
"Pagi begini kamu mau kemana, Nak?"
"Mau interview, Bu." Kata Mom Laura, di perusahaannya membutuhkan seseorang bidang yang Rena kuasai."
"Oh gitu, ya sudah kamu hati-hati. Tapi kok Ibu lihat ada yang berbeda ya, kamu berbeda loh, makin cantik." Tanya Ibu panti saat melihat Rena sudah berpakaian rapi, namun kali ini terlebih lebih elegan dari biasanya.
"Ibu bisa saja, ini semua karena hadiah yang diberikan Mom padaku kemarin."
Kemarin setelah mereka makan siang bersama, Mom Laura mengajaknya shopping untuk keperluan dirinya interview besok, awalnya Rena menolak namun karena rayuan maut Mom Laura dengan berpura-pura sedih, jadinya Rena menerimanya.
Perjanjian hanya satu stell pakaian lengkap dengan tas beserta sepatunya, namun entah kenapa saat mereka dikasir, sudah ada beberapa papperbag yang sudah rapi berjejer dimejanya.
Rena hanya menggelengkan kepalanya saat keluar dari toko, mereka cukup kesulitan membawanya, alhasil Mom Laura harus meminta bantuan supirnya umtuk membantu dirinya membawa kembali ke mobil.
Didalam mobil, Mom Laura tak henti-hentinya menggenggam tangan Rena lalu berkata padanya "Mom yakin kamu akan sukses walau tanpa bantuan Mom, kecerdasan dan kegigihan mu yang kuat menjadi pondasi dan kekuatanmu, jadi jangan berfikir kalau nanti kamu diterima adalah campur tangan Mom."
Rena menganggukkan kepalanya pelan dan berjanji akan membalas semua kebaikan yang diberikan olehnya suatu saat nanti.
"Rena sayang Mom, Rena beruntung memiliki Mom yang hadir di hidup Rena!" Peluk Rena di lengan Mom Laura yang memang duduk bersebelahan.
Bip..bip..
Nah itu sepertinya supir Nyonya Laura sudah sampai, buruan habiskan sarapanmu lalu berangkat."
"Iya, Bu. Rena pamit ya."
"Iya sayang, Ibu doakan kamu sukses dan diterima." Ucap Ibu panti yang membawa Rena kedalam pelukannya.
"Hati-hati Pak." Ucap Ibu pada supir yang bernama Pak Anto yang selalu mengantar jemput Rena.
"Kamu beruntung, Nak. Bisa bertemu dengan Nyonya Laura yang begitu tulus menyayangimu tanpa syarat apapun." Gumam Ibu Rahma saat melihat mobil yang membawa Rena sudah tak terlihat.
***
Perusahaan Raharja Corp
Disepanjang perjalanan, Rena terus saja merapalkan doa-doanya agar interview nya hari ini bisa berjalan dengan lancar. Tanpa dia sadari, mobil yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di depan lobby perusahaan Raharja Corp.
"Eegh, sudah sampai ya." Rena baru tersadar saat Pak Anto memanggil namanya berulang kali.
__ADS_1
"Iya, Non. Kita sudah sampai di Perusahaan Nyonya." Ucapnya dan segera turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rena.
Awalnya Rena keberatan akan sikap Pak Anto yang terlalu formal padanya tapi karena beliau sendiri yang kekeh untuk melaksanakan tugasnya jadi mau tidak mau, Rena pun menghargai keinginan dari Pak Anto. Katanya tidak mau sampai makan gaji buta hehe.
"Terima kasih Pak Anto, hati-hati di jalan."
"Iya, Non. Saya permisi."
Belum sempat Pak Anto menutup pintu mobil, tiba-tiba pintu tersebut tertahan oleh tangan seseorang yang membuatnya menengadahkan wajahnya keatas, kaget karena ternyata yang menahannya itu adalah Rena.
"Ada apa ini?" pikirnya.
"Pak..!! Apa tidak salah bapak mengantar saya kesini? Inikan Raharja Corp!! Bukannya Mom menyuruh kita ke perusahaannya?! Tanya Rena beruntun.
Pak Anto tergelak saat melihat reaksi Rena yang begitu kaget. "Apa iya selama ini Non Rena tidak mengetahui siapa Nyonya Laura?!" Batinnya.
Rena mendengus saat melihat reaksi Pak Anto saat dirinya bertanya, bukannya di jawab malah menertawakan nya!"
"Ya.. ini, Non. Perusahaan Raharja Corp inilah kepunyaan Nyonya Laura!" Seru Pak Anto saat melihat raut jengkel dari wajah Rena.
"Astagaaa, aku beneran nggak tahu, Pak." balas Rena.
Setelah masuk kedalam lobby, sesuai dengan instruksi yang Mom Laura berikan, Rena menuju meja resepsionis yang terletak tepat di depan pintu masuk Raharja Corp.
Di gedung ini memang terdapat beberapa anak perusahaan dari Raharja Corp, jadi tidak heran sebelum kita interview kerja, kita harus bertanya terlebih dahulu di departemen dan lantai berapa yamg harus kita akan pilih saat akan naik lift.
Biasanya kalau perusahaan besar memang banyak aturan dan alur yang harus kita ikuti, salah satunya adalah harus mengambil id card 'VISITOR' jika akan berkunjung ke perusahaan tersebut, id card akan diberikan oleh petugas keamanan setelah kita menjaminkan tanda pengenal kita terlebih dahulu.
"Saya Renata, saya ada janji Interview dengan Pak Bram." Ucap Rena kepada wanita yang sedang bertugas saat itu.
"Pak Bram?" Ucapnya kembali.
"Iya, Mbak. Saya sudah janjian dengan Pak Bram. Ini kartu namanya, katanya saya tinggal memberikan ini pada petugas resepsionisnya dan mereka pasti akan tahu!" Ucap Rena lalu memberikan kartu nama yang sebelumnya sudah diberikan oleh Mom Laura.
"Kartu nama ini.. tidak sembarang orang yang bisa menerimanya." Gumam petugas resepsionis tersebut.
"Maafkan saya membuat Nona lama menunggu, mari saya antarkan langsung ke ruangan Pak Bram," Ucap wanita tersebut dengan ramah.
Rena sedikit terheran dengan sikap yang berbeda yang ditujukan oleh petugas resepsionis yang bernama Ayyura. Seakan nama tersebut adalah sebuah matra yang bisa membuat orang menjadi berbeda haha.
__ADS_1
(Rena tidak tahu saja, siapa itu Bram!)
Lantai 15 Gedung A, itulah yang Rena tangkap saat petugas yang bernama Ayyura itu memencet nomor lantai yang sebelumnya sudah menempelkan id card miliknya. Kurang dari satu menit, kami sudah sampai di sebuah ruangan yang begitu luas, bahkan saat kita akan masuk pun tetap harus menempelkan id card kita agar pintu otomatis yang terdapat tepat didepan pintu lift itu terbuka.
Rena terus mengikuti langkah kaki wanita itu menuntunnya, ketika berbelok dirinya oun ikut berbelok. Tidak jauh dari pintu depan, terdapat pintu lagi sebelum kita akan bertemu dengan Pak Bram.
"Hemm, banyak banget pintunya, memang siapa itu Pak Bram? Susah banget ketemunya. Sampai pintu pun harus pakai id card." Batin Rena saat melihat betapa ruwetnya prosedur yang harus dilakukannya hamya untuk bertemu dengan Pak Bram.
"Silahkan masuk, Pak Bram sudah menunggu Nona di dalam." Ucap wanita yang bernama Ayyura itu.
"Baik, Mba Ayyura. Terima kasih bantuannya." Balas Rena.
"Nggak usah sungkan, panggil nama saya saja. Toh sebentar lagi kita juga akan bertemu tiap hari kan!
Oh iya, pasti kamu senang banget kan bisa terpilih sebagai sekertaris CEO kita, tidak sembarang orang loh bisa diterima" Ucap Ayyura yang membuat kedua alis Rena berkerut.
"Sekertaris? Hah, sekertaris! Oh tidak, lagi-lagi dirinya merasa bodoh karena tidak bertanya pada Mom, posisi apa yang dibutuhkan anaknya." Batinnya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi mau kembali ke bawah."sambungnya lalu segera keluar dari ruangan tersebut.
"Hemm.. ya Tuhan, semoga hari ini bisa berjalan dengan lancar." Doa Rena sesaat sebelum dia mengetuk pintu kaca yang ada di hadapannya.
Tok..tok..tok
"Permisi Pak. Saya Rena, ucapnya sembari membuka pintu."
"Silahkan masuk."
Terdengar sahutan dari dalam ruangan yang bertuliskan 'ASISTEN CEO'. Perkenalkan saya Bram, ucapnya sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Rena tertegun sesaat saat melihat wajah Pak Bram, namun dengan cepat membalas uluran tangannya. "Saya Renata Pak, saya kesini untuk Interview. Dan ini berkas pendukung lainnya, yang diminta dari feedback via email kemarin.
Mari ikut saya, karena interview kali ini, bukan saya yang lakukan.
Rena mengikuti langkah kaki Bram sembari berfikir, dimana dirinya pernah melihat pria ini. "Sepertinya aku pernah bertemu Pria ini deh, tapi di mana yah?!" Pikirnya.
Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu anda. Ucap Bram yang mempersilahkan Rena masuk dengan membukakan pintu untuknya.
***
__ADS_1