Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 39


__ADS_3

Brak!


Suara benda terjatuh terdengar amat mengejutkan. Berasal dari halaman depan yang mereka ketahui tak ada siapapun di sana.


"Apaan tuh?" Leni memekik terkejut bahkan, kedua suami mereka yang duduk di halaman belakang pun, datang berhambur ke dapur.


"Suara apa itu?" tanya ayah Shanum dengan wajah yang terkejut.


"Nggak tahu, Pah." Shanum berjalan lebih dulu, merasa tak menemukan suaminya di sana. Para orang tua menyusul di belakang, penasaran dengan suara keras tersebut.


"Raka?" Shanum berhenti di ambang pintu, menatap suaminya yang mematung di teras dengan vas bunga berantakan di lantai.


Nia menarik tangan Shanum untuk menjauh, khawatir pamali kata orang tua terjadi. Kedua laki-laki paruh baya mengambil alih mendekati Raka yang terlihat seperti patung menatap kosong ke pintu gerbang yang tertutup.


"Raka!" Sang ayah mengguncang tubuhnya, dibantu pak Hanan, papah Shanum, yang ikut mengusap wajah sang menantu.


"Astaghfirullah al-'adhiim!"


Tubuh Raka mundur ke belakang dan ambruk di kursi depan. Napasnya yang sempat terhenti kini memburu dengan cepat. Wajah yang semula pucat, langsung memerah, keringat dingin bermunculan menjatuhi tubuh.


"Istighfar, Nak. Ada apa?" tanya sang papah sambil mengelus punggung Raka.


Raka yang terlihat seperti orang linglung, menatap kedua laki-laki paruh baya di kanan dan kirinya dengan pandangan bingung yang kentara.


"Ada apa, Raka? Kenapa kamu kayak orang bingung?" tanya papah Shanum. Keduanya terlihat cemas melihat keadaan Raka.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Nggak tahu, Pah. Raka juga nggak tahu apa-apa. Tadi, waktu Raka ke teras buat nyari angin segar, tiba-tiba ada orang yang lewat sambil melempar batu. Raka cuma kaget, Pah, karena vas bunga yang pecah. Ini nggak biasanya," cerocos Raka dengan raut bingung juga gelisah yang sangat terlihat.


Mereka berdua saling pandang satu sama lain, begitu pula wanita yang di dalam.


"Emang selama ini kalian suka ada yang ganggu?" tanya Leni merasa bersalah karena rumah itu dari mereka.


Shanum menggelengkan kepala, selama ini mereka baik-baik saja tinggal di komplek tersebut.


"Nggak pernah, Mah. Orang-orang di sini baik-baik semua. Mungkin bukan orang sini, atau mungkin Raka menyinggung seseorang?" Shanum menebak, melirik Raka yang begitu terpukul.

__ADS_1


"Bisa jadi." Nia dan Leni melirik suami mereka, kedua laki-laki itu kemudian menatap waspada kepada Raka.


"Kamu ada menyinggung perasaan orang? Mungkin aja dia sakit hati dan nggak terima sama sikap kamu?" tanya papah Raka.


Suami Shanum itu termenung, terlihat berpikir keras mengingat-ingat siapa yang sudah ia singgung.


"Nggak, Pah. Raka nggak pernah berurusan sama orang kecuali sebagai penjual dan pembeli. Tetangga di sini juga baik-baik semua. Mereka suka datang ngobrol sama Shanum, dan nggak pernah ada masalah," jawab Raka dengan bingung.


Entah dia menyinggung siapa, sampai-sampai ada orang yang berbuat tak senang seperti itu.


"Kamu lihat orangnya?" tanya papah Shanum.


"Nggak, Pah. Hitam semua, dia pakai baju hitam. Raka lihat larinya cepet banget," jawab Raka lagi menunjuk arah yang tak diterangi lampu jalan.


Ia kembali tertegun, sama seperti Shanum yang juga merenung. Mengingat-ingat terakhir kali dengan siapa dia berinteraksi.


Apa mungkin suami rosa? Tapi dia nggak tahu kalo Rosa pernah datang ke sini, 'kan? Masa iya? Apa Raka ada masalah di luar? Atau jangan-jangan ... Shila?


Pikiran Shanum semerawut. Entah siapa? Dia tidak dapat menebaknya. Atau hanya orang iseng yang suka membuat onar.


"Udah, ayo masuk. Tutup pintunya, jangan di luar terus." Shanum beranjak, meminta mereka untuk masuk ke dalam.


"Udah, nggak usah dipikirin. Mungkin cuma orang iseng, mending kita makan," ucap Shanum dengan sikap tenangnya.


Ia mengusap-usap bahu Raka yang berhenti tepat di sampingnya. Pandangan laki-laki itu sendu, Shanum tahu ada yang disembunyikan Raka dibalik tatapan matanya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Raka dengan suara tercekat di tenggorokan.


Shanum mengernyit, tersenyum heran dengan pertanyaan suaminya.


"Emangnya aku kenapa? Aku nggak apa-apa." Shanum menghendikan bahu, menunjukkan yang dia baik-baik saja.


Raka mengusap kepala istrinya, tersenyum meski terpaksa. Mendekap Shanum dengan hangat, mencium ubun-ubun wanita itu.


"Kamu kenapa?" tanya Shanum dengan suara yang redam lantaran kepala membenam di dada Raka.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Aku cuma takut kamu kenapa-napa. Ya udah, yuk. Kita makan."


Shanum menganggukkan kepala, tanpa melepas rangkulannya mereka menyusul para orang tua ke meja makan. Duduk dengan tenang, dan makan tanpa membahas masalah yang tadi.


****


"Papah sama Mamah nggak nginep?" tanya Shanum dengan sedih.


"Lain kali aja, ya. Nanti Papah kirim orang buat jaga-jaga di sekitar rumah kalian. Takutnya ada orang iseng lagi pas kalian tidur. Jadi, kalian bisa tidur nyenyak," ucap sang papah menenangkan keduanya.


"Makasih, Pah." Raka menyahut.


"Ya udah, kita pamit dulu. Istirahat aja, jangan terlalu mikirin yang tadi." Leni mengusap tangan Shanum, begitu memperhatikan wanita hamil itu.


"Hati-hati, Mah, Pah!"


Mereka melambaikan tangan, dan pergi setelah orang suruhan pak Hanan datang untuk berjaga di sekitar rumah mereka. Kini, keduanya tengah berbaring di kamar. Mata belum ingin terpejam, Shanum menyandarkan kepala di dada suaminya, dengan tangan yang memeluk tubuh laki-laki itu.


"Kamu yakin nggak bikin masalah sama orang?" tanya Shanum dengan suara yang lirih.


Raka mengusap-usap lengan sang istri, sesekali mengecup kepalanya yang selalu harum.


"Aku nggak tahu kalo untuk itu, tapi emang perasaan aku nggak pernah berurusan sama orang kecuali sebagai penjual dan pembeli aja." Raka menjawab dengan suara parau.


"Apa mungkin suaminya Rosa?" gumam Shanum teringat pada tetangga barunya itu.


"Rosa? Siapa itu Rosa?" Raka bertanya, ia melirik istrinya yang kebetulan mendongak.


"Tetangga yang baru pindah, pengantin baru. Menikah dengan kasus yang sama kayak kita, terpaksa karena dijodohkan. Suaminya masih berhubungan dengan pacarnya, dan Rosa nggak pernah dianggap sebagai istri. Dia datang ke sini dan curhat sama aku," ucap Shanum.


Entah kenapa, mendengar cerita istrinya jantung Raka bergemuruh. Ditatapnya kedua manik Shanum dengan gugup. Ada sesuatu yang mengusik relung jiwa Raka, dan membuatnya gelisah.


"Emang kamu ngapain?" tanya Raka dengan suara bergetar.


"Nggak ngapa-ngapain, aku cuma kasih saran sama dia buat berani ngomong sama orang tua mereka kalo pernikahan yang dijalaninya nggak sehat. Siapapun pasti nggak akan bahagia kalo ada di posisi Rosa. Aku kasihan sama dia," ungkap Shanum sambil mengeratkan pelukan.

__ADS_1


Darah Raka berdesir hingga membuat kepalanya berdenyut.


"Udahlah, nggak usah mikir yang macam-macam. Mending kita tidur sekarang." Raka merebahkan tubuh mengajak Shanum untuk segera tertidur.


__ADS_2