
Shanum baru saja tiba di rumah, ia dikejutkan oleh sebuah benda asing berupa kotak hadiah di teras. Shanum menoleh dan berjalan cepat ke gerbang, berharap Raka masih di sana. Sayang, mobil suaminya itu sudah melaju dengan cepat.
"Kotak apa di sana?" Shanum berbalik dan menatap kotak tersebut dari dekat gerbang. Dipotretnya benda itu dan dikirimkan ke nomor Raka.
Shanum melilau ke segala arah mencari-cari tetangga yang melintas di sekitar rumah. Secara kebetulan, seorang tetangga melewati depan rumahnya.
"Eh, Bu! Maaf, saya mau tanya. Ibu tahu siapa yang naro kotak itu di teras rumah saya?" tanya Shanum sembari menunjuk kotak di teras rumahnya.
Tetangga tersebut melongo, tapi kemudian menggelengkan kepala. Dia tidak tahu dan tidak melihat siapa yang meletakkan benda tersebut di teras rumah Shanum.
"Mungkin pak Raka, Bu. Mau kasih Ibu kejutan. Pak Raka, 'kan, orangnya romantis, Bu." Ia mencolek bahu Shanum, menggodanya dengan genit.
Shanum tersipu, pipinya merona merah. Lalu, menunduk dan menganggukkan kepala ketika tetangga tersebut berpamitan kepadanya. Dengan hati berbunga, mengira hadiah tersebut memang dari Raka Shanum membawa langkahnya menuju teras.
Namun, belum tiba kedua kaki menapak di lantai, sebuah klakson motor membuatnya kembali menoleh ke belakang. Ia tersenyum saat Lia melambaikan tangan dari motornya. Shanum kembali ke pintu gerbang, membukakan jalan untuk sahabatnya itu. Keduanya berpelukan, melepas rindu.
"Yuk!" Shanum mengajak Lia memasuki rumah.
"Itu apa, Sha?" Lia menunjuk kado di teras rumah Shanum.
"Nggak tahu. Aku datang benda itu udah ada," jawab Shanum sembari menghendikan bahu.
"Eh, tunggu, Sha!" Lia mencegah Shanum yang hendak mengambil kado tersebut. Teringat pada Shila, dia curiga benda tersebut darinya.
"Kenapa?" Shanum kembali menegakkan tubuh, urung mengambilnya.
Lia celingukan mencari sesuatu untuk dapat membuka penutup kotak tersebut. Dia memungut sebatang ranting, menggunakannya untuk mengangkat bagian atas dari penutup.
"Coba kamu lihat, apa isinya?" pintanya setelah penutup dus tersebut terbuka.
Shanum melongo ke dalam kotak hadiah itu untuk melihat isinya.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" seru Shanum sambil memungut sebuah boneka yang tercabik-cabik dan berdarah.
__ADS_1
"Siapa yang kirim ini ke rumah aku? Nggak ada kerjaan banget," tanya Shanum sambil melempar benda itu ke tanah.
Lia yang sudah curiga, menghela napas panjang. Shila benar-benar tak bisa dibiarkan.
"Aku tahu siapa yang ngirim ini ke kamu, Sha," ucap Lia sambil membalik kotak hadiah tersebut.
Mereka dikejutkan oleh secarik kertas yang terbang dan jatuh ke teras. Shanum memungutnya, membaca tulisan berwarna merah darah di permukaannya.
Kamu nggak akan pernah bahagia, Shanum. Kamu akan hancur seperti boneka itu.
Shanum melempar kertas tersebut, rasa panik jelas terlihat di wajahnya. Ia mendekap tubuh sendiri, masuk ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah korek api di tangan. Shanum yang hendak membakar itu, tapi lagi-lagi dihentikan Lia.
"Tunggu! Kamu mau ngapain?" sergah Lia sambil merebut korek tersebut.
"Aku mau bakar itu, Lia!" pekik Shanum putus asa. Matanya berkaca-kaca ingin menangis, kecemasan jelas terlihat di sana.
"Kamu jangan bodoh! Aku tahu siapa yang ngelakuin ini sama kamu. Saran aku, kamu simpan barang bukti ini buat nuntut dia. Kalo dia terus mengganggu, kita bisa laporkan dia ke pihak berwajib," ujar Lia membuat Shanum tercenung.
Lia mengambil boneka yang dilempar Shanum tanpa menyentuhnya, membalik kotak, menyimpan benda itu ke dalam. Tak lupa juga secarik kertas bertuliskan ancaman. Lalu, kembali menutupnya dan meminta Shanum untuk menyimpan barang bukti itu.
"Siapa yang udah kirim itu, Lia? Kamu bilang, kamu tahu siapa orangnya?" tanya Shanum dengan pandangan kosong menatap jendela.
Lia menghela napas, merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Pastilah jiwanya terguncang, ditambah dia sedang mengandung yang terkadang emosi tak menentu.
"Tadi siang aku lihat Shila ngikutin kalian. Dia memperhatikan kamu, Sha, waktu di restoran. Aku pikir, dia pasti punya rencana busuk sama kamu. Sebaiknya kamu hati-hati. Mungkin itu juga dia yang ngirim," ungkap Lia.
Shanum mengalihkan pandangan kepadanya, menatap Lia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Temani aku ketemu sama dia. Dia harus tahu yang dia lakukan itu salah." Shanum bertekad.
"Kamu yakin? Aku khawatir sama kandungan kamu, Sha." Lia melirik perut sahabatnya yang sudah sedikit membuncit.
"Nggak apa-apa. Aku juga bukannya mau berantem sama dia, kok. Aku cuma mau ngomong sama dia," ucap Shanum meyakinkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Lia menghela napas, memang seharusnya mereka berbicara agar Shila mengerti untuk tidak mengganggu kehidupan Shanum.
"Ya udah, tapi besok. Sekarang aku capek, aku temenin kamu dulu, ya. Nanti kalo Raka pulang, aku baru pulang. Aku nggak mungkin tinggalin kamu," katanya sambil merebahkan kepala pada sandaran sofa.
Raut lelah jelas terlihat di wajah gadis tangguh itu, Shanum tersenyum dan beranjak ke dapur untuk membuatkannya minuman.
****
Di toko, Raka membanting diri di kursi setelah membereskan gudang bersama dua karyawannya. Duduk termenung, memikirkan pertemuannya dengan Shila di rumah sakit.
"Apa yang aku pikirkan, kenapa aku masih tergoda buat ketemu sama dia?" gumam Raka sembari berdecak kesal.
"Shanum lagi apa, ya? Lia udah datang ke rumah belum?" Teringat pada sang istri, Raka merogoh saku mengambil ponsel.
Ia mengernyit ketika melihat pesan dari Shanum. Sebuah gambar kado yang tak ia ketahui.
"Kado? Siapa yang ngirim kado ke rumah? Apa Shanum ngira itu dari aku? Tapi aku nggak pernah kasih dia hadiah?" Raka bingung sendiri.
Ia kemudian menelpon wanita itu hendak menanyakan perihal kado.
"Sha? Kamu baik-baik aja? Lia udah dateng?" Raka menyerbu dengan pertanyaan begitu Shanum mengangkat telponnya.
"Lia udah di sini. Emangnya kenapa? Aku baik-baik aja, kok." Suara Shanum terdengar bingung.
"Itu kado dari siapa? Aku nggak ngirim kamu kado, lho." Raka merasa sedikit cemas, khawatir jika ada seseorang yang iseng mengganggu istrinya. Oh, tidak! Shila? Bagaimana jika kado itu dari Shila.
"Oh, itu dari Lia. Dia udah di sini tadi waktu aku datang. Aku nggak tahu awalnya."
Raka tersenyum lega mendengar jawaban sang istri. Entah apa yang dilakukan Shanum sehingga menyembunyikan fakta tentang kado ancaman itu.
"Oh, syukurlah. Aku kira dari orang iseng yang ngerjain kamu. Ya udah, kamu hati-hati, ya. Jangan pinta Lia pulang dulu sebelum aku pulang. Masih beberes gudang, banyak barang belum masuk," ucap Raka dengan perasaan lega.
"Iya. Ya udah, kamu hati-hati!"
__ADS_1
Sambungan ditutup, Raka tersenyum setelah mengetahui istrinya baik-baik saja. Ia kembali beranjak, membantu kedua karyawannya mengangkut barang-barang.
Apa yang direncanakan Shanum?