Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 17


__ADS_3

"Shanum?"


Senyum yang diukir sosok itu semakin memukau tatkala wanita yang dipanggilnya menoleh. Mata Shanum membelalak beberapa saat, kedua bibirnya terbelah dan berkedut menyebutkan satu nama. Dia bahkan, beranjak dari duduknya memastikan kehadiran sosok tersebut.


"Kak Dzaky?" Sebuah nama lolos dengan lirih dari bibir manis Shanum.


Laki-laki yang bernama Dzaky tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dia terlihat dewasa dengan balutan kemko di tubuhnya, celana kain longgar khas seorang santri masih setia menemani kesehariannya. Tak lupa pula peci hitam yang menjadi ciri khas seorang Dzaky.


"Gimana kabar kamu?" Suara lembut itu kembali menggaung di telinga Shanum, suara yang sudah bertahun-tahun tak didengarnya karena sebuah perpisahan beberapa tahun lalu.


"Alhamdulillah. Baik, Kak. Kakak kapan datang?" Shanum gugup, lisannya kelu hingga bertanya pun terbata-bata.


"Baru kemarin. Aku nggak sabar pengen lihat kamu, kata Umi usaha toko kue kamu makin maju. Ternyata emang bener, ya. Kamu udah sukses sekarang," ucap laki-laki agamis itu sambil menatap toko kue milik Shanum.


Ia masih berdiri di luar terhalang etalase milik Shanum. Senyumnya terlihat lembut, sikapnya sempurna, tutur katanya sopan dan menyejukkan. Dia adalah idaman para wanita di komplek tempat tinggalnya.


"I-iya, Kak. Alhamdulillah." Shanum menundukkan kepala malu dan segan.


Dulu, dia sangat mengidolakan pemuda itu bahkan, berangan-angan menjadi pasangan seumur hidupnya. Namun, kini semua sudah sirna, dia sudah menjadi seorang istri.


"Oya. Aku dengar dari Umi juga kalo kamu udah nikah. Selamat, ya." Dia masih tersenyum, tulus seperti dahulu.


Shanum mendongak dengan cepat, menatap wajah teduh itu dengan mata melotot lebar. Lalu, kemudian menundukkan kepalanya lagi karena malu.


"Makasih, Kak. Pernikahan nggak terduga tepatnya. Aku juga nggak kepikiran mau nikah secepat ini." Padahal aku udah janji sama diri aku sendiri mau nungguin kak Dzaky, tapi semua hilang gara-gara mereka memaksa aku.


Shanum melanjutkan kata-katanya di dalam hati, melihat kebahagiaan dari wajah kedua orang tua, melupakan Shanum pada sosok yang selama ini dia idam-idamkan. Sosok yang bahkan rela tertinggal pesawat demi menunggunya datang. Dzaky. Sebuah nama yang tak akan lekang oleh waktu.


Kini, mulai terkikis oleh kehadiran Raka sebagai suaminya. Perlahan, tapi pasti Shanum harus melupakan nama itu dan membuangnya jauh-jauh.


"Nggak apa-apa. Pelan-pelan aja dulu. Yang penting kamu tahu tugas dan kewajiban sebagai seorang istri. Aku seneng karena sekarang udah ada yang jagain kamu. Aku ke sini sekalian mau beli kue ulang tahun buat ponakan aku." Pemuda itu terdengar tulus, tak terlihat keberatan sama sekali padahal di hati dia berharap Shanum akan menunggunya.

__ADS_1


"Aqilla? Dia ulang tahun?" Shanum kembali mendongak mendengar keponakan Dzaky.


Pemuda itu menganggukkan kepala seraya menunjukkan kue pesanannya yang baru saja selesai.


"Nah, ini udah jadi. Sekali lagi selamat, ya. Mudah-mudahan pernikahan kamu sakinah mawadah warahmah, ada dalam ridho Allah serta keberkahan-Nya. Aku pamit. Assalamu'alaikum!"


Laki-laki itu mengangkat tangannya tanda berpamitan, berbalik sambil menenteng kue yang dipesannya di toko Shanum dan berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Wa'alaikumussalaam!" lirih Shanum dengan hati yang berat karena harus melepas kepergian pemuda yang menjadi suami khayalannya sebelum menikah dengan Raka.


Tatapannya masih tertuju pada laki-laki berpakaian sopan tersebut. Sampai dia masuk ke dalam mobil mewahnya, Shanum masih di sana memperhatikan. Ia menggigit bibir sambil memainkan jemarinya.


Kak Dzaky makin dewasa aja sekarang. Pasti udah menyelesaikan urusannya di timur tengah sana. Kenapa aku bisa nggak inget sama dia.


Shanum menggerutu kesal, jika bukan karena paksaan dari kedua orang tuanya dia akan tetap menunggu Dzaky kembali. Pemuda yang telah mengisi hatinya sejak ia duduk di bangku SMA.


Shanum mendudukkan tubuhnya, menjatuhkan kepala di atas meja. Tangannya memukul-mukul benda itu meluapkan kekesalan.


"Yang sabar, Nak. Mungkin Shanum memang bukan jodoh kamu." Seorang wanita sepuh menepuk bahu Dzaky.


Ia menoleh ke belakang dan mengukir senyum getir.


"Iya, Umi. Dzaky bisa menerima, kok. Takdir Allah siapa yang bisa melawan. Dzaky cuma berharap semoga mereka bahagia," sahut sang pemuda dengan ketegaran hatinya.


Wanita sepuh itu mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum bangga pada putranya.


"Umi punya kenalan, kalo kamu nggak keberatan ta'aruf saja sama dia, Nak. Insya Allah sama baiknya sama Shanum." Wanita itu menyarankan putranya demi memupus nama Shanum dari dalam hatinya.


"Kalo menurut Umi itu baik, Dzaky ikuti saja." Ia menghidupkan mesin mobil, melaju meninggalkan jalanan tersebut. Membawa hatinya yang luka karena sang pujaan telah dimiliki orang lain.


****

__ADS_1


Sampai sore hari, Shanum masih tercenung. Mengingat pertemuannya dengan Dzaky tadi siang, cukup meninggalkan kesan meskipun singkat saja. Ia menghela napas, kembali menjatuhkan kepala di atas meja. Akan sulit baginya melupakan pemuda itu.


Tin!


Klakson motor Raka berbunyi, Shanum mengangkat wajah dengan senyum yang dipaksakan. Raka tidak bersalah dalam hal ini, mereka berdua adalah korbannya.


Dahi laki-laki itu mengernyit saat melihat wajah sendu sang istri. Buru-buru turun dari motor dan menghampirinya.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Raka sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Shanum.


Ia menggelengkan kepala, menghela napas seraya menurunkan tangan suaminya dari dahi.


"Aku nggak apa-apa, kok. Cuma lemes aja," katanya lesu.


Raka tersenyum, membantu istrinya untuk beranjak.


"Ayo, kamu mau apa? Biar nggak lemes, aku turutin." Raka menatap sumringah wajah sang istri. Dia mengira wanita itu sedang ngidam. Menginginkan sesuatu untuk dimakannya.


Namun, Shanum menggelengkan kepalanya lagi, kemudian menghela napas dalam.


"Kita pulang aja, ya." Shanum memegangi tangan Raka.


Laki-laki itu menatap lekat-lekat wajah sang istri, menghela napas panjang dan mengangguk setuju. Keduanya kembali ke rumah, di sepanjang perjalanan bahkan, Shanum terus diam tak mengajaknya berbicara. Hati Raka bertanya-tanya ada apa gerangan dengan istrinya?


Akan tetapi, ia tak mau berpikir yang macam-macam, positif saja mungkin bawaan bayi di dalam kandungan. Raka tersenyum mengingat itu, ia mengusap tangan Shanum yang melingkar di pinggangnya dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Shanum sambil menempelkan wajahnya di punggung Raka.


"Nggak apa-apa." Raka menepuk-nepuk tangan istrinya. Rasa cinta sudah timbul di hati laki-laki itu, bukan untuk seorang sahabat, tapi untuk seorang wanita yang telah menjadi istrinya.


Rasa cinta antara laki-laki pada perempuan.

__ADS_1


__ADS_2