
Shanum mengernyitkan dahi saat mendengar suara seseorang menggigil. Perlahan membuka mata sambil beranjak duduk. Ia menguap lebar, melilau ke sekitar mencari-cari sosok yang mengeluarkan suara lirih tersebut.
"Siapa, ya?" Shanum bertanya entah pada siapa. Kerutan di dahinya semakin banyak dan dalam tatkala pandangan jatuh pada sosok Raka yang menggigil di sofa.
"Raka?" Shanum memanggilnya lirih. Ia kemudian beranjak turun dari ranjang mendekati laki-laki itu.
"Raka, bangun!" Shanum membangunkan suaminya itu, mengguncang sedikit lengan Raka.
"Dingin, Sha!" Suaranya bergetar, bibirnya ikut gemetar dan gigi bergemelutuk.
Gadis itu tidak tega, ia menggigit bibir ragu, tapi kemudian mengalahkan egonya.
"Pindah, Ka. Tidur di ranjang aja," ucapnya sembari membantu Raka untuk bangun.
"Terus kamu gimana?" tanyanya sambil mendekap tubuh sendiri.
"Udah, nggak apa-apa. Nggak usah mikirin aku." Shanum melilitkan selimut ke tubuh laki-laki itu. Membantunya beranjak dan memapah Raka menuju ranjang.
"Aku ambil air anget dulu, ya." Shanum keluar kamar dan pergi ke dapur untuk memasak air.
Ia membuatkan Raka teh hangat untuk mengusir rasa dingin yang menyerang tubuhnya.
"Shanum, lagi apa, Nak?" tegur Leni yang juga kebetulan pergi ke dapur.
"Ini, Mah. Raka badannya menggigil kedinginan. Aku bikin teh hangat buat dia," jawab Shanum sembari menutup gelas tersebut dan membawanya ke kamar.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Leni memekik seraya mengikuti Shanum menuju kamarnya.
"Ya Allah, Nak! Kamu kenapa? Sakit?" Leni bertanya panik, segera saja duduk di tepi ranjang dan memeriksa suhu tubuhnya.
Shanum merasa bersalah karena membiarkan laki-laki itu tertidur di sofa selama hampir semalaman.
"Nggak tahu, Mah. Tiba-tiba Raka kedinginan," jawab Raka dengan mata terpejam dan bibir bergetar.
__ADS_1
Shanum mendekat dan duduk di tepi ranjang yang lain. Ia meletakkan gelas di atas nakas kemudian berbalik menghadap Raka.
"Minum teh dulu, yuk. Biar badannya anget," ucapnya dengan lembut.
Shanum membantu suaminya duduk, dan meminumkan teh hangat tersebut. Rasa hangat dari teh segera menyebar ke seluruh tubuh Raka, terasa nyaman dan menenangkan. Ia mengambil alih gelas dari tangan Shanum dan menenggaknya.
"Hati-hati, panas!" Shanum mengingatkan, tapi Raka tak merasakan panasnya.
"Ah, lumayan udah agak anget," katanya menyerahkan gelas tersebut kepada Shanum. Lalu, kembali berbaring dibalik selimut.
Leni tersenyum melihat sikap manis yang diperlihatkan Shanum untuk anaknya. Perannya sebagai ibu digantikan gadis itu. Tidak salah memang mereka meminta keduanya untuk menikah. Selain karena saling mengenal satu sama lain, mereka juga terlihat cocok.
"Ya udah. Kalo gitu Mamah titip Raka, ya. Dia agak manja kalo lagi sakit," ucap Leni tak enak hati berlama-lama di kamar pengantin.
"Iya, Mah. Udah tahu dari dulu," sahut gadis itu dengan pipi yang merona.
Leni pergi meninggalkan mereka berdua, tersenyum pada keduanya sebelum menutup pintu kamar tersebut. Shanum membantu menyelimuti suaminya, mengecek suhu tubuh laki-laki itu.
"Udah, kamu tidur duluan aja. Nanti aku nyusul," jawab Shanum sambil tersenyum.
"Tidur sini aja, Sha. Aku janji nggak akan ngapa-ngapain. Jangan di sofa, ya," pinta Raka menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada gadis itu.
"Bener, ya. Nggak ngapa-ngapain," ancam Shanum menatap curiga pada laki-laki itu.
"Iya, nggak. Paling cuma meluk aja. Dingin, Sha." Raka menggigil kedinginan.
"Yeh, sama aja." Shanum berbalik memunggungi. Kesal, tapi mau sebenarnya. Hanya saja malu karena merasa belum terbiasa.
"Ayolah, Sha. Kita udah nikah, lho. Aku cuma pengen peluk kamu doang. Dingin banget badan aku," pinta Raka memelas sembari memegangi tangan Shanum.
Gadis itu berbalik, menatap tajam laki-laki di dalam selimut.
"Cuma peluk, ya?" Memastikan sebelum semua terjadi.
__ADS_1
Raka mengangguk-anggukkan kepala, menepuk ruang kosong di sisinya. Perlahan, Shanum berbaring, memunggungi laki-laki itu. Ia memejamkan mata, merasakan debaran jantung yang meronta-ronta tatkala Raka melingkarkan tangan di perutnya.
"Anget, Sha."
Shanum menyikut tangan laki-laki itu ketika ia berbisik di telinganya.
"Diem! Nggak usah ngomong!" Bergetar hatinya, bergetar pula lisannya. Wajahnya terasa panas bagai tersengat aliran listrik yang kuat.
Diam-diam laki-laki yang berada di belakang tubuhnya tersenyum, terus merapatkan tubuh padanya. Bibirnya dengan sengaja menempel di tengkuk Shanum, meremang tubuh gadis itu. Hembusan napas Raka amat menggelitik menerpa permukaan kulitnya.
Shanum tak dapat memejamkan mata sama sekali, hatinya was-was dan gelisah. Beberapa saat lamanya ia merasa cemas sampai dengkuran halus yang terdengar dari arah belakang sedikit membuatnya merasa lega.
Kayaknya udah tidur si anak mamih. Aku juga udah ngantuk banget.
Shanum menguap kemudian memejamkan mata mencoba untuk tertidur. Larut dalam hangatnya pelukan seseorang yang halal.
Sementara di tempat lain, Shila masih menyesali tindakannya yang tak datang ke acara pernikahan. Malam itu, dia sama sekali tidak dapat memejamkan mata karena rasa resah dan gelisah.
"Bodoh banget, sih, aku. Ngapain pake kabur segala coba? Lagian si Raka itu pake nggak ngomong kalo ada seperangkat emas. Kalo tahu, 'kan, lumayan. Abis itu buang aja laki-laki kere itu. Hmm ...." Sudah ke sekian kali dia mengeluhkan hal tersebut.
Tak terbayang dalam benaknya, uang seratus juta itu ada dalam genggaman. Tak peduli pada yang lain, yang dia pikirkan hanyalah uang.
"Tapi walaupun kere, dia rajin ngasih aku uang tiap bulannya. Nggak banyak juga lumayan, tapi Benny jauh lebih kaya dari dia. Apapun yang aku mau dia kasih. Hmmm ... maaf, ya, Ka. Aku lebih milih Benny." Dia tersenyum kala mengingat laki-laki yang selama ini menjadi mesin pencetak uangnya. Meski harus menyerahkan kehormatan, yang penting untuknya adalah semua kebutuhan dapat terpenuhi.
"Tetap aja aku nggak rela kalian bahagia. Lihat aja nanti, aku akan hancurin pernikahan mereka." Bibirnya tersenyum licik, rencana busuk sudah tersusun rapi di otaknya. Tinggal menunggu waktu kapan rencana tersebut akan dimulai.
"Kalian nggak boleh bahagia, dan nggak akan pernah aku biarin bahagia. Apalagi kamu, Shanum. Dari dulu kamu selalu jadi saingan aku." Mata gadis itu memicing, kebencian terhadap Shanum benar-benar sudah tertanam di dalam hatinya.
Shila merebahkan tubuh, mengingat masa-masa sekolah dulu. Di mana ia dan Shanum merupakan teman satu kelas. Dia mendekati Shanum hanya ingin kepopulerannya. Juga tentunya memanfaatkan kecerdasan gadis itu. Selain itu, Shanum berasal dari keluarga berada dan royal.
Apapun yang dimiliki Shanum, ia ingin memilikinya jua. Sayang, hidupnya tak seberuntung Shanum. Bisnis keluarganya hancur, dan seketika Shila berubah menjadi dia yang sebenarnya.
"Kayaknya bentar lagi reuni sekolah. Aku akan memanfaatkan momen itu untuk membuat malu mereka." Shila tersenyum licik. Tak sabar ingin segera hari itu tiba.
__ADS_1