Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 31


__ADS_3

"Aku bingung, Lia. Aku harus gimana?" ucap Shanum setelah menceritakan kegelisahan hatinya.


Lia termenung, Shanum dan Raka adalah sahabatnya. Tak akan mungkin ia membelah mereka menjadi dua kubu. Dia sendiri tidak begitu mengerti tentang permasalahan hati dan cinta karena belum pernah merasakan jatuh cinta.


"Jujur, Sha. Aku sendiri bingung harus ngomong apa, tapi apa kamu mau tetep kayak gini aja? Dihantui gelisah dan curiga. Mending kamu cari tahu kebenarannya," usul Lia merasa kasihan terhadap Shanum mengingat sahabatnya itu sedang mengandung.


Shanum mendesah, bertanya kepada Raka apakah dia harus percaya?


"Aku nggak tahu, Lia. Aku mau di sini dulu, nanti sore baru pulang," ujar Shanum ingin menenangkan diri terlebih dahulu di rumah Lia.


"Ya udah, nggak apa-apa. Aku temenin kamu kalo gitu. Aku izin nggak masuk lagi," ujar Lia merasa kasihan bila harus meninggalkan Shanum di rumahnya.


"Makasih, sayangku." Shanum memeluk Lia, bersyukur karena memiliki teman sebaik gadis itu.

__ADS_1


"Kayak ke siapa aja, pake terima kasih segala." Lia menyahut sambil membalas pelukan Shanum. Keduanya akan menghabiskan waktu bersama seperti saat Shanum belum menikah dulu.


****


Sementara di toko, Raka datang saat sore hari. Hampir seharian itu dia menghabiskan waktu bertemu dengan pelanggan. Benar-benar tidak masuk akal. Irwan dan Doni bahkan terlihat keheranan melihat Raka.


"Ketemu pelanggan sampe seharian kayak gini, Ka. Pelanggan apa pelanggan?" sindir Irwan sambil melirik atasannya itu.


"Aku juga nggak ngerti, kenapa alot banget. Sampe bosan aku dibuat dia," ujar Raka yang terlihat lelah dan lesu.


Raka melirik sepupunya itu, tersenyum tipis merasa mereka berdua begitu memperhatikannya.


"Udahlah nggak apa-apa. Lagian nggak sering-sering juga. Kalian tetap jaga toko aja. Ketemu pelanggan biar aku yang pergi," sahut Raka tak membiarkan mereka menggantikannya pergi.

__ADS_1


Irwan dan Doni saling melirik satu sama lain, sedikit rasa curiga timbul di hati mereka. Bukan dua pekerja itu yang menyembunyikan sesuatu, tapi Raka yang juga bermain rahasia dengan mereka. Tak hanya Shanum.


"Kamu tahu, istri kamu tadi datang ke sini bawa makan siang buat kamu. Dia nunggu lama di sini sampe bosan, terus pergi pake ojek. Makanannya kita habisin karena kamu nggak dateng-dateng." Irwan memberitahu Raka.


Laki-laki itu membelalak dengan napas tercekat di tenggorokan. Wajahnya berubah pucat seolah-olah kedapatan melakukan sesuatu.


"Iya, istri bawain makanan, suaminya malah nggak ada. Kasihan banget Shanum, udah dandan cantik-cantik, masak juga enak. Malah nggak ketemu sama suaminya." Doni mencibir menyayangkan sikap Raka yang sering pergi meninggalkan toko.


Ia melirik Raka yang terus diam mendengar laporan dua pekerjanya.


"Dia juga meriksa stok di gudang. Dia tanya kita nggak pernah beli barang lagi? Aku bingung harus jawab apa, aku bilang aja sama dia kalo barang udah dipesan dan hari Senin baru tiba." Irwan menambahkan semakin membuat Raka kalut dengan perasaannya sendiri.


Doni mencibir, merasa yakin ada hal yang sedang disembunyikan Raka di luar pengetahuan mereka. Apapun itu, seharusnya Raka tidak pernah bermain-main dengan apapun namanya.

__ADS_1


"Kalo aku punya istri secantik Shanum, nggak akan aku biarin keluyuran sendirian. Takut diambil orang." Doni berkhayal dialah yang berada di posisi Raka.


Irwan menyenggol bahunya, meminta Doni untuk tidak memanasi atasannya itu. Pemuda tersebut mencibirkan bibir, dalam hati menyumpahi Raka yang terkesan tidak bersyukur beristrikan Shanum.


__ADS_2