobil, meraung seorang diri. Tanpa sadar Raka menitikan air mata, menangisi kebodohannya.


Dia memutuskan kembali ke rumah, menunggu Shanum di sana. Sambil berharap istrinya itu sudah berada di rumah menunggunya. Mobil tiba di parkiran, Raka terhenyak melihat keadaan rumah sudah terang benderang.

__ADS_1


Buru-buru masuk ke dalam sambil berteriak memanggil nama sang istri.


"Shanum! Shanum! Kamu pulang, Sha!" Seperti orang yang putus asa, Raka berteriak dengan suara yang bergetar.


Ia membuka pintu kamar, luruh sudah air matanya melihat satu sosok yang berbalut kain putih tengah bersujud di atas sajadah. Tubuh Raka jatuh di ambang pintu, menangis tersedu-sedu melampiaskan kecemasannya.


Shanum sama sekali tidak terganggu, ia tetap melanjutkan sholat tiga rakaatnya meski suara tangis Raka cukup mengganggu. Wanita itu menuntaskan sholatnya, kemudian berbalik melihat Raka yang meraung sambil memukul-mukul lantai.


"Raka, kamu kenapa? Ada masalah di toko?" tanya Shanum membuat Raka mendongak, dia bahkan tidak beranjak dari sajadah seolah-olah sengaja membiarkan Raka yang mendatanginya.


Benar saja, laki-laki itu merayap mendekati Shanum dan menjatuhkan diri pada pangkuan sang istri.


"Puas aku nyariin kamu ke mana-mana. Aku cemas, aku takut kamu kenapa-kenapa, Shanum." Raka mulai meracau meluapkan rasa cemas yang sejak siang tadi merundung hatinya.


"Aku nggak ke mana-mana, kok. Aku ke rumahnya Lia, udah lama nggak pergi ke sana," jawab Shanum dengan tenang.


Raka yang menangis di pangkuannya mendongak, menatap wajah cantik nan teduh sang istri dengan matanya yang basah.


"Kenapa kamu nggak ngabarin aku? Aku telpon juga nomor kamu nggak aktif," tanya Raka seraya beranjak dari pangkuan istrinya.


Shanum menoleh ke atas nakas, memperlihatkan ponselnya yang sedang diisi daya.


"Ponselku kehabisan baterai, itu lagi dicarg." Shanum terkesan tak acuh, sikapnya dingin tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Raka ikut melihat, tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering. Diteguknya Saliva dengan susah payah saat tak mendapat simpati dari wanita hamil itu. Ia genggam tangan Shanum dengan hangat, wanita itu bergeming pada sikapnya yang tak acuh.


"Kamu kenapa? Kalo ada apa-apa bilang sama aku. Jangan kayak gini," ucap Raka membuat dahi Shanum mengernyit karenanya.


"Kenapa? Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Aku tadi bantuin Lia di rumahnya karena bosen di rumah. Mau ke toko udah terlanjur izin. Udahlah, kamu belum sholat, 'kan? Sholat dulu sana. Maghrib waktunya cuma sedikit," kilah Shanum menghentikan obrolan tak nyaman dengan suaminya.


Ia tidak ingin membahas apapun tentang kejadian hari itu. Shanum melepas genggaman tangan Raka, berdiri dan membuka mukena untuk kemudian menyimpannya. Semua itu tak lepas dari perhatian Raka.


"Dih, kok, malah ngelamun? Sholat nggak akan selesai kalo cuma ngelamun." Shanum menggelengkan kepala, kemudian keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.


"Kamu mau ke mana?" tanya Raka dengan suara yang parau.


"Mau ke dapur. Aku laper mau makan. Sekalian makan nggak? Apa udah makan di luar?" sindir Shanum membuat Raka meneguk ludah.


Laki-laki itu menggelengkan kepala tak akan mungkin ia menolak lagi masakan istrinya. Tanpa berucap lagi, Shanum pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Ala kadarnya, apa yang ada di dalam kulkas.


Shanum bahkan langsung makan begitu masakannya selesai. Ia tak berniat menunggu Raka datang, dan membiarkan laki-laki itu makan sendiri.


"Kamu nggak nungguin aku?" tanya Raka heran.


"Aku udah laper. Jadi, makan duluan. Aku duluan, capek mau istirahat." Shanum beranjak dan pergi meninggalkan Raka di meja makan.


Hal tersebut menjadi renungan untuk laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2