Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 20


__ADS_3

Sementara di toko, Irwan memberitahu Raka tentang Shanum mengirimkan pesan nomor padanya.


"Ka, Shanum kirim nomor. Nomor siapa?" tanya Irwan sambil menunjukkan pesan tersebut kepada Raka.


"Oh, itu pelanggan yang seminggu lalu pesen barang. Save aja, ya. Biar nanti sore aku hubungin lagi," ucap Raka meminta kepada Irwan.


Berselang, pesan selanjutnya dari Shanum kembali masuk.


"Ka, ni dari Shanum." Irwan menyerahkan ponselnya kepada Raka. Membiarkan laki-laki itu membaca pesannya sendiri.


Ada mamah datang ke rumah. Aku mau ikut ke rumah mamah karena papah mau pulang dari perjalanan bisnisnya. Nanti kamu jemput aku, ya.


Raka tersenyum, ia berinisiatif menelpon Shanum.


"Hallo, Sha. Nanti aku jemput sekalian kita makan malam di luar, ya." Raka langsung mengatakan keinginannya untuk mengajak Shanum makan di luar.


"Tapi Mamah mau ngajak kita makan malam di rumah. Lain waktu aja, ya. Nggak enak soalnya Mamah udah bilang duluan tadi." Suara Shanum seperti bisikan, sepertinya tak ingin jika Nia mendengar percakapannya dengan Raka.


Laki-laki itu menghela napas, menatap Irwan yang sedang memperhatikan perubahan pada raut wajahnya itu.


"Ya udah. Nggak apa-apa, malam ini kita makan di rumah mamah kamu," jawab Raka pada akhirnya.


Ia mematikan ponsel setelah Shanum mengucapkan terima kasih dan berpamitan padanya. Raka menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya dengan lesu. Dia ingin mengajak istrinya itu berjalan-jalan di malam hari, tapi ajakan mertua tak dapat ditolak.

__ADS_1


"Kenapa, Ka?" tanya Irwan saat melihat air muka temannya itu berubah.


"Aku pengen makan diluar sama Shanum sekalian pengen ngasih dia kejutan, tapi udah keduluan sama mamah yang ngajakin makan malam di rumah." Raka mendesah lesu.


"Cuma gitu doang bikin lemes. Ya udahlah, 'kan, bisa besok-besok. Mungkin istri kamu kangen pengen makan malam bareng keluarganya." Irwan menepuk bahu Raka, berharap pemakluman darinya.


Raka kembali mendesah, menghela napas panjang mengurangi rasa kesal yang tiba-tiba merundung hati. Dia sudah membuat rencana untuk memberikan Shanum kejutan, tapi harus gagal.


Toko yang semakin besar, semakin banyak pelanggan yang datang. Irwan hampir tak beristirahat karena harus melayani pada pelanggan yang terus bermunculan.


"Ka, kayaknya toko ini makin rame. Kamu nggak rekrut karyawan lagi, Ka. Biar nggak keteter, tiap hari pelanggan banyak terus," ucap Irwan mulai kelelahan melayani para pembeli.


Raka berpikir, sebenarnya dia sendiri cukup kelelahan. Ia menelisik wajah Irwan, terlihat garis kelelahan di sana. Raka merasa iba sehingga ia menyetujui usul Irwan.


"Ya udah, kebetulan ada sepupu aku yang nganggur. Nanti aku minta dia bantuin kita di sini. Kamu juga kayaknya kecapean banget, ya." Raka menepuk lengan Irwan, sama lelahnya dengan laki-laki itu.


"Wan, coba kamu hubungi nomor yang tadi dikirimkan Shanum? Udah bisa belum?" titah Raka pada Irwan disaat toko sepi dari pelanggan.


Irwan menghubungi nomor tersebut, langsung diangkat dengan segera.


"Hallo, dengan siapa?" Irwan terdiam mendengarkan.


"Oh, jadi benar Anda yang memesan barang-barang dari toko kami dan meminta pertemuan di taman?" Dia kembali terdiam mendengarkan, tapi dari raut wajahnya jelas meyakinkan bahwa mereka tak salah orang.

__ADS_1


"Oh, ada. Jam berapa pertemuannya?" Irwan bertanya setelah melirik Raka.


"Baik, jam lima sore, ya. Saya catat, di taman jam lima sore." Irwan mencatat jadwal pertemuan itu, selanjutnya dia menutup sambungan dan tersenyum sumringah kepada Raka.


"Kakap, Bos! Dia minta beberapa jenis hp juga aksesoris di sini sebagai sampel dulu. Katanya, kalo cocok dia akan membayar setengahnya sebagai DP. Jam lima di taman, jangan sampe telat." Irwan meletakkan secarik kertas yang tertera tulisannya sendiri.


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Raka ingin tahu, "bisa nggak kamu aja yang pergi?" lanjutnya sambil menatap Irwan.


"Kayaknya dua-duanya, sih. Katanya dia pengen kamu sendiri yang pergi. Nggak percaya sama pekerja," jawab Irwan seadanya.


Raka mendesah, sepertinya memang dia yang harus pergi sendiri.


"Baiklah. Siapin barang-barangnya, biar nanti langsung berangkat."


"Siap, Bos!"


****


Tepat jam lima sore, Raka tiba di taman.


"Gaun berwarna hijau." Raka mengulangi kalimat itu. Matanya terus melilau ke segala arah mencari sosok bergaun hijau. Ia tersenyum, lantas berjalan menuju tempat tersebut.


"Selamat sore, Mbak!"

__ADS_1


Sosok tersebut menoleh, Raka membelalak tak percaya.


"Ka-kamu?"


__ADS_2