Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 25


__ADS_3

Seharian itu Shanum kembali bermenung, setiap kali bertemu dengan Dzaky, selalu saja pikirannya terganggu. Ia menghela napas, memutuskan untuk pergi ke toko cabang memeriksa keadaan di sana.


"Wati, aku mau ke toko cabang. Motor toko aku pake dulu, ya," pamit Shanum pada karyawannya.


"Iya, Bu. Mau ditemani?" tawar Wati yang seperti biasa sigap untuk menemani Shanum ke mana pun ia pergi.


"Nggak perlu. Aku sendiri aja, ya." Shanum tersenyum, lantas menyambar kunci motor milik toko dan bergegas pergi menuju toko cabang miliknya.


Cukup menempuh waktu selama dua puluh menit, toko cabang berada. Ia tersenyum ketika melihat toko cabang itu sama ramainya seperti toko pusat. Di kejauhan, ia dapat melihat banyaknya kendaraan terparkir.


"Udah lama nggak datang ke cabang. Ternyata sama ramainya, pantas aja mereka selalu semangat kalo ngasih laporan." Shanum bergumam pelan, bersyukur dalam hati karena usaha miliknya terlihat maju.


Namun, secara tiba-tiba, Shanum menghentikan laju motornya. Ia menarik rem secara mendadak kala melihat satu sosok di jalur lain tengah berjalan bergandengan tangan bersama seorang perempuan.


"Raka?" Shanum bergumam lirih, dari postur punggungnya ia mengenali sosok tersebut sebagai Raka, suaminya.


Sontak Shanum turun dari motor dan hendak menyebrang menemui pasangan tersebut. Ia tak sempat menoleh ke kanan dan kiri karena matanya fokus pada sosok yang menjauh dari jalanan.


"Raka!" Shanum memanggil, tapi karena suara kendaraan yang terlalu bising membuat suaranya redam.


"Raka!" Shanum meninggikan suaranya berharap akan dapat didengar sosok di kejauhan itu.


Namun, laki-laki itu seolah-olah tuli, tak jua mendengar panggilannya. Hati Shanum bergejolak, daranya berdesir hingga ke puncak tubuh. Wajah dan matanya memanas, air menyeruak hendak turun.


"Raka!" Sekali lagi Shanum memanggil, tapi tetap tak didengar oleh mereka.


Jalanan terasa jauh dan panjang, padahal kakinya sudah berlari. Tetap saja tak sampai di ujung. Seperti mereka yang tak waras, Shanum melambai-lambaikan tangan meminta sosok di sana untuk berhenti.


Bunyi klakson mobil dan motor tak dihiraukannya, satu hal yang dia lihat adalah sosok yang terus menjauh.


"Raka! Raka!" Suara Shanum semakin meninggi.


Tin!


Tin!


Klakson terus saja berbunyi, tapi Shanum tetap tak mendengar. Sampai ia menyadari keberadaannya yang menghalangi jalanan. Shanum menoleh, saat itu sebuah mobil melaju sambil menekan klakson.

__ADS_1


"Argh!" Shanum menjerit, tak sempat menghindar ia berjongkok sambil menutup kepalanya.


Tiiin!


Klakson panjang mobil terdengar menjerit-jerit, beruntung mobil itu berhenti beberapa centi saja sebelum menyentuh tubuh Shanum. Pengemudi mobil tersebut yang tak lain adalah Dzaky bergegas keluar bersama perempuan yang datang bersamanya.


"Mbak!" tegur Dzaky tanpa menyentuh tubuh yang meringkuk dalam berjongkok itu.


Suara tangis menguar lirih, Shanum belum menyadari sosok yang datang menghampiri. Pelan-pelan ia membuka kedua tangan dan menunjukkan wajahnya yang menyedihkan. Menatap sekilas pada kemacetan yang mengular disebabkan dirinya.


"Shanum? Kenapa kamu ada di sini?" Dahi Dzaky mengernyit bingung. Ia pun tak tahu jika wanita itu adalah Shanum.


"Raka!" Shanum tidak menjawab pertanyaan Dzaky, tapi teringat sebab dirinya ada di jalan tersebut.


"Raka. Aku melihatnya di sana bersama perempuan," ucap Shanum sambil berdiri dan menunjuk sebrang jalan yang jauh.


"Sebaiknya kita menepi dulu, jangan di sini." Dzaky membawa Shanum ke tepian jalan. Tak lupa ia juga menepikan mobilnya agar jalanan kembali lancar seperti sedia kala.


Perempuan yang datang bersama Dzaky membawakan sebotol air mineral untuk Shanum yang masih menangis sambil memanggil nama Raka.


"Minum dulu, Kak!" ucapnya dengan suara yang lembut.


"Minum dulu, Shanum." Dzaky mendekatkan bibir botol pada bibir Shanum.


Perlahan terbuka, dan menyeruput cukup lama sampai keadaannya membaik. Shanum mengambil alih botol tersebut dan memegangnya sendiri. Menghabiskan air di dalamnya sampai tak bersisa.


"Kenapa kamu bisa ada di tengah jalan? Ngelamun lagi? Itu bahaya, Shanum." Dzaky mencecar wanita itu dengan pertanyaan dan pernyataan.


Mendengar suara cemas dari laki-laki itu, Shanum mendongakkan kepala untuk memastikan tak salah mendengar.


"Kak Dzaky? Raka, Kak. Aku lihat Raka di sana, dia sama perempuan. Gandengan tangan, aku mau kejar dia. Aku panggil-panggil, tapi dia nggak denger, Kak." Shanum mengadu sambil menunjuk arah di mana dia melihat Raka.


Dzaky menatap ke arah tersebut, mencoba untuk menemukan laki-laki yang dimaksud Shanum. Memang ada banyak orang, tapi sosok Raka tak ada di sana.


"Mungkin kamu salah lihat, Sha. Kamu kecapean, atau lagi ngelamun mungkin. Makanya ngawur ke mana-mana. Aku tahu Raka, dan di sana nggak ada Raka." Dzaky menenangkan Shanum yang terus menangis dan meracau memanggil nama suaminya.


Wanita itu menggelengkan kepala, rasanya mata tak salah melihat. Baru saja Raka bergandengan tangan bersama perempuan lain, mesra.

__ADS_1


"Nggak mungkin, Kak! Aku nggak mungkin salah lihat. Tadi itu Raka, dia sama perempuan. Aku jelas-jelas melihat dia, Kak!" racau Shanum keukeuh.


Air matanya terus mengalir, berjatuhan menyentuh bumi. Dzaky menatap bingung perempuan yang datang bersamanya. Tak tahu bagaimana cara menenangkan Shanum.


"Mmm ... gini aja. Kamu tahu di mana suami kamu kerja? Coba kamu telpon, kamu pastiin dia ada di mana?" ucap Dzaky memberi solusi.


Shanum tercenung, kenapa tidak berpikir untuk menelpon Raka saja. Buru-buru merogoh ke dalam tas dan mengeluarkan ponselnya. Mencari nama Raka, dan menghubunginya dengan cepat.


Tak perlu menunggu waktu lama, panggilan pun tersambung.


"Hallo, yang. Kenapa? Mau makan siang bareng?" Suara Raka terdengar biasa saja.


Dahi Shanum mengernyit, ia menatap Dzaky yang tengah memperhatikan.


"Kamu di mana, Kak?" tanya Shanum yang pandangannya kemudian tertuju pada arah di mana dia melihat Raka tadi.


"Lho, di mana? Aku di toko, yang. Udah ada Doni di sini, jadi nggak terlalu keteteran. Kenapa? Emangnya kamu di mana?" jawab Raka bertanya posisi Shanum berada.


"Aku lagi di jalan mau ke toko cabang, tapi nggak sengaja lihat kamu di sini. Kamu beneran ada di toko?" Shanum memastikan.


Beberapa saat tak sahutan dari Raka, Shanum menjadi gelisah. Mulutnya terbuka hendak memanggil sang suami, tapi suara Raka mendahului.


"Oya? Padahal aku nggak ke mana-mana, lho. Tanya aja sama Irwan sama Doni. Aku dari abis nganter kamu itu nggak pergi ke mana-mana. Di toko bantuin mereka. Mungkin kamu salah lihat, yang." Raka tertawa, terdengar juga suara Irwan dan Doni yang sedang melayani pelanggan.


Lagi-lagi Shanum melirik Dzaky, kemudian menghela napas. Apakah dia mulai berhalusinasi? Pikirannya terganggu karena memikirkan hal lain.


"Sha? Shanum? Kamu nggak apa-apa?" panggil suara Raka terdengar cemas.


"Ah, iya. Aku nggak apa-apa." Shanum menjawab setelah menguasai perasaannya.


"Kamu di mana? Aku susul, ya." Semakin terdengar panik.


"Nggak usah, aku nggak apa-apa, kok. Udah, ya." Shanum mematikan sambungan, menghela napas. Sedikit merasa aneh, juga bingung.


"Gimana?" tanya Dzaky.


Shanum menggelengkan kepala, ia menunduk menyembunyikan kebingungan.

__ADS_1


"Dia di toko. Makasih, ya. Kakak udah nolongin aku. Aku mau pergi dulu." Shanum berdiri, berpamitan kepada mereka.


Ia mendekati motornya, melaju meninggalkan tempat tersebut menuju toko cabang miliknya yang sudah sangat dekat.


__ADS_2