Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 13


__ADS_3

"Ugh!"


Shanum melenguh sampai meringis tatkala ia mencoba untuk beranjak duduk dari tidurnya.


"Perih banget." Ia mengeluh sambil memegangi bagian bawahnya.


Tubuh tanpa busana itu dililitnya dengan selimut. Semalam, Raka berhasil menerobos gerbangnya. Meski dipenuhi drama, juga tangis kesakitan, tetapi pada akhirnya mereka dapat melewati bersama-sama malam panas itu.


Shanum melirik suaminya, ia tidur tertelungkup tanpa mengenakan pakaian. Hanya bagian bawahnya saja yang tertutup selimut. Nyenyak sekali.


Shanum kembali meringis, manakala mengintip ke dalam selimut di mana tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Dia meneguk ludah, melirik kamar mandi yang terasa jauh. Lalu, matanya jatuh pada pakaian yang bertebaran di lantai.


"Raka beneran melakukan itu. Ngilu banget, ya Allah." Shanum melirih. Mencoba untuk beranjak menurunkan kedua kaki ke lantai.


Dengan gerakan pelan dan hati-hati, ia memunguti pakaian yang berserak. Shanum mengenakan piyamanya, menyibak selimut dan mencoba untuk berdiri.


"Duh! Perih!" keluhnya sedikit membungkukkan tubuh menjeda langkah untuk mengurangi rasa perih dan ngilu. Seperti apa Raka melakukannya sehingga wanita itu kesulitan berjalan.


Mendengar keluhan sang istri, Raka mengernyit. Perlahan membuka mata, lamat-lamat melihat satu sosok yang membungkuk memegangi bagian perut bawahnya.


"Ya Allah, Shanum!" Raka terlonjak dari tidurnya, tanpa peduli pada tubuh polos ia melompat turun dari ranjang.


Dengan gerakan cepat, mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke kamar mandi. Tak lupa pula, menyalakan kran air hangat untuk mereka berendam.


"Kamu nggak pake baju." Shanum menutupi wajah ketika Raka menurunkannya dari gendongan.


Laki-laki itu meringis, malu sebenarnya. Akan tetapi, ia menepis semua rasa itu karena Shanum adalah istri seutuhnya yang dia punya.


"Nggak apa-apa. Mulai sekarang kamu harus terbiasa, kamu akan sering lihat aku kayak gini," ucap Raka tanpa tahu malu.


Shanum menganga tanpa membuka kedua tangan dari wajahnya. Raka masuk lebih dulu ke dalam bathtub, kemudian menarik tangan Shanum untuk ikut berendam di dalamnya.


"Air angetnya bisa sedikit ngobatin rasa perih di punya kamu. Sini!" ucap Raka dengan penuh kelembutan.


Shanum berbalik memunggungi, tanpa membuka piyama ia masuk ke dalam bathtub menuruti kata-kata Raka.


"Lho, kenapa nggak buka baju?" tanya Raka, sigap tangannya hendak membantu Shanum melepas piyama.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?" Shanum menjadikan kedua tangan perisai di dada. Menolak Raka membuka bajunya.


"Cuma mau buka baju kamu aja." Raka menjauh membiarkan istrinya membuka sendiri piyama tersebut.


Setelah itu, Raka menarik tubuh Shanum untuk lebih dekat dengannya. Memeluknya dari belakang sambil memberikan pijatan-pijatan lembut di punggung tanpa cacat wanita itu.


"Maaf, ya. Mungkin semalam aku keterlaluan sampai kamu kesakitan kayak gini," bisik Raka di telinga istrinya. Ia melingkarkan tangan di pinggang Shanum, menciumi pundak wanita itu.


"Kamu liar banget semalam. Bukannya pelan-pelan, kata orang sakit kalo pertama kali ngelakuin itu." Shanum merajuk, teringat pada tadi malam di mana dia menjerit histeris manakala Raka berhasil masuk.


"Iya, abisnya aku nggak bisa nahan, tapi nanti-nanti udah nggak sakit lagi, kok. Kamu akan terbiasa," ucap Raka dengan penuh kelembutan.


"Sekarang masih perih?" tanyanya iseng.


Shanum menganggukkan kepala. Raka membalik tubuhnya, memberikan kecupan-kecupan di wajah wanita itu. Meninggalkan jejak cinta di bagian bahu serta dada. Selanjutnya, hanya mereka yang tahu.


****


"Ka, aku mau di rumah aja hari ini. Malu, nanti kata orang apa," ucap Shanum saat mereka menikmati sarapan yang dibuat tangan Raka sendiri.


Laki-laki itu tersenyum, mengusap rambut sang istri seraya duduk di sampingnya.


Hari itu mereka menjadi suami istri yang sesungguhnya. Shanum menganggukkan kepala, teringat pada sprei yang ternoda bekas semalam.


"Aku udah cuci spreinya, kamu nggak usah ngapa-ngapain hari ini pokoknya. Semua kerjaan udah beres, tunggu aku pulang aja, ya." Raka berdiri mengecup dahi Shanum.


Tersipu wanita itu, Raka sungguh pengertian. Dia bahkan menyelesaikan semua pekerjaan seorang diri.


"Ayo, aku bantu ke ruang tv. Kamu nggak usah ke mana-mana," ucap Raka diangguki Shanum.


Ia memapah istrinya sampai ke ruang televisi, berpamitan dengan mesra. Lalu, pergi bekerja dengan menggunakan motornya. Raka tidak membawa mobil pemberian sang mertua karena hanya pergi seorang diri.


Shanum merebahkan tubuh, bermain ponsel mengabari para karyawan yang dia tidak enak badan dan tak dapat datang ke toko. Shanum tersenyum dengan kedua pipi yang menghangat mengingat pergulatannya semalam.


Kini, dia telah menjadi istri Raka seutuhnya. Lahir batin milik laki-laki itu.


"Aku nggak nyangka akan jadi istri sahabatku sendiri. Hmm ...." Shanum menghela napas, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih.

__ADS_1


Ia menoleh pada jendela saat sekelompok anak berseragam sekolah melintas di depan rumahnya. Tak ada yang dia lakukan di hari itu, hanya beristirahat meringankan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.


Sha, aku ke toko hari ini, tapi kata karyawan kamu nggak masuk hari ini nggak enak badan. Aku mau ke rumah kamu, ya.


Pesan dari Lia, sahabat Shanum.


Iya, tapi kamu tahu nggak rumah baru aku?


Shanum membalas tanpa beranjak dari tempatnya.


Share lokasi!


Shanum mengirimkan lokasi rumah barunya. Ia kembali terdiam menunggu Lia datang.


Bawa camilan, Lia. Aku nggak punya makanan di rumah.


Pesan terkirim, terbaca. Shanum kembali menunggu, membuka pesan dari Raka yang masuk memberitahunya telah sampai di toko. Sudah ada mamah dan papah Raka di sana, hari itu akan datang barang ke toko yang dipesan oleh Shanum.


Ia menghela napas, dalam sekejap kehidupannya berubah drastis. Beberapa saat menunggu, bunyi deru motor terdengar di halaman. Shanum tahu itu adalah Lia.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam. Masuk, Li!" Shanum menjawab tanpa beranjak.


Ia masih terbaring di sofa menunggu kedatangan sahabatnya. Lia membuka pintu dan sesuai perintah Shanum, dia menguncinya.


"Sakit apa kamu?" Lia duduk di sofa sebelah Shanum, mengecek suhu tubuhnya. Baik-baik saja.


"Nggak apa-apa, pengen istirahat aja." Shanum beranjak duduk, memeriksa aneka camilan yang dibawa Lia.


"Kemarin aku lihat si Shila berkeliaran di sekitar toko kalian. Berani juga dia nunjukin batang hidungnya. Dasar nggak punya malu!" geram Lia sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Emang dia tuh nggak punya malu. Kemarin aku sama Raka nggak ke toko karena pindahan." Shanum menjelaskan sambil membuka sebuah keripik singkong kesukaannya.


"Bagus rumah kalian. Beli sendiri?" tanya Lia.


"Nggak, dikasih mertua. Mamah dan papah Raka," jawab Shanum apa adanya.

__ADS_1


"Baik bener mertua kamu, ya."


Shanum memainkan alisnya sambil terus mengunyah kripik.


__ADS_2