Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 36


__ADS_3

Raka sengaja tidak berangkat ke toko hingga siang tiba. Ia membuat menu masakan sederhana yang akan dibawanya kepada Shanum, sebagai senjata rayuan agar istrinya itu kembali bersikap hangat.


"Mudah-mudahan Shanum mau maafin aku. Rasanya, kok, nggak bisa didiemin lama-lama sama dia. Sepi duniaku." Raka terkekeh membayangkan kembali harmonis bersama sang istri.


Suasana hati Raka terganggu saat gawai miliknya berdering. Ia melirik, dan berdecak kesal ketika melihat siapa yang menelpon. Raka abai, melanjutkan kegiatannya memasukkan makanan ke dalam rentang.


Namun, dering yang sama terus terdengar berulang-ulang, sampai-sampai Raka bosan dan kesal. Terpaksa dia mengangkat telpon tersebut, dengan nada menggeram Raka menekan setiap kata.


"Udah berapa kali aku bilang jangan pernah telpon aku lagi! Ngerti nggak kamu?!" Raka langsung mematikan sambungan, dan menyimpan ponselnya di atas meja.


Kedua tangannya mengepal erat, amarah jelas memancar dari kedua matanya. Ia bergegas masuk ke kamar tanpa membawa benda itu. Membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan sang istri.


Berkali-kali ponselnya berdering, entah siapa yang menelpon. Raka tidak peduli. Dia menolak setiap panggilan yang masuk, dan mematikan ponselnya. Lalu, memilih pergi menggunakan mobil menuju toko Shanum.


Raka tersenyum melihat rantang makanan di sampingnya. Berharap Shanum akan menerima dan mau memaafkan. Sesampainya di toko, Raka sengaja memarkir mobil sedikit jauh dari lokasi tujuan. Ia melihat sang istri yang duduk di tempatnya melayani para pembeli.


"Dia emang cantik, tetap cantik walaupun lagi marah." Raka memuji, tersenyum penuh syukur mendapatkan istri seperti Shanum.


Bodoh!


Dia mengumpati dirinya sendiri, melangkah perlahan mendekati tempat sang istri bekerja.


"Hallo, istri Raka Adiputra!" sapa Raka dengan senyum termanis yang ia miliki.


Shanum membelalak mendengar suara suaminya. Ia mendongak, dan mengedip-ngedipkan mata tak percaya Raka kini ada di hadapannya.


"Raka? Ngapain kamu ke sini?" tanya Shanum sambil melirik para pembeli yang sedang memilih dan memilah aneka camilan.


"Mau makan siang sama istri aku." Raka mengangkat rantang dan meletakkannya di atas meja di hadapan Shanum.


Merona pipi Shanum, dia masih saja luluh dengan sikap manis Raka.


"Apa ini? Jangan-jangan cuma nasi." Shanum mencebik, melipat kedua tangan di dada menatap remeh pada suaminya.


Raka duduk di kursi samping meja kasir, menghela napas panjang. Ia tetap tersenyum, tidak tersinggung sama sekali.

__ADS_1


"Ini aku masak spesial buat kamu. Aku masak sendiri, lho. Ada ruangan khusus nggak, buat kita berdua? Aku pengen makan berdua sama kamu." Raka celingukan ke sana kemari, mencari-cari tempat.


"Kayak nggak tahu aja toko aku. Cuma ada gudang, di sebelah cuma ada dapur. Mau di mana? Di gudang apa di dapur?" ucap Shanum yang ambigu hingga membuat para pengunjung menoleh pada mereka.


"Di gudang ajalah, di dapur pasti banyak orang. Aku nggak mau ada yang ganggu." Sahutan dari Raka semakin membuat para pengunjung salah faham.


"Ya udah, yuk! Aku mau nyobain masakan suami aku." Shanum beranjak sambil membawa rantang berisi masakan Raka.


Para pengunjung mendesah, menggelengkan kepala dan tersenyum malu pada pemikirannya sendiri. Mereka kira apa, ternyata mau makan siang.


Shanum dan Raka masuk ke dalam gudang, menutup pintu tak ingin ada yang mengganggu. Wati sigap menggantikan sang atasan, menunggu para pembeli membayar.


"Mbak, itu mereka suami istri, ya?" tanya pengunjung kepo.


"Iya, Bu. Mereka atasan saya, yang punya toko ini." Wati menjawab seadanya.


Pembeli tersebut membulatkan bibir, menebak pastilah mereka pasangan baru menikah. Wati menggeleng-gelengkan kepala, ada-ada saja memang kelakukan bosnya itu.


Di dalam gudang, Shanum mulai membuka rantang yang dibawa Raka. Ia temukan sayur asam yang dibungkus plastik. Shanum mendongak, menatap suaminya. Yang ditatap menggaruk-garuk kepala malu.


"Lengkap, ya. Ada sayur, tahu tempe, lalapan, sambel. Beneran kamu yang masak?" selidik Shanum sambil mengeluarkan sendok yang juga dibawa Raka.


"I-iya. Aku nggak ke toko karena pengen masak buat kamu," ucap Raka dengan lirih.


"Kenapa tiba-tiba mau masak buat aku?" tanya Shanum sambil mencicipi sayur asam yang dibuat Raka.


"Y-yah, supaya kamu nggak diemin aku lagi. Aku nggak tahan didiemin sama kamu, Sha. Kalo aku ada salah, aku minta maaf. Jangan cuekin aku lagi." Raka memandang sendu pada istrinya.


Sementara Shanum, asik merasai sayur yang dibuatkan Raka.


"Sayur kamu enak, di rumah masih ada?" Seolah-olah tak ingin membahas masalah kemarin, Shanum bertanya tentang sayur.


"Masih. Mungkin tinggal semangkuk, aku masak sedikit," jawab Raka dengan bibir yang cemberut.


"Nggak apa-apa, cukup kalo cuma buat aku." Shanum tersenyum, memberikan sendok kepada suaminya.

__ADS_1


"Ayo, makan. Nggak usah mikirin apa-apa nanti makannya nggak enak," ucap Shanum sambil menyendok nasi dan mengambil tempe goreng. Kemudian lalapan yang dicolek sambel.


"Tapi, Sha. Kamu nggak akan nyuekin aku lagi, 'kan? Aku janji, apapun yang bikin kamu nggak seneng bakal aku tinggalin, Sha." Raka merayu.


"Termasuk ketemuan sama pembeli di luar?" tanya Shanum tanpa melirik pada suaminya.


"Iya, Sha. Aku janji nggak akan ketemuan sama pembeli di luar lagi. Udah, ya. Kamu jangan diemin aku lagi." Raka menggenggam tangan Shanum, memohon pada istrinya itu.


Shanum menghela napas, menatap kedua manik Raka, menilik kesungguhan di dalamnya. Ia tersenyum, dan mengangguk pelan. Raka sumringah karenanya, laki-laki itu menarik tubuh Shanum ke dalam pelukan, menghujani wajahnya dengan kecupan.


"Udah, ah. Ayo, makan!" Shanum meringis geli, tapi sekali lagi Raka memagut bibir ranum itu sebelum menjauh.


"Ayo!" katanya.


Mereka menikmati makanan sederhana itu dengan penuh kebahagiaan. Masakan Raka berhasil membuat hati Shanum luluh, hubungan mereka kembali menghangat, kembali harmonis seperti sedia kala.


****


"Kapan kontrol kandungan lagi? Perut kamu udah mulai kelihatan," Raka mengusap perut Shanum, mereka masih berada di gudang. Duduk di bangku panjang tempat para karyawan beristirahat.


"Iya, udah lama juga nggak kontrol. Mungkin udah masuk bulan ke lima. Soalnya udah ada gerakan," jawab Shanum dengan perasaan yang entah.


Kemarin-kemarin Raka terkesan cuek dan tidak pernah menanyakan tentang kehamilannya. Shanum sedikit bahagia ketika sang suami menanyakan itu.


"Besok aja, ya. Aku antar, aku juga pengen tahu udah berapa bulan anak kita." Raka menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


Keduanya saling memandang satu sama lain, semakin jatuh cinta laki-laki itu dibuatnya. Shanum memiliki paras yang cantik, tak hanya itu dia juga baik dan suka menolong. Cantik secara lahir dan batin. Sempurna.


Kamu bodoh, Raka, kalo sampai kehilangan Shanum.


Perlahan, Raka mendekatkan wajahnya. Sudah lama sekali rasanya ia tidak mencicipi bibir ranum itu. Memagutnya dengan mesra, saling mencecap rasa yang sekian hari tak merasa lakukan karena masalah terus saja berdatangan.


"Aku sayang kamu, Sha. Aku nggak mau kehilangan kamu," bisik Raka setelah puas melahap bibir sang istri.


Shanum tidak menyahut, ia melabuhkan diri ke dalam pelukan Raka. Menjawab lewat sentuhan.

__ADS_1


__ADS_2