
Keesokan harinya, Raka dan Shanum pergi memeriksakan kandungan ke rumah sakit. Menyusul orang tua mereka yang ingin mengetahui kondisi si jabang bayi. Wajah-wajah mereka bersinar saat keluar dari ruangan.
"Kalian pergi saja dulu ke restoran, aku akan menyusul setelah menebus obat," ujar Raka sembari memegang kertas resep dari dokter.
"Perlu Papah temani?" tawar papahnya Raka merasa kasihan pada anaknya itu.
"Nggak usah, Pah. Nunggu obat itu antrinya luar biasa. Papah pergi aja, ya. Raka nanti langsung ke sana kalo udah dapet obatnya," tolak Raka tak ingin menyusahkan siapa saja.
"Ya sudah. Langsung nyusul, ya." Sang papah menepuk bahu Raka, dan pergi bersama yang lain.
"Kamu hati-hati, ya. Kalo kelamaan makan aja duluan." Raka mengusap rambut Shanum dengan penuh perhatian.
Wanita hamil itu menganggukkan kepala, menyalami Raka dan pergi bersama orang tua mereka. Raka masih berdiri di sana sampai mobil orang tuanya meninggalkan parkiran. Raka berbalik hendak mengambil tempat duduk, tapi ia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
Raka tak berniat meladeni, ia menghela napas dan berlalu seolah-olah tak mengenal sosok tersebut. Akan tetapi, cekalan tangan di lengannya menghentikan langkah Raka. Secepat kilat suami Shanum itu menepis kasar dan tanpa terpengaruh dia melanjutkan langkah.
"Raka! Berhenti, Raka!" jeritnya hingga mengundang perhatian para pengunjung rumah sakit.
Namun, lagi-lagi Raka mentulikan telinga, dan terus melangkah seolah-olah bukan dirinya yang diteriaki sosok tersebut.
"Kurang ajar! Raka!" Sekali lagi dia menjerit, seraya mengambil langkah cepat menyusul laki-laki yang sedang berdiri menyerahkan resep obat di farmasi.
Ia berdiri dengan geram, menunggu sampai Raka duduk di kursinya. Menatap sekeliling, akan malu rasanya bila laki-laki itu tidak menanggapi sama sekali.
Secepat kilat, dia menarik tangan Raka dengan sekuat tenaga dan membawanya jauh dari keramaian. Raka menghentikan langkah dan menarik tangannya kembali.
"Apa yang kamu mau? Aku udah bilang sama kamu jangan ganggu hidup aku lagi!" tegas Raka memandang rendah sosok di hadapannya.
"Kamu nggak bisa gitu, Raka. Kita udah pacaran lama, jangan karena kamu nikah sama Shanum terus kamu lupain aku gitu aja? Nggak, Raka! Kamu nggak bisa kayak gitu sama aku!" tolak sosok perempuan yang tak lain adalah Shila itu.
__ADS_1
Raka mencibirkan bibir mendengar ucapan wanita gila di hadapannya.
"Kenapa nggak bisa? Aku udah punya istri, dan Shanum istri aku." Raka melipat kedua tangan di perut. Jengah rasanya menanggapi wanita itu.
"Aku tahu, tapi nggak seharusnya kamu lupain aku gitu aja. Inget, Raka. Kita ini nggak pernah putus!" tegas Shila.
Raka terkekeh mendengar itu, Shila benar-benar telah menjadi gila.
"Kamu gila, Shila! Waktu kamu nggak datang ke pernikahan kita itu udah menjelaskan status kita. Tanpa harus bilang putus secara otomatis hubungan kita berakhir!" Raka tak kalah tegas, benar-benar dibuat kesal oleh wanita itu.
"Nggak! Aku nggak mau putus sama kamu, Raka. Kamu harus tetap jadi pacar aku. Aku nggak mau putus sama kamu. Kamu nggak bisa ninggalin aku, Raka. Nggak bisa!" Shila menggelengkan kepala.
Dadanya naik dan turun bersamaan dengan napasnya yang memburu. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Menanggalkan rasa malu demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Sorry. Itu pilihan kamu. Aku harap kamu nggak datang lagi ganggu kehidupan aku. Cukup, Shila! Aku nggak mau lagi berurusan sama kamu! Lagian kamu yang selingkuh dari aku. Karena aku nggak punya apa-apa, dan kamu lebih milih dia yang punya segalanya. Udahlah, nggak usah ngejar-ngejar aku lagi. Aku udah bahagia sama Shanum." Raka mengibaskan tangan, berbalik dan pergi meninggalkan Shila yang tertegun mendengar kalimat sarkas Raka.
Langkah Raka terhenti, helaan nafasnya berhembus ringan sebelum ia berbalik.
"Itu karena kamu udah nipu aku. Aku pikir kamu benar-benar pelanggan yang mau melakukan tawar menawar harga denganku. Kalo aku tahu cuma ditipu, aku nggak akan pernah mau nemuin kamu," jawab Raka dengan sikapnya yang tenang.
"Kamu bohong! Kamu mau nemuin aku karena kamu masih peduli sama aku. Kamu masih sayang sama aku. Kalo kamu udah nggak peduli, nggak mungkin kamu mau terus ketemu sama aku." Dengan yakinnya Shila berucap.
Namun, suara tawa Raka membuat kepercayaan dirinya menguap begitu saja, berganti rasa bingung dan cemas.
"Awalnya aku emang simpati sama kamu, tapi lama-lama aku muak. Kamu cuma mengarang cerita biar bisa terus deketin aku. Kamu pikir aku bodoh? Aku nggak diem aja, Shila. Aku cari tahu kebenaran cerita kamu dan ... semua itu cuma karangan kamu. Udahlah, nggak usah ganggu-ganggu aku lagi. Anggap aja kemarin itu aku peduli sama kamu, tapi sekarang ... maaf." Raka kembali berbalik dan tak menoleh lagi.
"Raka! Kamu nggak bisa ninggalin aku, Raka!" teriak Shila, tapi tak digubris oleh laki-laki itu.
Napas Shila semakin sesak karena luapan emosi, kepalan tangan menjadi kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
__ADS_1
"Kurang ajar, aku nggak akan berhenti buat ganggu kalian. Aku nggak akan biarin kalian bahagia. Kalian nggak boleh bahagia!" kecam Shila dengan sorot mata penuh dendam.
Ia berbalik arah, pergi membawa amarah. Kekesalan dalam hati kian parah, di otak kecilnya tersusun rencana-rencana busuk untuk menghancurkan Shanum. Dia hanya ingin istri Raka itu menderita.
****
Setelah menunggu beberapa saat, Raka akhirnya tiba di restoran tempat keluarganya berkumpul. Ia menghampiri Shanum dan mengecup ubun-ubun istrinya itu. Tanpa sadar, Shila ada di balik jendela menyaksikan kemesraan mereka.
Lihat aja, kebahagiaan kalian nggak akan lama lagi aku hancurkan!
Batin Shila mengancam, setelah cukup melihat kebahagiaan mereka. Dia pergi meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi, aksinya yang membuntuti Raka terpergok Lia yang kebetulan hendak makan siang bersama rekan sekantornya.
"Ngapain tuh si Nenek Lampir?" Pandangan Lia menyapu pada restoran di seberang tempatnya makan. Di sana, dia melihat Shanum dan keluarganya sedang berkumpul.
"Oh, jadi dia nguntit mereka. Aku yakin, si Gila itu pasti punya rencana jahat buat Shanum. Aku harus kasih tahu dia biar waspada," ujar Lia.
Dia berencana datang ke rumah Shanum sepulang bekerja nanti. Sikap Shila tidak bisa dibiarkan. Wanita gila itu bisa melakukan apa saja untuk menyakiti sahabatnya.
Lia mengirimi Shanum pesan, memberitahunya bahwa dia akan datang ke rumah.
"Siapa?" tanya Raka saat Shanum menerima pesan tersebut.
"Lia, dia bilang mau main ke rumah nanti sore." Shanum tersenyum memberitahu suaminya.
"Ya udah, nanti aku antar kamu pulang dulu. Aku mau ke toko, ada barang datang sore nanti," ucap Raka diangguki Shanum.
****
Maaf, ya, Kakak-kakak lama gak update. Butuh suntikan semangat ini. Hehe ....
__ADS_1