Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 38


__ADS_3

"Bukannya itu mobil Mamah?" Dahi Shanum mengernyit. Dua mobil terparkir, tapi tak ada siapapun di halaman.


"Iya, tapi ke mana mereka?" Raka memutar pandangan ke segala arah, tak jua sosok orang tua mereka ditemukan.


Shanum membuka pintu mobil dan keluar diikuti Raka yang melakukan hal sama. Mereka mendatangi kedua mobil itu, memeriksa pemiliknya.


"Nggak ada. Ke mana, ya?" Shanum menatap Raka dengan wajah yang memicing.


"Mungkin ke belakang kali," sahut Raka menerka.


Shanum berjalan lebih dulu ke halaman belakang rumah mereka. Sayup-sayup terdengar suara tawa dari kedua pasang paruh baya di belakang rumah. Shanum dan Raka tersenyum, seraya melanjutkan langkah menuju sumber suara.


"Mamah! Papah!" panggil mereka serentak. Serentak pula keempat paruh baya itu menoleh.


"Kalian sudah pulang?" Leni dan Nia berhambur menghampiri keduanya, disambut uluran tangan mereka.


"Kapan kalian datang? Terus kenapa duduk di halaman belakang?" tanya Shanum menatap mereka berdua.


"Tadi kami datang kalian nggak ada. Ya udah, kita tunggu di sini aja." Nia menjelaskan.


Raka dan Shanum menghampiri ayah mereka, dan menyalami keduanya.


"Ya udah, ayo masuk!" Shanum membuka pintu belakang dan mengajak mereka semua untuk masuk.


"Kenapa Mamah sama Papah datang sore-sore begini?" tanya Shanum saat membawakan minuman serta camilan ke ruang tamu.


Ia duduk di samping Raka, mereka berpasang-pasangan. Nia dan Leni saling melirik satu sama lain, pandangan mereka menyapu pada bagian perut Shanum.


"Kita nggak tahu apa ini kejutan buat kita atau kejutan buat kalian. Kenapa kalian nggak bilang-bilang sama kami?" ujar Nia tersenyum aneh pada pengantin baru itu.


Shanum dan Raka saling menoleh, kerutan di dahi mereka jelas terlihat. Bingung dengan apa yang ditanyakan sang mamah.


"Maksud Mamah apa? Apa yang nggak bilang-bilang sama Mamah?" tanya Shanum dengan raut bingung yang kentara.


"Udahlah, jangan disembunyiin lagi. Udah berapa bulan?" Pertanyaan dari Leni semakin membuat Shanum dan Raka tidak mengerti. Keduanya belum sadar yang mereka bicarakan adalah perihal kandungan Shanum yang sengaja belum diberitahukan kepada orang tua mereka.

__ADS_1


"Maksud Mamah apa?" Giliran Raka yang bertanya kepada mamahnya.


Mereka mendengus, menganggap anak dan menantu di hadapan sedang berpura-pura tidak mengerti.


"Duh, kalian ini. Masih pura-pura aja, ya. Mau sampe kapan nyembunyiin kehamilan Shanum? Kita juga berhak tahu, dong. Gimana, sih?" Leni bersungut-sungut kesal, tapi rona bahagia jelas terpancar di wajah hampir keriput itu.


Shanum merona, melirik Raka yang seketika tertegun mendengar suara sedikit tinggi dari mamahnya itu.


"Mmm ... masalah itu?" Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, melengos dari tatapan tajam sang mamah.


"Iya, Nak. Kenapa kalian nggak bilang sama Mamah dan Papah?" Nia berucap lebih lembut, memandang keduanya dengan senyum hangat khas seorang ibu.


Shanum melempar tatapan pada wanita yang telah melahirkannya itu. Jelas terlihat kebahagiaan di wajah tuanya. Membuat Shanum terenyuh.


"Kemarin itu kita ada sedikit masalah, Mah. Jadi, belum sempat aja. Lagian akhir-akhir ini pesanan kue juga lagi banyak banget, masih belum sempat kasih tahu soal kehamilan Shanum," ungkap Shanum sembari melempar lirikan kepada Raka.


Raka tersenyum, sudah waktunya mereka mengabarkan berita baik itu kepada orang tua.


"Benar, Mah, Pah. Belum sempat, lagipula baru mau masuk lima bulan." Raka menimpali sembari meraih tangan Shanum dan menggenggamnya.


"Udah, Mah. Besok rencananya mau periksa lagi," jawab Shanum diangguki Raka.


"Wah, anak kita tokcer juga, Pah. Langsung jadi, lho!" Leni meremas gemas tangan sang suami.


Raka tersipu, melirik Shanum yang merunduk menyembunyikan rona di pipinya.


"Bener. Hebat kamu, Ka. Papah dulu butuh waktu dua tahun baru punya kamu. Ini langsung jadi aja. Luar biasa!" Papah Raka memuji sang anak, mengacungkan jempol tinggi-tinggi.


Semakin tersipu-sipu suami Shanum itu, dalam hati membangga keperkasaannya. Diremasnya jemari Shanum, tak kuasa menahan gejolak kebahagiaan.


"Kita benar-benar orang tua yang beruntung, cepat banget punya cucu. Berasa udah tua beneran," seloroh Nia dengan mata berkaca-kaca.


"Aduh, Mamah ini. Kita ini emang udah tua, masa baru berasa?" ledek sang suami berdecak sambil menggelengkan kepala.


"Iya, ya. Kok, nggak sadar diri." Mereka tergelak, perbincangan dilanjutkan seputar kehamilan Shanum dan mereka berdua akan bergilir mengurusi bayinya.

__ADS_1


Malam tiba, ketiga wanita di rumah itu asik berkutat di dapur. Yang dua sibuk membuat menu untuk makan malam, yang satu dibiarkan menonton dengan alasan karena sedang hamil sehingga mudah merasa lelah.


"Sayang udah lima bulan. Padahal Mamah pengen bikin acara empat bulanan kalo tahu dari awal," celetuk Nia sambil mengiris sayuran.


"Maaf, Mah, tapi masih ada tujuh bulanan. Nanti aja, ya, pas tujuh bulanan. Nggak apa-apa, 'kan?" Shanum merasa tak enak hati, karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, keduanya lupa untuk mengabarkan kehamilan Shanum.


"Iya, Bu Nia. Kita bikin acara tujuh bulanan aja. Kita undang teman-teman biar mereka semua tahu kalo sebentar lagi kita akan punya cucu," timpal Leni gemas. Tak sabar membayangkan acara tersebut digelar di mana semua rekan mereka akan diundang.


"Nah, bener-bener. Ide bagus, kita undang semua teman-teman. Jangan lupa juga tetangga, biar yang suka nyinyir mulutnya bisa diem." Nia menyahut.


Shanum menghela napas, mulai menjadi pendengar yang baik untuk acara bergosip dua mak-mak di hadapannya. Ia menggelengkan kepala, melipat kedua tangan di perut, melihat betapa asiknya mereka bergosip.


"Iya, bener. Itu si Juminah yang suka nyinyir, mulutnya kaya ember bocor, terus nyerocos sampe muncrat, biar mingkem juga."


"Emang dia itu paling julid, apalagi kalo kita lagi kumpul-kumpul. Terus aja banggain menantunya yang katanya punya mobil, punya rumah, punya kerjaan bagus." Leni mencibirkan bibir.


Semakin panas gosip yang keluar dari lisan mereka. Shanum menghela napas berkali-kali, masih menjadi pendengar setia.


"Mah! Nggak baik, lho, ngomongin orang. Ghibah, nggak boleh." Shanum akhirnya buka suara, jengah sendiri mendengar gosip yang mereka lakukan.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Kamu bener, Sha. Kenapa kita jadi ngegosip kayak begini?" Nia menutup mulutnya, beristigfar karena khilaf telah membicarakan orang lain.


"Iya, juga, ya. Kok, kita malah jadi ngomongin orang?" Leni menimpali setelah sadar. Lalu, keduanya tergelak, entah apa yang ditertawakan. Shanum mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Eh, Sha. Besok berangkat ke dokter jam berapa?" tanya Leni sembari menghidangkan makanan yang telah selesai dimasaknya.


"Nggak tahu, sih, Mah. Gimana Raka aja," jawab Shanum belum pasti.


"Kabarin aja kalo kalian mau berangkat, kita mau nyusul." Nia melirik Leni sambil memainkan matanya.


Shanum menganggukkan kepala tanpa berkata lagi.


Brak!


Eh?

__ADS_1


"Apaan tuh?"


__ADS_2