Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 19


__ADS_3

Shanum memutuskan untuk langsung ke rumah tak lagi ke toko. Terlalu banyak pikiran saat ada di sana, terlebih bila mengingat sosok Dzaky yang datang mengganggu.


Ia baru saja keluar dari kamar mandi di saat gawai Raka yang tertinggal berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk ke aplikasi hijau milik suaminya itu.


Shanum mengernyit, handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut diletakkan di sandaran kursi rias. Shanum menyambar ponsel Raka, kemudian berbaring di atas ranjang.


Dahinya mengernyit membaca pesan dari nomor asing itu.


Ka, kita jadi ketemuan, ya. Sore ini di taman.


"Eh? Siapa yang ngirim pesan ini?" Shanum bergumam, hatinya mulai bimbang.


Dicarinya nomor tersebut pada kontak Raka, tak satupun nama ia temukan. Nomor itu benar-benar nomor baru dan asing.


"Siapa, ya?" Shanum mulai berpikir keras.

__ADS_1


Shanum mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi nomor itu tidak dapat dihubungi.


"Mati? Baru satu menit yang lalu, udah mati. Bikin penasaran." Shanum kembali menelpon nomor tersebut, tetap saja nomor berada di luar jangkauan.


Ia mengecek semua medis sosial milik Raka, tak satupun berkaitan dengan nomor itu. Hati Shanum semakin gelisah, pikirannya dipenuhi oleh nomor asing yang tiba-tiba muncul bagai teror.


Shanum menghubungi nomor Irwan, berbincang langsung dengan Raka.


"Hallo, Sha. Ada apa? Aku lupa ponselku," sambut Raka terdengar biasa saja dan normal.


Raka terdiam cukup lama, Shanum kira dia sedang berpikir dan mengingat-ingat janji sore nanti.


"Oh ... itu! Dia customer seminggu yang lalu pesan beberapa ponsel dan aksesoris. Aku juga nggak tahu kalo akhirnya jadi karena udah lama juga nggak ada kabar. Dia dari luar kota. Apa katanya?" seru Raka teringat pada pesanan seminggu yang lalu yang tak ada kabarnya lagi sampai SMS itu datang.


"Nggak ada. Dia cuma kirim pesan buat mastiin nanti sore ketemuan di taman. Itu aja," jawab Shanum lagi seadanya.

__ADS_1


"Coba kamu telpon. Tanya jam berapa dia sampe," pinta Raka karena tak mungkin meminta Shanum mengantarkan ponselnya ke toko.


"Udah, tapi nggak aktif. Nomornya nggak bisa dihubungi." Shanum bernapas lega, tak ada yang mencurigakan dari nada bicara suaminya itu. Sepertinya memang murni orang yang memesan barang dari toko Raka.


"Hhmm ... gimana, ya. Lumayan ini kalo jadi. Gini aja, kamu kirim nomornya ke hp Irwan. Biar nanti aku coba hubungi dari sini aja pake hp Irwan." Raka meminta.


"Ya udah aku kirim nomornya, ya. matiin dulu." Shanum mematikan sambungan setelah Raka menjawab. Ia mengirimkan nomor tersebut kepada Irwan dan meletakkan kembali ponsel milik suaminya tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Shanum beranjak dari ranjang dan duduk di depan cermin. Menghela napas melihat sisir, meraihnya dengan malas.


"Kayaknya mulai hari ini aku emang harus terbiasa nyisir sendiri. Jadi kangen sama Mamah," gumam Shanum seraya menyisir rambutnya sendiri.


Tak lupa memoles skincare di wajah guna merawat kulit agar tetap sehat. Setelahnya, ia mengganti pakaian dan bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Masak apa, ya?" Shanum bertanya sendiri sambil membuka pintu lemari es. Memilah dan memilih apa yang akan dimasaknya malam itu.

__ADS_1


"Bikin soto kayaknya enak, deh. Aku coba, ah." Ia mengeluarkan beberapa sayuran yang dibutuhkan untuk membuat soto, juga potongan daging sapi.


__ADS_2