
Berhari-hari telah berlalu, Shanum masih belum mampu melupakan wajah pemuda itu. Wajah teduh dambaan setiap wanita, wajah yang mampu menenangkan setiap pasang mata yang melihat.
Shanum menghela napas, menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan lesu. Di dalam hati, ia berharap akan bertemu dengan pemuda itu lagi.
"Apa cuma gitu aja? Udah? Dia nggak datang lagi? Astaghfirullah!" umpatnya kesal.
Keadaan Shanum yang tak seceria seperti biasanya itu membuat karyawan di tokonya merasa cemas.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya salah satu karyawan Shanum penuh perhatian.
Istri Raka itu mengangkat pandangan, tapi tidak mengangkat kepala dari meja. Ia tersenyum, berkata seolah-olah tak ada apapun yang terjadi padanya.
"Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak usah cemas, ya." Shanum menepuk-nepuk lengan karyawannya, meminta wanita itu untuk kembali bekerja.
"Kalo Ibu lagi kurang sehat, sebaiknya istirahat di rumah aja." Ia masih saja terlihat mencemaskan Shanum. Maklum, karyawan lama yang berjuang bersama Shanum dari nol.
Shanum masih tersenyum, bersyukur karena memiliki karyawan yang begitu memperhatikan dirinya.
"Aku nggak apa-apa,kok. Beneran. Kamu kerja lagi aja, ya. Aku cuma lemes aja ini, nanti juga nggak." Shanum meminta karyawan tersebut untuk kembali bekerja dan tidak mengkhawatirkan dirinya.
Dia tidak sakit, hanya sedang galau oleh kedatangan seseorang yang tak disangka-sangka.
"Ya udah kalo gitu, Bu. Saya kerja lagi." Ia membungkuk dan kembali pada pekerjaannya.
Shanum menghela napas, berbalik ke hadapan kembali untuk menunggu kemunculan si pemilik wajah teduh itu.
Ting!
Sebuah pesan masuk membuat Shanum tanpa sadar berdecak kesal. Pesan dari Raka yang saat ini tak ditunggunya.
Kita cek ke dokter sekarang aja, ya. Aku pengen mastiin kamu baik-baik aja. Soalnya akhir-akhir ini aku perhatiin kamu sering ngelamun dan kelihatan lesu gitu.
Ternyata semua orang memperhatikan perubahan pada dirinya. Shanum mendengus, ia membalas seadanya karena Raka adalah suaminya.
Ya. Mumpung masih pagi juga.
Balas Shanum sedikit terpaksa memang, tapi mau apalagi? Dia sudah menjanjikannya tempo hari.
__ADS_1
Tunggu, aku ke situ.
Shanum menyiapkan tasnya juga apa saja yang akan dia bawa. Ia juga berpamitan kepada semua karyawan karena tak akan kembali ke toko setelah pergi ke rumah sakit.
"Titip toko, ya." Shanum tersenyum kepada mereka.
"Siap, Bu! Mudah-mudahan apa yang diinginkan segera datang." Mereka mendoakan yang terbaik untuk Shanum dan Raka.
"Makasih!" Shanum melambaikan tangan saat mobil yang dibawa Raka tiba di depan toko.
Sampai mobil Shanum menghilang di telan kendaraan lain, mereka masih berdiri melepas kepergian sang atasan.
"Mudah-mudahan emang beneran jadi." Salah seorang di antara mereka bergumam.
"Iya, habisnya akhir-akhir ini bu Shanum kelihatan lesu banget." Yang lain menimpali, sambil berharap semoga memang bukan karena sakit.
"Kayaknya, sih, iya. Itu, mah, udah jelas jadi. Pastinya jadi." Heboh, mereka bergosip tentang atasan mereka sendiri.
"Tapi tunggu, deh. Kayaknya bu Shanum lesu itu abis kedatangan laki-laki yang kemarin ... inget nggak?" Salah seorang karyawan teringat kapan Shanum mulai terlihat lesu.
"Yang laki-laki ganteng itu. Yang kayak ustadz pakaiannya. Inget nggak, sih? Pake peci, yang kalo senyum ada lesung pipinya," jelas salah satu dari mereka berharap yang lain akan ingat.
Mereka tampak berpikir, mengingat-ingat pelanggan seperti yang disebutkan temannya itu.
"Oh, iya! Yang beli kue ulang tahun buat keponakannya. Itu!" seru salah satunya heboh.
"Oh, iya. Bener-bener. Mereka waktu itu ngobrol, 'kan. Terus abis itu bu Shanum langsung lesu abis laki-laki itu pergi. Nah, dari situ sampe sekarang bu Shanum masih lesu." Jelas sudah, semua karyawan di toko kue mengingat Dzaky serta kedatangannya ke toko Shanum.
"Apa sangkut pautnya dengan laki-laki itu, ya?" Mereka mulai berpikir keras alasan Shanum menjadi lesu.
"Kalian tahu nggak, sih. Bu Shanum itu, 'kan, belum berencana menikah. Beliau nikah sama pak Raka karena waktu itu pengantin perempuan pak Raka nggak dateng. 'Kan, viral banget kejadiannya." Mereka terkenang pada pernikahan paksa yang dijalani Shanum beberapa waktu lalu.
"Bener. Mungkin bu Shanum nunggu laki-laki itu datang melamar, tapi keburu nikah sama pak Raka gara-gara gantiin jadi mempelai perempuan. Kasihan juga, ya, tapi semuanya udah terjadi. Mau gimana lagi?" Asik sekali bergosip sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
Shila tersenyum merasa telah menemukan celah untuk meretakkan rumah tangga mereka. Dia bahkan merekam perbincangan karyawan Shanum entah untuk apa. Apa yang akan dia lakukan dengan rekaman itu.
"Bagus! Kayaknya aku harus sering-sering datang ke sini." Dia tersenyum sebelum meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara Shanum dan Raka pergi memeriksa ke dokter. Mereka menunggu antrian bersama para wanita hamil lainnya. Tak hanya Shanum yang masih memiliki perut rata, ada beberapa ibu hamil juga yang perutnya belum membuncit.
"Mudah-mudahan beneran udah jadi, ya. Kalo belum, aku akan berusaha lebih keras lagi bikinnya," ucap Raka sambil mengelus-elus perut Shanum yang masih rata.
"Ya. Aamiin. Nanti kalo terlalu keras kamu kecapean lagi," ejek Shanum sambil terkekeh.
Raka mengangkat tubuhnya dari dekat perut Shanum, mengusap tengkuk malu karena dia selalu melakukanya setiap malam. Selepas malam pertama itu, hal tersebut seolah-olah menjadi candu untuk Raka. Yang apabila tak melakukan, ia juga tak dapat melakukan pekerjaan lainnya.
"Nggak juga. Buktinya tiap malam aku bikin kamu teparrrr!" bisik Raka di telinga wanita cantik itu.
Shanum tersipu, dia memang sedikit kerepotan menghadapi permainan Raka yang terkadang lama. Maklum, darah muda. Masih sangat kuat walaupun sampai tiga kali permainan.
"Ibu Shanum Haniyah!" Namanya dipanggil, Raka sigap berdiri dan menuntun Shanum untuk memasuki ruangan dokter.
Mereka duduk berhadapan dengan dokter, berkonsultasi tentang kondisi Shanum.
"Jadi, ada keluhan apa?" tanya dokter wanita tersebut dengan ramah.
"Ini, Dok. Sebenarnya nggak ada keluhan. Saya cuma pengen mastiin aja kalo istri saya ini beneran hamil. Soalnya dari semenjak kami menikah, dia belum dateng bulan," ucap Raka memberitahu kondisi Shanum.
Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada keluhan mual atau muntah, misalnya?" tanya dokter kepada Shanum.
"Kalo mual ada, Dok, tapi muntah itu nggak ada." Shanum menjawab seadanya.
"Periksa dulu, yuk!" Dokter meminta Shanum untuk berbaring di atas ranjang.
"Maaf, ya." Ia menyibak pakaian Shanum, dan mulai memeriksa perut wanita itu. Menekan-nekannya dengan pelan mencari sesuatu.
"Duduk lagi, yuk!"
Mereka kembali duduk.
"Kemungkinan besar Ibu memang hamil, tapi untuk memastikan lagi Ibu nanti bisa tes pakai alat, ya. Saya buatkan resep vitamin, tolong diminum secara rutin." Dokter memberikan secarik kertas kepada Raka.
Dengan perasaan yang ... entah seperti apa menjelaskannya mereka keluar ruangan dan pergi ke bagian farmasi. Harus menunggu hasil tes. Raka mendesah.
__ADS_1