Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 14


__ADS_3

Dibantu orang tuanya, Raka memperbarui toko. Shanum benar dengan ucapannya, apa yang dia katakan hari itu semua berdatangan.


"Ini semua Shanum yang pesen?" tanya sang mamah usai merapikan semuanya. Kini, tak hanya aksesoris yang dijual di toko Raka, tapi berbagai jenis merk ponsel dan perlengkapannya juga tersedia di sana.


Namun, untuk membuka jasa servis, Raka membutuhkan bantuan dari karyawan. Dia akan meminta pendapat sang istri untuk menemukan karyawan yang tepat.


"Iya, Mah. Semua ini dari Shanum, makanya Raka mau yang pegang keuangan Raka mulai hari ini dia, Mah." Raka tersenyum, tersirat kebahagiaan di wajahnya sangat jelas terlihat.


"Itu memang harus. Istri akan selalu pandai mengatur uang. Kayak Mamah kamu ini, dari awal menikah keuangan Mamah yang ngatur." Papah Raka merangkul sang istri, pandangannya begitu mengagumi wanita yang sudah puluhan tahun menemaninya menjalani biduk rumah tangga itu.


"Iya, Pah. Raka mau cari makan siang dulu, ya. Mamah sama Papah di sini aja dulu, istirahat." Raka berpamitan dan pergi membeli makan siang untuk mereka.


Kedua paruh baya itu bersyukur Raka menikah dengan Shanum. Mereka menatap toko sang anak yang dulu tak ada apapun, kini dipenuhi barang-barang. Mereka bahkan membuka jasa loket pembayaran.


"Shanum benar-benar bawa keberkahan pada hidup Raka, Pah." Ia terharu sampai-sampai menitikan air mata.


"Yah, Papah bersyukur Raka nggak jadi nikah sama perempuan itu. Belum juga nikah, udah bikin anak kita susah. Selain udah kenal sama Shanum, dia juga perempuan baik-baik. Nggak pernah keluyuran nggak jelas, mandiri nggak pernah nyusahin orang lain." Papah Raka mengusap-usap lengan sang istri.


Keduanya amat bersyukur melihat perkembangan pada hidup anak mereka. Mamah dan Papah Raka juga tak segan melayani pembeli yang datang sambil menunggu anaknya datang. Di kejauhan, Shila tak sengaja melihat toko Raka yang berubah drastis. Mulutnya terbuka lebar, mata membelalak besar.


"I-itu toko Raka? Kenapa jadi besar kayak gitu?" pekiknya tak percaya.


"Kayaknya iya, Shil. Itu mamah sama papahnya. Sekarang toko Raka jadi segede ini, pasti pendapatannya juga gede," sahut temannya sambil menepuk bahu Shila.


"Ternyata selama ini dia cuma pura-pura aja, Shil. Dia itu punya banyak uang, papahnya kan pengusaha juga walaupun nggak seterkenal papahnya Shanum. Udah pasti hartanya banyak, lagian Raka itu anak satu-satunya. Semua harta warisan udah pasti jatuh ke tangan Raka. Kalo kamu sampai balikan lagi sama dia, bisa-bisa kamu kayak dadakan."


Manik Shila semakin berbinar, membayangkan kekayaan yang akan dimiliki Raka seketika tekadnya semakin kuat untuk dapat merebut kembali hati laki-laki itu. Tak peduli pada Shanum dan segala jenis perlawanannya. Dia harus bisa mendapatkan kembali hati Raka.

__ADS_1


"Lihat aja, aku pasti bisa rebut Raka dari perempuan gatel itu." Shila memicingkan mata, tersenyum penuh kelicikan. Rencana-rencana busuk telah tersusun rapi di otak kecilnya.


"Kayaknya kamu harus menangin hati orang tuanya dulu, Shil. Buat mereka percaya sama cerita kamu. Aku yakin Raka itu gampang kalo kamu udah menangin hati mereka," saran salah satu teman Shila sambil menunjuk kedua orang tua Raka yang sedang melayani pelanggan.


"Kamu bener. Kalian lihat, ya." Shila berdekhem, mulai berakting di depan orang tua itu.


Shila memasang wajah sedih, matanya dibuat berkaca-kaca untuk mendukung aktingnya. Langkahnya terlihat berat dan pelan, sekilas raut penyesalan memang tampak di wajah itu.


"Terima kasih, Bu. Datang lagi. Di sini juga bisa bayar-bayar, ya. Kasih tahu tetangganya!" Mamah Raka antusias mempromosikan toko putranya.


Ia tersenyum bahagia, ternyata memiliki usaha sendiri itu nikmat rasanya. Tak ada yang mengatur karena dialah bosnya. Namun, senyum itu surut dari bibirnya, kala melihat satu sosok yang sempat akan membuat keluarga mereka malu.


Papah Raka juga tercenung melihat sosok Shila yang berdiri tertunduk di depan toko Raka. Kedua paruh baya itu terlihat tak senang akan kedatangannya. Shila mengangkat wajah, menatap orang tua Raka dengan mata yang basah.


"Mau apa kamu ke sini? Kalo nggak mau beli mending pergi aja, deh. Kamu ngalangin orang yang mau beli aja," sungut mamah Raka dengan ketus.


Seperti mak-mak rempong, Leni mencibirkan bibir pada gadis di depan toko anaknya.


Namun, bukannya pergi, Shila justru menunduk. Kedua bahunya terguncang, dia terisak menangis.


Kurang ajar, nenek lampir itu. Dia nggak lihat apa aku udah nangis kayak gini.


Batin Shila mengumpat kesal, tangannya mencengkram erat tali tas guna meredam emosi dan tetap pada mood sedihnya.


"Aku datang mau minta maaf, Tante," cicit Shila dengan suara lirih dan bergetar karena tangisan palsunya.


"Minta maaf? Tapi buat apa, ya? Kok, dateng-dateng minta maaf? Perasaan kita nggak ada urusan, deh. Iya, 'kan, Pah?" ucap Leni sembari melipat kedua tangan di perut. Ia melirik suaminya meminta dukungan dari laki-laki itu.

__ADS_1


Papah Raka menggelengkan kepala, mereka sama-sama pandai berakting. Yang satu berakting menjadi protagonis dan yang lain menjadi antagonis. Leni, antagonis dalam cerita Shila.


Gadis tak tahu malu itu mengangkat wajah, air matanya tak henti berjatuhan. Terus merayu Leni agar hatinya bisa luruh.


"Aku tahu Tante pasti marah sama aku karena acara kemarin-"


"Acara kemarin? Acara apa, ya? Perasaan kemarin nggak ada acara apa-apa," sela Leni dengan sengit. Ia mencoba untuk melupakan gadis itu dan apa yang sudah dia lakukan pada Raka.


Shila membuka mulutnya heran, apakah Leni sengaja melupakan kejadian kemarin. Ataukah dia hanya sedang berpura-pura?


Shila mendekat dengan membawa air mata yang berjatuhan, tapi Leni dan suaminya tak bersimpati sama sekali. Mereka tahu gadis itu hanyalah berpura-pura.


"Tante. Aku tahu Tante cuma marah sama aku karena nggak datang di acara pernikahan aku sama Raka kemarin. Bukan mau aku, Tante. Semua itu aku juga nggak nyangka kemarin akan ada musibah," ratap Shila semakin histeris menangis.


Leni mengangkat alisnya, seolah-olah tak pernah ada urusan dengan gadis di depan toko anaknya itu.


"Pernikahan? Pernikahan siapa, yang mana? Aku nggak ngerasa punya calon menantu kayak kamu, tuh. Lagian anak aku juga udah nikah sekarang. Mereka udah bahagia. Nggak usah, deh, kamu ngaku-ngaku mau nikah sama anakku!" sengit Leni menatap jijik Shila yang terus menangis tak tahu malu itu.


Papah Raka tertawa tanpa suara, akting istrinya benar-benar sempurna. Pantas diberi penghargaan untuk kategori antagonis dalam cerita hidup Shila.


Gadis itu tertegun, sungguh tak mengira Leni akan lebih sulit ditaklukkan daripada Raka.


"Udah sana, ah! Kamu cuma ngalangin pelanggan datang aja," usir Leni muak melihat wajah tak tahu malu itu.


"Aku nggak akan nyerah minta maaf sama kalian. Kalian harus tahu kenapa aku kemarin nggak datang. Aku-"


"Aduh! Udah, deh. Nggak usah drama di sini. Nggak ada yang mau dengerin. Syuh! Pergi!" Leni mengibas-ngibaskan tangan mengusir Shila.

__ADS_1


Gadis itu menggeram, mengancam dalam hati. Tanpa berkata, dia berbalik membawa rasa malu dan kekalahan.


"Nggak usah datang lagi, kecuali kamu mau beli-beli di sini!" teriak Leni tak puas.


__ADS_2