
Shanum dan Raka tiba di depan rumah, keduanya mengernyitkan dahi dan saling menatap ketika melihat sebuah mobil Toyota Camry terparkir di halaman rumah.
"Mobil siapa, Ka?" tanya Shanum seraya turun dari motor masih dengan dahinya yang berkerut.
"Nggak tahu. Ada tamu kali." Raka mengunci motor dan mengajak istrinya masuk ke dalam. Keduanya terlihat lelah setelah merapikan toko milik Raka.
"Assalamu'alaikum!" sapa mereka saat tiba di teras rumah Raka.
"Wa'alaikumussalaam!" Leni menyambut dengan senyum cerah.
Keduanya menyalami wanita paruh baya itu dengan hormat.
"Mobil siapa, Mah, di depan?" tanya Raka pada mamahnya.
Leni melongo ke depan, kemudian tersenyum ringan.
"Bukan punya siapa-siapa, ayo masuk!" Misterius, wanita paruh baya itu menarik tangan keduanya untuk segera memasuki rumah.
"Kalian kelihatannya capek banget, abis ngapain gitu?" tanya Leni sembari mengekori keduanya ke ruang tamu.
Mereka ambruk di sofa, bersandar lelah dan lesu.
"Abis beresin toko, Mah. Lumayan capek," sahut Raka.
"Aku bikin minum dulu, ya." Shanum hendak beranjak, tapi dicegah mamah mertuanya.
"Kalian duduk aja, biar Mamah yang bikin." Ia tersenyum seraya berdiri dan pergi ke dapur.
"Mobil siapa, ya? Nggak ada tamu juga di rumah," tanya Shanum masih penasaran dengan mobil yang termasuk mewah itu.
"Nggak tahu, mungkin punya orang numpang parkir. Di sini udah biasa kayak gitu." Raka menghendikan bahu, tidak terlalu ingin memikirkan hal tersebut.
Leni muncul membawa dua gelas jus buah untuk mereka.
"Makasih, Mah." Shanum menerima segelas jus buah dari Leni. Begitu pula dengan Raka, mereka menyeruput jus tersebut sekali tenggakan.
__ADS_1
Berselang, papah Raka muncul sembari membawa sesuatu di tangan. Ia duduk bergabung bersama mereka, tersenyum pada pasangan baru itu.
"Papah!" Keduanya beranjak menyalami laki-laki paruh baya itu. Kemudian kembali menjatuhkan diri pada sandaran sofa.
"Papah senang akhirnya kalian menikah juga. Sebagai hadiah kecil dari Papah, ini Papah berikan kalian sebuah rumah. Rumah itu emang Papah siapkan buat Raka nanti kalo udah punya istri. Sekarang, itu punya kalian." Papah Raka menyerahkan sebuah kunci rumah kepada mereka.
Shanum terenyuh, mereka begitu memperhatikan. Ia tersenyum sambil melirik Raka yang tertegun mendengar itu. Hanya matanya yang terus berkedip-kedip, seolah-olah tak percaya.
"Bukan cuma itu, papah sama mamah Shanum juga kasih hadiah pernikahan. Mobil yang di depan itu buat kalian, itu dari mereka." Papah Raka melanjutkan sambil meletakkan kunci lain di sisi kunci rumah itu.
Shanum membuka mulutnya tak percaya, air mata jatuh begitu saja. Mereka sungguh baik, tidak melepaskan anak begitu saja. Sudah pasti mereka akan selalu mengawasi kedua anaknya itu.
Raka menghela napas begitu dalam, baru satu hari menikah dengan Shanum ia sudah mendapatkan limpahan rezeki. Mulai dari modal toko, rumah bahkan, kendaraan.
"Alhamdulillah, ya Allah. Makasih, ya Allah. Makasih, Pah, Mah." Raka tersentuh, refleks memeluk Shanum dengan erat dan mencium pipinya.
Gadis itu membelalak malu karena kedua orang tua di depan mereka tertawa kegelian.
"Ya Allah, mereka gemas sekali, sih, Pah. Mamah bersyukur mereka akhirnya menikah. Kita jadi besanan sama keluarga pak Hanan," ujar mamah sengaja menekan kata gemas.
"Ya sudah, sebaiknya rumah itu langsung diisi. Nggak baik juga dibiarkan kosong terlalu lama, dan lagi kalian mulai bisa hidup mandiri sebagai suami istri. Kalo ada masalah jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah. Bicarakan dulu baik-baik supaya nggak ada penyesalan di kemudian hari." Papah Raka menasihati, diangguki mamahnya setuju.
"Iya, Pah. Raka akan ingat nasihat Papah, tapi mungkin besok aja nempatin rumah itu karena kalo sekarang capek banget," ucap Raka disetujui Shanum.
"Ya udah, terserah kalian. Mandi dulu, gih. Nanti makan sama-sama," titah Leni seraya beranjak meninggalkan ruang tamu.
Raka mengajak Shanum ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat dari rasa lelah.
"Kamu duluan apa aku duluan?" tanya Shanum sembari mendekap pakaian ganti dan handuk.
"Sama-sama aja, yuk. Biar cepat!" Refleks Raka berdiri dari duduknya, tersenyum jenaka dan gelisah tak sabar.
Wajah Shanum terasa panas melihat tingkah suaminya itu. Dengan cepat berbalik dan masuk ke kamar mandi, kemudian menguncinya.
Jantungnya berdebar-debar tak karuan, dipeganginya dada sambil menghela napas pendek-pendek. Sikap dan wajah Raka yang jenaka benar-benar meruntuhkan pertahanannya.
__ADS_1
"Sha! Kita, 'kan, udah suami istri. Nggak apa-apa kali mandi sama-sama. Sha!" Raka memukul-mukul pintu meminta izin masuk kepada Shanum.
"Nggak!" Aku masih malu, Raka. Kenapa kamu nggak ngertiin, sih? Shanum melanjutkan di dalam hati, ia menggigit bibir dan terburu-buru membersihkan diri.
Raka berbalik dengan kedua bahu yang turun jauh. Lesu, tapi bibirnya membentuk senyuman melihat rona merah di pipi sang istri. Ia merebahkan tubuh di atas sofa, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum-senyum.
Nanti kalo udah tinggal di rumah sendiri, awas kamu, Sha.
Dia tertawa sendiri membayangkan bagaimana Shanum memberontak dalam dekapannya.
"Ya ampun, kayaknya aku emang beneran jatuh cinta sama sahabat aku. Eh, istri aku sekarang." Dia kembali tertawa, rasa di hatinya menghangat hingga menjalar ke wajah.
Di dalam kamar mandi, Shanum ragu keluar. Ia berdiri gelisah di depan pintu, menggigit bibir gugup. Lalu, membuka pintu kamar mandi dengan pelan, mengintip keberadaan Raka.
Eh? Ngapain tuh laki? Ketawa-ketawa sendiri? Kesambet?
Hati Shanum bergumam, ia bergidik ngeri melihat Raka yang tertawa-tawa sendiri di sofa. Perlahan keluar dari kamar mandi, mengendap agar tidak diketahui oleh laki-laki itu.
"Woy! Kenapa kamu? Kesambet setan mana? Ketawa-ketawa sendiri nggak jelas," tegur Shanum sambil memukul tangan suaminya yang tersampir di sandaran sofa.
Raka tersenyum malu, beranjak duduk sambil menggaruk kepalanya. Berpaling dari tatapan menyelidik sang istri.
"Udah, sana mandi! Biar setannya hilang." Shanum melengos ke balkon, menjemur handuknya. Tak lupa mengambilkan handuk Raka dan memberikannya pada laki-laki itu.
"Makasih, ya, sayang." Raka tersenyum-senyum seperti tak waras.
Shanum tersipu, menggelengkan kepala aneh. Dia meninggalkan Raka membawa perasaannya yang juga aneh. Dadanya tak berhenti berdegup, terus memukul-mukul membuat sedikit sesak.
Shanum menyisir rambutnya sendiri, pekerjaan yang selama ini tak pernah ia lakukan karena tangan Nia yang selalu bekerja.
"Hhmm ... nyisir sendiri sekarang. Kangen sama mamah, padahal baru sehari." Shanum menghela napas, menurunkan tangannya dari rambut. Menunduk sambil menggenggam sisir dengan erat menahan kesedihan.
"Biar aku yang sisir, Sha. Kamu nggak usah sedih karena nggak ada mamah. Ada aku, suami kamu." Raka mengambil sisir dari tangan Shanum, tersenyum manis saat gadis itu mengangkat wajahnya.
"Makasih, ya."
__ADS_1