Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 9


__ADS_3

Beberapa saat sebelum keributan di toko Raka.


Shanum tersenyum-senyum sendiri membaca sebuah pesan dari Raka. Pesan yang biasa ia terima, tapi rasanya berbeda. Padahal laki-laki itu hanya bertanya apa yang sedang dia lakukan. Shanum keluar toko, duduk di depan sambil melihat-lihat ke segala arah.


Tepat di seberang tokonya, bangunan mall yang tak pernah sepi berdiri. Hilir mudik anak-anak muda tak pernah berhenti, terus berdatangan terkadang berpasangan. Dahi Shanum mengernyit ketika melihat sesosok wanita yang amat dia kenali.


"Eh, bukannya itu ibunya Shila. Sama siapa, ya? Kayaknya laki-laki itu masih muda. Apa anaknya, ya?" Shanum bertanya-tanya sendiri melihat wanita paruh baya itu berjalan bersama seorang laki-laki yang usianya lebih muda. Di tangannya menentang beberapa tas belanja, senyum yang diukir bibirnya tampak sumringah bahagia.


Shanum menggelengkan kepalanya, mencoba untuk bersikap tak acuh dan berpura-pura tidak melihat.


Shanum, sini. Aku sendirian, bosan.


Pesan dari Raka kembali masuk, membentuk senyuman di bibir gadis itu. Ia kembali ke dalam toko berpamitan pada semua karyawan. Lalu, mengambil tas dan menaiki motor milik Raka kembali ke toko suaminya.


Namun, belum sampai di tempat tujuan, Shanum melihat Shila menangis di depan toko Raka. Ia mematikan mesin motor dan mendorongnya mendekati toko. Menguping pembicaraan mereka, sedikit kesal Shanum mendengar kisah Shila.


"Duh, drama banget, sih. Barusan aku lihat mamahnya itu keluar mal. Seger buger, mana ada sakit?" Shanum kesal sendiri.


Ia melirik Raka dan tersenyum melihat reaksi biasa saja yang ditunjukkan laki-laki itu.


"Jangan kemakan omongannya, Ka. Dia bohong." Shanum berbisik pada dirinya sendiri.


Sampai keadaan memanas, Shila terus saja berkilah menyalahkan dirinya. Tentu saja Shanum tidak terima.

__ADS_1


"Wow! Ada perang rupanya di sini!" seru Shanum sembari bersedekap dada bersender pada tiang papan nama toko Raka.


Shila dan Raka serentak menoleh, Shanum tersenyum sambil melanjutkan langkah masuk ke toko Raka. Ia berdiri di samping laki-laki itu, bahkan meletakkan sebelah tangan di bahunya.


"Ngapain kamu di sini? Kalo mau bikin ribut mending nggak usah ke sini." Shanum mendengus, menatap remeh pada Shila yang masih berpura-pura terisak.


Shila menatap nyalang istri Raka itu.


"Kamu emang perempuan nggak bener. Kamu seneng, 'kan, lihat aku menderita? Ini juga yang kamu mau, nikah sama Raka. Padahal bukan tanpa sebab aku nggak datang, emang kamu aja yang manfaatin keadaan kemarin. Sekarang, balikin Raka sama aku. Dia seharusnya nikah sama aku bukan sama kamu!" tuding Shila berapi-api.


Shanum mengangkat sebelah alisnya, menatap remeh gadis tak tahu malu itu. Lalu, melirik Raka yang mengepalkan tangan di atas pangkuan.


"Seharusnya kamu nggak kabur kalo emang beneran mau nikah sama Raka. Apapun yang terjadi sama kamu, nggak seharusnya kamu ngilang gitu aja. Minimal ada kabar, supaya tempat akad dilaksanakan di tempat yang kamu bisa. Kemarin itu apa? Jangankan kasih kabar, kamu dihubungi aja nggak bisa. Sekarang malah nyalahin orang," ucap Shanum memutar bola mata dengan malas.


Shila mengetatkan rahang, mengepalkan kedua tangan kuat-kuat.


Shanum tersenyum santai menanggapi, tidak terlalu peduli pada yang diceritakan gadis itu.


"Udahlah, Shil. Mending sekarang kamu pergi aja, deh. Hubungan kita udah selesai. Aku udah nikah sama Shanum nggak bisa lagi sama kamu," ucap Raka pada akhirnya membuka suara.


Shila meneteskan air mata mendengar Raka mengusirnya. Sungguh tak menduga, laki-laki itu telah berubah. Padahal dulu Raka selalu luluh oleh kata maaf darinya. Padahal dulu Raka tak pernah bersikap kasar padanya. Akan tetapi, sekarang semuanya berubah.


"Kamu nggak seharusnya kayak gini sama aku, Raka. Kamu nggak inget masa-masa yang udah kita lewatin? Apa kamu lupa semuanya, Ka? Mamah aku sakit, tapi kamu sama sekali nggak mau ngertiin aku. Kamu udah berubah, Ka," ratap Shila dengan air matanya yang mengalir deras.

__ADS_1


Shanum jengah, bisa-bisanya Shila mengaku mamahnya sakit. Padahal jelas-jelas Shanum baru saja melihatnya keluar mal dengan wajah sumringah dan tidak terlihat sakit.


"Kamu ini anak durhaka, ya. Masa doain mamahnya supaya sakit? Udah nggak waras kamu, ya." Shanum menggelengkan kepala sambil berdecak.


Raka mengernyitkan dahi bingung, mendengar ucapan Shanum yang seolah-olah sedang membongkar kebohongan Shila.


"Apa maksud kamu? Aku bukannya doain mamah aku sakit, tapi emang kenyataannya, kok. Kamu nggak usah cuci otak Raka supaya benci sama aku, ya!" sengit Shila tidak terima.


"Kenyataan apa? Kenyataan mamah kamu ada di sini? Aku baru aja lihat mamah kamu keluar dari mal sama laki-laki. Nggak kelihatan sakit, tuh. Apalagi bekas-bekas operasi. Dia kelihatannya sehat dan baik-baik aja." Shanum menghendikan bahu, Shila tertegun mati kutu.


Shanum menatap Shila dengan senyum sinis yang sengaja diukirnya. Membuktikan kepada wanita itu bahwa dia tidaklah salah.


"Kamu jangan fitnah, ya. Selain merebut calon suami orang, ternyata kamu juga tukang fitnah. Dasar perempuan licik!" kilah Shila terdengar sedikit gugup. Berkali-kali ia melirik Raka tak nyaman, memastikan laki-laki itu tidak termakan ucapan Shanum.


"Maaf, ya. Aku bukan tukang fitnah. Barusan aja, kok, kau lihat." Shanum melengos tak ingin menatap Shila.


"Kamu-"


"Udahlah, Shil. Aku mohon kamu pergi dari sini. Kita udah selesai, udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Nggak usah saling ganggu. Sekarang kamu pergi, ya." Raka menyela ucapan Shila. Dengan lembut ia mengusir perempuan yang tahu malu itu karena beberapa warga sudah berkerumun di sana.


Shila menatap tajam laki-laki itu. Ternyata tidak mudah menaklukannya kembali setelah apa yang terjadi kemarin.


Awas aja kalian! Aku nggak akan tinggal diam.

__ADS_1


"Baik. Aku akan pergi, tapi kamu ingat. Semua perbuatan pasti ada balasannya. Kalian nggak akan pernah bahagia!" pungkas Shila seraya berbalik dan pergi dengan membawa kekalahan.


"Kurang ajar! Aku pikir Raka masih sama kayak yang dulu gampang dirayu. Ternyata, perempuan itu udah nyuci otaknya sampai dia nggak bisa mandang aku lagi. Awas aja kamu, Shanum. Kamu nggak akan pernah menang dari aku!" Shila mengumpat di sepanjang jalan meninggalkan toko Raka. Benar-benar tidak menerima kekalahan. Esok atau lusa, dia akan membalasnya.


__ADS_2