Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 21


__ADS_3

Langit yang sudah berubah warna, mobil Raka masih berada di jalanan. Di bawah payung kegelapan malam, laki-laki itu berulangkali mengusap wajah sambil memukul setir. Raut kesal di wajahnya jelas terlihat, bercampur rasa lelah karena pekerjaan.


Tak lupa peluh yang membuat wajahnya lembab berminyak, tak ia pedulikan. Klakson ditekannya dengan cukup kuat dan berulang ketika ada kendaraan yang menyalip atau menghalangi jalannya.


Ting!


Sebuah pesan masuk dari Shanum, mobil Raka berhenti di depan lampu merah. Membuka pesan sang istri yang sontak saja menerbitkan senyum di bibirnya.


Ke rumah mamah, ya. Aku masih di sini soalnya.


Raka menekan tombol balas, mengetik pesan balasan untuk sang istri.


Mau dibelikan apa? Mumpung masih di jalan.


Raka menunggu, mobilnya kembali melaju setelah lampu berubah hijau.


Nggak usah beli apa-apa. Tadi di jalan aku udah beli.


Balasan Shanum datang tak berapa lama dari pesannya. Raka menyimpan telepon genggamnya dan fokus menyetir. Berbalas pesan dengan Shanum, tetap saja tak membuat kekesalannya menghilang.


Sampai tiba di rumah sang mertua, hati Raka masih saja ingin mengumpat. Ia menghela napas panjang dan membuangnya pelan-pelan sebelum beranjak turun dari mobil.


Di teras sang istri tercinta telah berdiri menunggunya datang. Dengan senyum manis tersungging, Shanum mengulurkan tangan mencium punggung tangan suaminya.


"Masak apa?" Raka bertanya basa-basi.


"Ada banyak karena lagi pada ngumpul semuanya," jawab Sahnun seraya meraih tas Raka dan melingkarkan tangan di lengan suaminya.


Shanum melirik sang istri yang telah kembali ceria. Mungkin benar, dia merindukan keluarganya. Maklum, Shanum anak tunggal dan begitu dimanjakan meskipun mandiri.


Raka melingkarkan tangan di pundaknya, memeluk erat dengan gemas dan dengan perasaan yang entah.


"Assalamu'alaikum!" sapanya pada semua orang yang telah berkumpul di ruang tengah rumah.


"Wa'alaikumussalaam! Sini, Nak!" Nia melambaikan tangan memanggil menantunya.


Raka melepaskan rangkulan, mendatangi mereka satu per satu. Ada paman dan bibi Shanum dari pihak sang ayah juga keluarga mereka.

__ADS_1


"Jadi, ini suami Shanum?" tanya bibi Shanum ketika Raka menyalaminya.


"Iya, Bi. Namanya Raka," jawab Shanum mendahului suaminya.


"Ya Allah. Ternyata ganteng juga. Maaf, ya waktu kalian nikah Bibi nggak datang karena nggak tahu. Dikasih tahu dadakan, sedangkan rumah kami jauh di luar daerah," ucap bibi Shanum dengan perasaan yang tak enak.


"Nggak apa-apa, Bi. Kita bisa maklum, kok." Raka menyahut dengan ramah. Keluarga Shanum semuanya ramah dan baik, tidak memandang rendah orang lain meskipun mereka bukan orang berada.


"Alhamdulillah kalo gitu. Ya, Bibi sama Paman cuma bisa doain semoga pernikahan kalian langgeng diberkahi Allah dan dilancarkan rezekinya," ucap paman Shanum sambil tersenyum tulus.


"Aamiin. Makasih, Paman."


"Ya, nggak usah pakai KB biar cepet punya anak. Biar punya anak banyak, Mamah kamu itu cuma punya kamu. Dia pasti kangen pengen punya anak lagi." Bibi melirik Nia yang seketika menunduk.


Bukan inginnya hanya memiliki satu anak, tapi karena sebuah kejadian yang menyebabkannya tak dapat lagi mengandung. Shanum melirik sang mamah yang dirangkul papahnya.


"Insya Allah, Bi. Nanti kalo Shanum punya anak, 'kan, Mamah yang ikut ngasuh juga. Shanum mana bisa ngurus sendirian." Shanum tersenyum hangat ketika Nia mengangkat wajah menatapnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum, berterimakasih untuk kepercayaan sang anak padanya.


"Ya udah. Berhubung Raka udah datang, kita makan aja, yuk. Papah udah laper banget. Apalagi tadi lihat masakannya koki profesional, beuh ... kagak nahan lapernya!" ajak sang papah, tingkahnya yang mengusap-usap perut sambil berekspresi mengundang gelak tawa dari mereka semua.


"Sha, siapa koki profesional yang dimaksud Papah?" bisik Raka.


"Nggak tahu. Siapa lagi kalo bukan Mamah." Shanum balas berbisik sambil melirik sepasang paruh baya itu.


"Nah, ini dia masakan koki profesional. Ayam teriyaki. Mmm ... dari namanya aja udah restoran banget, nih. Gimana rasanya, ya?" Papah Shanum menyendok ayam buatan sang anak, tergiur sekali melihatnya.


"Itu Mamah apa kamu yang bikin?" Raka kembali berbisik.


"Itu aku yang bikin. Hehe ... mau cobain?" Shanum mengambilkannya untuk Raka.


"Masakan istri aku pasti enak." Tak sabar rasanya ingin menyantap, sampai-sampai air liur berkumpul banyak di bawah lidah.


Kebahagiaan jelas terpancar di wajah setiap orang. Melihat Raka yang begitu lahap menyantap masakannya, membuat Shanum tersadar bahwa seharusnya ia tak pantas memikirkan laki-laki lain selain suaminya.


Maafin aku, Ka. Nggak seharusnya aku mikirin kak Dzaky. Mulai sekarang, aku cuma mau menuhin pikiran aku sama kamu aja. Suami aku.

__ADS_1


Shanum tersenyum, lantas melanjutkan makannya seperti yang lain.


****


"Ka, malam ini kita nginep, ya. Semalam aja," pinta Shanum dengan sangat pada suaminya saat mereka berada di kamar milik Shanum.


Raka menghela napas sampai-sampai kedua bahunya turun. Ia menatap lama wajah sang istri, kedipan matanya membuat hati Raka luluh.


"Iya, iya. Semalam aja, ya?" Raka mengangkat jari telunjuknya.


Shanum mengangguk cepat dan menangkap jemari itu. Menggenggamnya sambil mengucapkan terima kasih.


"Aku mau mandi dulu." Raka berdiri diikuti Shanum yang mendekati lemarinya untuk mengambil handuk.


"Ini." Shanum memberikan handuk tersebut kepada suaminya. Ia duduk sambil membaca majalah favorit menunggu Raka selesai.


Shanum berbalas pesan bersama sahabatnya demi mengusir rasa jenuh. Beruntung sebelum pergi Shanum sudah mengunci pintu rumah juga pagar gerbangnya.


Sementara di dalam kamar mandi, Raka berdiri di bawah guyuran shower. Kepalanya menengadah, membiarkan air tersebut terus menjatuhi tubuhnya. Ia mundur, menempelkan punggung pada dinding.


"Apa yang harus aku lakukan?" Lisannya bergumam lirih.


Teringat pertemuannya dengan seseorang tadi sore, membuat pikiran Raka selalu kacau dan penuh. Tak dapat berpikir jernih lagi, tapi ia harus tetap bersikap biasa di hadapan istrinya.


Raka mencoba abai, tapi tetap saja itu sangat mengganggu. Ia pejamkan kedua mata, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Agar hidup terhindar dari prasangka buruk orang lain maka, jangan memikirkan sesuatu yang negatif.


Merasa Raka terlalu lama di dalam kamar mandi, Shanum beranjak turun dari ranjang dan mendekati pintu tersebut. Mengetuknya dengan pelan, khawatir laki-laki itu akan tertidur di dalam kamar mandi sana.


"Ka, kamu baik aja, 'kan? Kenapa lama banget di dalam sana? Nanti masuk angin, lho." Shanum teringat pada malam pertama mereka menikah, di mana Raka demam tinggi mungkin karena syok dengan pernikahan dadakan tersebut.


Bukan! Bukan pernikahannya yang mendadak, tapi mempelai wanitanya yang membuat Raka syok.


"Iya. Bentar lagi!" sahut suara Raka terdengar pelan dan tanpa tenaga.


"Kamu kenapa? Kenapa suara kamu lemes begitu?" tanya Shanum cemas.


"Nggak apa-apa, Sha. Aku nggak apa-apa, kok. Kamu nggak usah cemas, ya." Raka membalas.

__ADS_1


Shanum tercenung, untuk kemudian kembali ke ranjang menunggu.


__ADS_2