
Pagi sekali selepas sholat subuh, Shanum pergi ke dapur untuk membantu kedua wanita paruh baya yang tengah sibuk membuat sarapan.
"Pagi, Mamah-mamah!" sapa Shanum seraya mencium kedua belah pipi dua wanita itu.
"Pengantin baru ngapain ke dapur? Bukannya di kamar aja," goda Leni membuat Shanum merona malu.
Gadis itu salah tingkah, pipinya menghangat kala membayangkan dekapan Raka semalaman.
"Gimana keadaan Raka?" tanya Nia, ia mendengar kabar semalam dari Leni.
"Udah mending, Mah. Panasnya udah agak turun." Shanum menjawab sambil membantu merapikan piring-piring di atas meja.
"Alhamdulillah. Untung dia punya istri perhatian. Coba kalo istrinya cuek ... nggak tahu, deh." Leni menggelengkan kepala, membayangkan bila bukan Shanum istri Raka.
"Raka sama Shanum itu, 'kan, udah dari kecil sama-sama, Mah. Jadi, udah nggak canggung lagi." Shanum tersenyum, mereka seperti dua saudara yang memiliki hubungan sangat dekat.
"Ya, kamu bener. Itulah Mamah bersyukur banget kalian nikah. Makasih, ya, Nak. Kamu udah mau jadi istri anak Mamah." Leni menggenggam tangan Shanum, bersyukur karena yang menjadi menantunya adalah gadis itu.
"Ya, Mamah. Nggak usah dibahas lagi." Shanum tersenyum getir bila mengingat hari akad itu.
"Yah. Kamu bener. Nggak usah diingat-ingat lagi, sekarang fokus aja meniti masa depan. Mudah-mudahan pernikahan kalian langgeng dan bahagia," sahut Leni sambil tersenyum seraya melanjutkan pekerjaan mereka membereskan sarapan.
"Aamiin."
"Shanum! Kamu di mana?" panggil Raka dari tangga rumah.
"Aku di dapur!" seru Shanum menjawab.
"Sana, gih. Samperin, takutnya dia butuh apa." Nia menyenggol pinggang anaknya.
Tanpa berbicara lagi, Shanum pergi menghampiri Raka yang sudah hendak masuk ke dapur mendatangi istrinya.
"Kenapa, Ka? Aku bantuin Mamah bikin sarapan. Nggak, sih, karena udah beres." Shanum tersenyum manis, matanya berkedip menggoda laki-laki itu.
"Kamu masak?" Berbinar kedua manik laki-laki itu. Tiba-tiba perutnya terasa lapar membayangkan Shanum memasak untuknya.
__ADS_1
"Kamu denger nggak, sih. Udah beres, Mamah yang masak." Shanum merona malu karena datang terlambat ke dapur.
"Yah, nggak apa-apa. Lain kali bisa, 'kan?" Raka merangkul bahu sang istri, melirik nakal sengaja menggoda.
Shanum memukul pelan dada laki-laki itu. Melengos menyembunyikan rona merah di pipi. Hatinya tak dapat dikontrol, selalu berdebar kala bersentuhan dengan Raka.
"Udah, sini sarapan." Leni memanggil dengan perasaan haru yang luar biasa.
Meski sudah sering melihat mereka bersama, tapi kali ini terasa lain. Apalagi saat melihat Raka tak melepaskan tangannya dari bahu Shanum sampai ia menarik kursi untuk istrinya itu, barulah Raka melepaskan tangannya.
Raka menatap bingung hamparan makanan di atas meja makan itu. Mengernyit dahinya sambil menggaruk kepala.
"Mamah curang. Kok, makanan kesukaan Shanum semua? Nggak ada makanan kesukaan Raka," ucapnya memberengut gemas.
"Ya elah, makanan kesukaan aku juga makanan kesukaan kamu kali!" Shanum memutar bola mata malas kala suaminya itu menarik garis bibir lebar-lebar hingga menampakkan deretan giginya.
Leni dan Nia hanya menggelengkan kepala mereka, pasangan baru di hadapan itu terlihat menggemaskan.
"Sini, aku ambil!" Shanum mengambil alih piring Raka dan mengambilkan nasi serta lauk pauk untuknya.
"Makan yang banyak, biar nggak masuk angin lagi kayak semalam." Shanum meletakkan piring tersebut di hadapan suaminya. Lalu, mengambil makan untuk dirinya sendiri.
"Nanti, tunggu papah. Udah, kalian makan aja duluan." Nia mengajak Leni untuk pergi dari ruang makan. Meninggalkan sepasang pengantin baru yang menikmati sarapan mereka.
"Aku ikut ke toko kamu, ya." Shanum berbicara dari sela-sela makannya.
"Toko kamu gimana?" Raka bertanya setelah menelan makanannya.
"Toko aku itu banyak karyawan, aku ke sana paling ngontrol pesanan aja. Kalo kamu, 'kan, kamu sendiri. Lagian nggak jauh juga dari toko kamu." Shanum menyuapkan makanan ke mulutnya sambil melirik Raka.
"Mmm ... ya udah." Raka memang sendiri, ia belum memiliki karyawan seperti Shanum. Toko kue milik gadis itu sudah berkembang bahkan, sudah memiliki satu cabang di kota yang sama.
Keduanya beranjak setelah menyelesaikan sarapan, Shanum membereskan bekas makan mereka merapikannya barulah menyusul Raka bersiap untuk pergi.
"Kalian udah mau berangkat?" tanya Leni melihat keduanya sudah bersiap untuk pergi, sedangkan mereka baru akan memasuki ruang makan.
__ADS_1
"Iya, Mah." Raka menyalami mereka, diikuti Shanum setelahnya.
"Mamah sama Papah nggak pulang?" Shanum mengangkat alisnya menatap kedua orang tua itu.
"Pulang, nanti sore paling. Mamah sama Papah masih pengen di sini," jawab Nia sembari melirik suaminya dan berkedip mata.
"Iya. Mamah sama Papah masih pengen mengenang masa lalu." Mereka saling menatap satu sama lain. Seolah-olah kompak dan sepakat.
"Mmm ... ya udah." Shanum menatap curiga pada mereka. Lalu, berbalik menepis semua pikiran buruk menyusul Raka.
"Kamu nggak apa-apa naik motor?" tanya Raka saat Shanum duduk di belakangnya.
"Dih. Emangnya kenapa? Aku bukan anak mamih kali! Udah biasa juga pake nanya lagi." Shanum memukul punggung suaminya, mendengus kala Raka tertawa. Lalu, melaju meninggalkan halaman rumah menuju toko aksesoris milik laki-laki itu.
Tidak jauh dari pusat kota, toko Raka lumayan besar. Hanya berjarak beberapa meter saja dari toko kue Shanum. Keduanya membuka pintu toko bersama-sama, merapikan, dan menyapu debu-debu yang menempel.
"Ka, kalo dikembangkan toko kamu ini pasti bagus. Jangan cuma ada aksesoris aja, ponsel, apa gitu. Kamu juga bisa servis-servis, 'kan? Kenapa nggak buka jasa servis aja?" usul Shanum sambil membantu Raka merapikan aksesorisnya.
"Ya, Sha. Emangnya kamu pikir nggak butuh modal? Aku belum punya cukup uang buat nambahin modalnya. Mau minta sama Mamah malu. Udah gede masa nadah terus sama orang tua," sahut Raka sembari menyiapkan bangku-bangku untuk pelanggan.
"Emangnya selama ini keuntungan kamu per bulan ke mana? Selain bayar sewa ruko?" Shanum menyelidiki.
"Yah, ada, tapi aku selalu kasih Shila." Raka menoleh pada istrinya, tak ada ekspresi yang ditampilkan Shanum.
"Oh. Ya, wajar, sih. Namanya juga hubungan harus ada take and give, tapi kalo semuanya kamu kasih sama dia itu namanya nggak wajar. Pantas aja toko kamu nggak maju-maju jalan di tempat aja kayak gini," ucap Shanum membuat Raka tersadar.
Laki-laki itu tercenung, merenungi perjalanan hubungannya dengan Shila. Selama ini Raka selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan Shila, bertanggungjawab membuktikan pada gadis itu bahwa dia mampu menafkahinya. Sayang, semua itu tak terbalas. Shila tak menghargainya sama sekali.
"Hah~" Raka menghela napas panjang, duduk dengan lesu di kursinya. Benar-benar pengorbanan yang sia-sia.
Shanum menoleh, mendekat dan mengusap punggung laki-laki itu.
"Nggak usah dipikirin yang udah nggak ada. Aku kasih kamu tambahan modal, ya. Biar toko kamu ini semakin maju dan berkembang. Kita buka juga loket pembayaran, supaya makin banyak menarik pelanggan. Nanti aku yang atur semuanya." Shanum tersenyum kala Raka mengangkat wajah padanya.
"Kamu akan keluar banyak uang, Sha. Apa nggak apa-apa?" tanya Raka tak enak.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, dong. 'Kan, nanti buat aku juga. Istri kamu." Shanum tersenyum tulus, memang hanya Shanum perempuan yang benar-benar tulus padanya.
"Makasih, ya. Aku pastikan kamu yang akan memegang keuangan mulai hari ini." Raka memeluk istrinya penuh syukur.