Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 35


__ADS_3

Malam itu, Raka benar-benar tak berselera untuk makan. Sepanjang mengunyah makanan, terpikirkan terus sikap Shanum yang dingin dan tak acuh padanya. Berkali-kali menjatuhkan sendok di atas meja, tapi kemudian mengambilnya setelah melihat nasi di atas piring.


"Shanum kenapa, ya? Apa iya karena tadi siang aku nggak ada di toko? Masa sampe segitunya?" Raka bergumam sendiri, tak habis pikir dengan sikap istrinya.


"Apa ada yang ngadu domba lagi, ya? Kayak aku kemarin, tapi Shanum nggak ngomong apa-apa. Ya Allah, aku harus gimana?" Raka mengacak-acak rambutnya.


Sudah lelah tadi sore mencari, sekarang setelah bertemu didiamkan. Rasanya sakit. Raka mengusap wajahnya, semakin tak berselera berhadapan dengan makanan Shanum.


Siang tadi dia baru saja mendapatkan kebahagiaan, sekarang seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Raka menyudahi makannya, mencuci piring meski masih ada nasi tersisa. Dia terburu-buru menyusul Shanum ke kamar, ingin membicarakan apa yang sudah terjadi.


Namun, perempuan itu sudah bergelung di dalam selimut, terlelap dalam tidur. Raka mendekat, memastikan istrinya benar-benar tertidur. Dengkuran halus yang menguar, menjadi tanda bahwa Shanum benar-benar telah terlelap.


"Sebenarnya kamu kenapa, Sha? Kenapa sikap kamu dingin kayak gini sama aku?" Raka bergumam perih, disapunya rambut sang istri yang menutupi wajah cantik itu.


"Harusnya kamu ngomong sama aku, jangan diemin aku kayak gini. Aku nggak bisa kamu diemin kayak begini, Sha." Raka terus bergumam, tapi percuma. Shanum tetap terpejam, terlelap dalam balutan kegelisahan.


Raka mencium pelipis sang istri, kemudian berdiri dan pergi ke sisi lain ranjang untuk berbaring. Dia membelakangi Shanum, bermain dengan ponsel guna mengusir kantuk. Tanpa ia ketahui, Shanum belumlah tertidur, tapi tak berniat berbincang dengannya.


Keesokan harinya, sebelum subuh Shanum sudah terjaga dari tidur. Memasak seperti biasa seolah-olah tak ada masalah. Membersihkan diri dan menunaikan ibadah dua raka'at. Ada yang berbeda untuk hari itu, Shanum sarapan seorang diri tanpa membangunkan Raka. Ia juga berangkat di pagi buta dengan meminta Lia menjemputnya.


"Ini masih gelap, Sha. Raka nggak kamu bangunin?" tanya Lia sembari melirik rumah Shanum yang ruang tamunya sengaja digelapkan.


"Nggak, Lia. Aku pengen ngasih dia pelajaran supaya nggak seenaknya bersikap. Aku ini istrinya walaupun cuma pengganti. Udahlah, kita berangkat." Shanum menepuk bahu Lia memintanya untuk segera pergi.


Lia berdecak, merasa ada yang disembunyikan Shanum selain yang dia ceritakan kemarin. Tak ada perbincangan di sepanjang perjalanan menuju toko milik Shanum. Pagi buta begini, karyawan sudah berada di tempat menyiapkan pesanan kue-kue.

__ADS_1


"Makasih, ya." Shanum tersenyum dan hendak pergi, tapi tangan Lia dengan cepat mencegahnya.


"Tunggu, Sha!" Lia menilik wajah lelah seorang Shanum. Bukan karena pekerjaan, tapi karena beban pikiran yang bertumpuk.


"Kenapa? Bukannya kamu harus siap-siap pergi kerja?" Shanum melipat kedua tangan di perut dengan bibir mengulas senyum.


"Aku mau tanya, deh. Apa Shila masih suka gangguin kamu? Masih suka datang ke Raka buat rayu-rayu?" Pertanyaan Lia membentuk kerutan di dahi Shanum.


Di awal-awal pernikahannya dengan Raka, gadis itu memang kerap datang mengganggu. Namun, beberapa waktu terakhir, dia tak pernah lagi menemukan Shila berada di toko suaminya. Shanum menggelengkan kepala, merasa ada janggal dari pertanyaan sahabatnya itu.


"Emangnya kenapa?" Shanum bertanya lirih. Berbagai praduga muncul menyelubungi hati. Prasangka buruk pun ikut timbul mengompori emosi.


"Ah, nggak apa-apa, kok. Syukur kalo udah nggak pernah ganggu. Mungkin dia udah sadar bahwa Raka itu udah punya kamu." Lia menghendikan bahu, tapi berbeda dengan Shanum.


Hatinya tak tenang dan diliputi rasa curiga terhadap menghilangnya Shila yang suka mengganggu. Shanum tahu tipe seperti apa seorang Shila. Dia tidak akan pernah berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.


Istri Raka itu masih berdiri di sana, memperhatikan kepergian motor Lia sambil berpikir tentang apa yang tidak ia ketahui. Shanum memilih duduk di kursi depan toko, mengusap wajah, menarik napas guna menghilangkan gundah gulana. Tetap saja, rasa gelisah enggan pergi dari sisinya.


"Apa yang dia lakukan di belakang aku? Mungkin yang aku lihat itu memang Raka, bukan halusinasi. Apa aku harus menyelidikinya?" Shanum bergumam, digigitnya bibir menahan geram yang muncul tak berkesudahan.


"Lho, Bu Shanum? Udah datang?" tegur salah satu karyawan yang muncul dari dalam toko hendak membuang sampah.


Shanum tersenyum, dan mengangguk.


"Lagi pengen datang awal. Di sini sepi banget, ya, kalo subuh." Shanum menatap sekeliling, pertokoan dan sedikit perumahan penduduk yang masih nampak lengang.

__ADS_1


"Iya, Bu, tapi kalo siang ramenya bukan main." Ia duduk di teras, menemani Shanum.


"Ada banyak pesanan?" Shanum meliriknya.


"Alhamdulillah, pesanan kue ulang tahun tujuh buah. Pesanan kue-kue basah, lebih banyak lagi. Setiap hari selalu ada pesanan. Berkah tokonya, Bu." Ia mendongak, menatap Shanum dengan senyum sumringah.


"Alhamdulillah, ya Allah. Mudah-mudahan bisa mencukupi keluarga kalian semua." Shanum tersenyum penuh syukur, dia ikut merasa bahagia jika semua karyawan merasa bahagia.


"Aamiin. Kalo gitu, saya buang sampah dulu, Bu. Jangan ngelamun, masih gelap." Karyawan laki-laki itu beranjak, sambil menyeret sekantong plastik besar sampah dari dalam toko.


Shanum menggelengkan kepala, seraya beranjak dan masuk ke dalam toko yang belum terbuka sempurna. Ia memeriksa dapur, para pekerja yang berjumlah tiga orang tengah membuat pesanan.


"Pagi, Bu. Tumben udah dateng," sapa mereka tanpa beranjak.


"Ini masih subuh. Iya, kebetulan sekalian ada perlu tadi," kilah Shanum sambil tersenyum ramah kepada mereka.


Ia kembali ke depan, membuka pintu toko secara sempurna. Membantu bersih-bersih, merapikan rak-rak yang akan digunakan untuk menyimpan kue-kue. Lagi-lagi Shanum tercenung, teringat akan kehidupannya bersama Raka yang mulai terasa hambar.


Sementara di rumah, Raka yang tidak dibangunkan oleh Shanum. Menggeliat di atas ranjang ketika sinar matahari menerpa wajah. Pagi sudah datang menjelang, Raka terperanjat dari tidurnya.


"Astaghfirullah! Kenapa Shanum nggak bangunin aku?" Ia mengambil ponsel, melihat jam.


"Astaghfirullah! Jam delapan? Apa Shanum lupa sama aku?" Dia beranjak, keluar kamar mencari keberadaan sang istri.


"Sha! Kenapa kamu nggak bangunin aku?" Raka mendatangi dapur, tak ada siapapun. Ia membuka tudung saji, melihat makanan yang sudah hampir dingin.

__ADS_1


Raka duduk di meja makan, rasa lapar menyerangnya karena semalam makan hanya sedikit. Ia mencuci piring bekas makannya, dan kembali ke kamar setelah tidak menemukan Shanum di setiap sudut rumah.


"Mungkin dia udah berangkat duluan."


__ADS_2