Sekedar Pengganti

Sekedar Pengganti
Chapter 23


__ADS_3

Pagi buta, adzan subuh baru lepas berkumandang bahkan, baru sedikit manusia yang sudah meninggalkan peraduan. Akan tetapi, laki-laki itu telah bersiap dengan kemejanya.


Ia melirik ranjang di mana sang istri masih bergelung di dalam selimut. Tanpa berniat membangunkan membawa dirinya keluar dari kamar. Berjalan nyaris tanpa suara karena tak ingin membangunkan para penghuni rumah.


"Lho, Nak? Mau ke mana subuh-subuh begini? Shanum mana?" tegur Nia saat tak sengaja menjumpai Raka yang sedang menuruni anak tangga.


Raka tersenyum, membenarkan tasnya seraya terus menuruni tangga ke lantai satu.


"Raka harus nyiapin pesanan orang, Mah. Pagi-pagi nanti orangnya mau datang ke toko. Udah ada Irwan di sana nungguin. Shanum masih tidur, Raka nggak tega buat banguninnya," jawab Raka apa adanya.


"Oh, ya udah kalo gitu. Kamu hati-hati, ya. Ini masih gelap, lho." Nia melirik jendela yang baru saja dibukanya. Keadaan di luar rumah masih sangat gelap, dan belum banyak kendaraan yang keluar rumah.


"Iya, Mah. Nanti kalo Shanum bangun terus nanyain bilang aja Raka ke toko duluan," ucap Raka seraya menyalami mertuanya.


"Eh, Ka. Nggak sarapan dulu? Biar Mamah bikinin," sergah Nia ketika teringat pada perut menantunya.


"Nanti di sana aja, Mah. Kasihan Irwan takut kelamaan nungguin sendirian," tolak Raka yang kemudian terus keluar rumah.


Ia pergi ke garasi memanaskan mobil, tak lama pergi keluar menuju toko. Di kamarnya, Shanum menggeliat, tangannya meraba bagian kosong di samping mencari-cari Raka. Wajah Shanum mengernyit, tak ada apapun di sana.


Ia membuka mata, kosong. Lalu, Shanum bangkit dan duduk dalam keadaan setengah sadar.


"Raka!" panggilnya, berharap laki-laki itu ada di dalam kamar mandi.


Namun, berkali-kali memanggil, tak ada sahutan dari suaminya itu. Shanum mengusap wajah, mengucek matanya guna menjernihkan pandangan. Ia beranjak turun dari ranjang, mendekati kamar mandi mencari suaminya.


"Raka!" Sambil mengetuk pintunya Shanum memanggil nama itu lagi. Tak ada sahutan. Shanum mencoba membuka pintu itu.


"Nggak dikunci." Dibukanya lebar-lebar, tak ada siapapun di dalam sana.


Hati Shanum mencelos nyeri, bibirnya berkedut, kelopak mata pun ikut gemetar. Terasa panas dan air segera saja jatuh dari tahtanya.


"Raka! Kamu di mana?" Bergetar lisannya memanggil. Ia berbalik sambil mengusap air mata.

__ADS_1


"Ini masih pagi, nggak mungkin dia udah berangkat, 'kan? Mungkin ada di dapur." Shanum buru-buru keluar, berpikir Raka ada di dapur entah sedang apapun itu.


"Raka!" Senyum yang diukirnya hilang ketika melihat hanya ada Nia di dalam sana.


"Udah bangun? Nyariin Raka, ya?" tanya Nia sambil mengiris bawang untuk membuat nasi goreng.


Shanum menganggukkan kepala, berjalan mendekat dan duduk di kursi meja makan.


"Tadi abis sholat subuh, Raka pamit sama Mamah. Katanya mau ke toko nyiapin pesenan yang akan diambil pagi ini sama yang punya. Dia buru-buru banget soalnya Irwan udah nungguin di sana," jelas Nia membuat Shanum tertegun tak dapat berkata apapun.


Dia pikir Raka tak akan pergi sepagi itu, pesanan apa? Kenapa harus disiapkan pagi buta sekali?


Segala pertanyaan berseliweran dalam pikirannya. Shanum bangkit, teringat belum menunaikan kewajiban dus rakaatnya.


"Shanum belum sholat, Mah. Mau sholat dulu," pamitnya dan tanpa menunggu sahutan dari Nia, ia berbalik pergi menuju kamarnya.


Kenapa Raka pergi gitu aja? Nggak bangunin aku. Ada apa sama dia, ya? Apa bener nyiapin pesanan sepagi ini? Dari kemarin sikapnya agak aneh.


Ia menggelar sajadah, menunaikan kewajiban dua raka'at sendirian. Hal yang selama menikah dengan Raka, tak pernah ia lakukan sendiri. Pasti selalu berjamaah dengan laki-laki itu.


"Ya Allah ...." Shanum menengadah, mengadukan gundah gulananya kepada sang pemilik hati. Hanya DIA satu-satunya tempat mengadu dan menggantungkan kegelisahan.


Shanum menjatuhkan kepala pada tempat sujud. Menumpahkan tangisan berharap kegelisahan hati akan secepatnya sirna. Cukup lama ia berada di dalam posisi itu, sampai dering ponsel membuatnya terpaksa menyudahi tangisan.


Ia mengambil telepon genggam tersebut, panggilan video dari Raka. Shanum mengusap air mata di pipi sebelum menggeser tombol hijau untuk menjawab.


"Hallo, yang! Udah bangun ... Sha? Kamu kenapa? Kok, kayak abis nangis?" Raut bahagia di awal panggilan berganti cemas melihat jejak tangisan di wajah sang istri.


Shanum menggelengkan kepala, tapi air yang jatuh tak dapat membohongi Raka.


"Kamu kenapa, yang? Kenapa nangis?" Raka berjalan keluar dari toko menjauh dari Irwan yang sekilas terlihat sibuk menyusun barang-barang.


"Kamu," jawab Shanum sambil mengusap air mata. Kesedihannya menguap saat melihat kepanikan di wajah laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku?" Raka bertanya masih tak menyadari kesalahannya.


"Iya, kamu. Kenapa pergi subuh sekali ke toko? Terus nggak bangunin aku. Aku nyariin kamu tahu," ucap Shanum sambil terus menghalau air yang jatuh ke pipi.


Raka tertawa mendengar itu, ternyata masalah keberangkatannya.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Ternyata itu. Maaf, ya. Aku sengaja nggak bangunin kamu karena merasa kasihan. Kamu pules banget tidurnya, jadi nggak tega aja buat banguninnya. Udah nggak usah nangis, aku minta maaf kalo salah," ucap Raka sambil tersenyum.


Shanum menganggukkan kepala, tapi belum bisa tersenyum.


"Kata Mamah kamu mau nyiapin pesanan di toko? Kok, pagi buta begini?" tanya Shanum lagi.


Raka memutar video memperlihatkan Irwan yang tengah sibuk menyusun barang-barang yang dipesan pembeli.


"Iya, Sha. Orang yang pesennya mau ambil pagi ini. Semalam nggak sempet nyiapin karena udah kemalaman. Jadi, terpaksa subuh-subuh tadi berangkat. Padahal masih pengen bobo." Raka memasang wajah sedih, masih ingin memeluk tubuh sang istri yang ia abaikan semalam.


Shanum akhirnya tersenyum, semua pikiran buruk enyah dengan sendirinya.


"Kamu udah sarapan belum?" Shanum menjatuhkan kepala pada tepi ranjang.


"Belum. Masih nunggu Irwan. Nanti kalo udah selesai kita sarapan bareng," jawab Raka merasa lega setelah melihat senyum istrinya.


"Gitu, dong, senyum. Nggak usah mikir yang macem-macem, ya. Aku sayang kamu, Sha. Apalagi sekarang kamu lagi hamil anak kita. Jangan banyak pikiran, inget kata dokter." Raka mengingatkan Shanum dengan penuh perhatian dan cinta.


Wanita itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia memang sedikit berlebihan, takut terjadi sesuatu pada rumah tangganya.


"Iya, makasih, ya." Shanum terus tersenyum sepanjang mengobrol.


"Jangan lupa sarapan, biar kamu sama anak kita sehat. Makan yang banyak, aku mau bantuin Irwan lagi. Abis itu beli sarapan, nanti kalo mau ke toko aku jemput kamu." Raka berpamitan.


Hatinya sudah merasa lega setelah melihat sang istri.


"Iya, hati-hati." Shanum menutup sambungan, menghela napas lega. Mungkin bawaan bayi, dia menjadi lebih sensitif.

__ADS_1


__ADS_2