
Cklek'
“Permisi Pak,” ucap Rena namun tak ada jawaban dari dalam yang membuat kening Rena mengernyit. “Apa Pak Nathan sudah tidur?” Batinnya. Rena berjalan menuju kamar Nathan, dia membukanya pelan namun, di sana bos menyebalkannya itu tidak ada, “Ke mana dia? Apa bersama Pak Bram? Tapi ke mana malam-malam begini!” gumam Rena.
Rena menutup kembali pintu kamar Nathan dan berjalan menuju ruang kerja, “Siapa tahu saja mereka di sana,” pikir Rena. Namun saat sudah sampai di sana, tak tampak seorang pun di sana, bahkan ruangannya pun gelap gulita. Rena kembali menuju ruangan tengah, lebih baik aku simpan di atas meja depan saja, jadi kalau mereka pulang, mereka bisa melihatnya langsung,” ucap Rena yang berjalan menuju ruangan tengah.
Saat hendak menyimpan bungkusan obat yang sudah dibelinya tadi, tak sengaja Rena melihat pintu balkon terbuka sedikit. Rena agak takut dan mulai berpikiran negatif, namun segera ditepisnya, enggak mungkin perampok, ini kan di Hotel, mana mungkin! Ucapnya yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Namun tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat dikenalnya, “Bukankah itu suara Pak Nathan!” ucap Ren. Rena mulai bimbang, apakah dia harus menghampiri Nathan dan Pak Bram untuk memberikan obat yang susah payah dibelinya atau tidak, namun karena takut nanti bosnya itu tidak melihatnya, akhirnya Rena memberanikan dirinya untuk menghampiri keduanya di luar.
Rena berjalan pelan agar tidak mengganggu obrolan mereka, namun langkahnya terhenti saat mendengar namanya disebut, “Tuan, Rena belum kembali dari apotek. Apa kita harus mencarinya?” ucap Bram yang memandang Nathan menatap langit malam. “Biarkan saja, itu hanya vitamin saja, biarkan dia lelah mencarinya, itu hukuman untuknya karena berani menginjak kakiku sampai sakit dan bengkak seperti ini! Bukankah wajahnya sangat lucu saat melihat wajah bersalahnya itu, jadi biarkan saja. Dia pasti pulang kalau tidak mendapatkan obat itu,” ucap Nathan dengan memicingkan matanya.
Ya, tadi dia melihat Rena sedang bersama Rayyan, jadi sudah dia pastikan kalau Rena akan baik-baik saja diluar sana.
“Tapi Tuan, bagaimana kalau dia tetap mencarinya sampai ketemu?!” sambung Bram. “Itu artinya dia bodoh!!” ucap Nathan datar.
Rena yang mendengar perkataan Nathan langsung menjatuhkan bungkusan obat yang tadi sudah dibelinya. “Teganya dia melakukan ini padaku! Apa salahku padanya?!” gumam Rena pelan. Dengan segera Rena meninggalkan kamar Nathan dan kembali ke kamarnya dengan linangan air mata.
Terdengar suara ponsel yang dia simpan di saku celananya. Dia membukanya dan ternyata itu pesan dari Rayyan.
[Apa kamu sudah tidur? Maafkan perkataanku tadi, maaf jika membuatmu terbebani dengan permintaanku padamu. Istirahatlah, biarkan aku berjuang untukmu]
__ADS_1
Seketika air matanya mengalir semakin deras, mengapa Pak Nathan tidak seperti Mas Rayyan!! ucap Rena sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Akhirnya Rena pun tertidur dengan air mata yang masih tersisa di pipi mulusnya setelah meluapkan segala kesedihannya.
***
Pagi harinya,
Rena bangun lebih cepat dari biasanya, mengingat hari ini akan ada rapat penting bersama klien baru dari kota B. Setelah mempersiapkan segala berkas yang akan mereka pakai dalam presentasi hari ini.
Sebelum keluar kamar, Rena menyempatkan melihat wajahnya terlihat dahulu, “Semoga sembabnya tidak terlalu kelihatan orang.” ucap Rena yang kembali merapikan riasannya.
Rena keluar kamar dan menuju lift yang akan mengantarkannya ke ruangan rapat di lantai 7 hotel ini. Dan secara bersamaan, Nathan dan Bram juga terlihat sedang berjalan menuju lift. Rena mencoba bersikap biasa saja, dirinya harus profesional di saat jam kerja. Apakah sakit? Tentu saja hati Rena sangat sakit, apa lagi suara itu tiba-tiba terdengar lagi di telinganya, namun Rena terus merapal-kan dalam hati kalau kamu bisa, kamu bisa Rena dan kamu kuat Rena.
“Pagi,” ucap Nathan datar. Sedangkan Bram terlihat lebih ramah, “ Selamat pagi, Rena,” balas Bram dengan senyum tipis.
Mereka masuk lift bersamaan yang akan membawa mereka naik ke lantai 7 tempat rapat akan dilangsungkan. Di dalam lift tampak suasananya begitu suram, Nathan dan Rena terlihat diam tanpa ekspresi, sedangkan Bram terlihat menatap intens wajah Rena yang membuatnya tidak nyaman, hingga dirinya memberanikan diri untuk bertanya langsung, “Maaf, Pak Bram, ada apa ya? Apa ada yang salah di wajahku?” tanya Rena selidik. “Oh, maaf, maafkan saya karena sikap saya membuatmu terganggu,” ucapnya sembari menundukkan kepalanya sedikit, “Tapi kalau boleh tahu, apakah semalam kamu masuk ke dalam kamar Tuan Nathan?” sambung Bram yang membuat Nathan ikut menoleh ke arah Rena sekilas, namun dirinya kembali bersikap normal seperti biasanya.
“Em, iya Pak. Saya ke sana untuk mengantarkan obat pesanan Pak Nathan tapi maaf waktu itu tidak sempat saya berikan langsung karena.. karena...” ucap Rena yang tampak berpikir akan memberikan alasan apa agar mereka tidak curiga kalau mereka mendengar percakapan mereka semalam. “Karena saya kebelet pipis makanya saya buru-buru keluar Pak, tapi obat jatuh dari tangan saya jadi sepertinya obatnya ada dilantai deh Pak, maafkan saya! ucap Rena dengan dengan tertawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“oh, begitu. Baiklah, saya kira kamu lama di sana,” ucap Bram lega. “Syukurlah, jangan sampai dia mendengar semuanya,” sambungnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah keluar dari dalam lift, mereka menuju ruangan rapat yang sudah disediakan oleh staf hotel, Rena terkesimanya dengan aturan kursi, meja serta hiasan dan beberapa camilan dan minuman yang disediakan di ujung sudut ruangan tersebut yang dihias dengan indah. Ini sekian dari banyaknya pengalaman baru yang Rena dapatkan selama bekerja bersama Nathan, dan itu yang membuat Rena bersyukur di luar dari sikap dingin bosnya itu padanya.
Setelah 2 jam lamanya mereka rapat, akhirnya mereka berhasil memenangkan kontrak kerja sama dari perusahaan besar dari kota B ini, tak tanggung-tanggung, nilainya sebesar 10 Milyar. Terlihat Pak Nathan tersenyum puas, begitu pun dengan Bram serta semua anggota rapat yang ikut di dalamnya.
Saat mereka akan kembali, CEO dari perusahaan Kota B itu mengajak Pak Nathan untuk menginap di Villanya yang berada di atas gunung, sebagai oleh-oleh sebelum kami pulang kembali ke kota A lusa.
“Bagaimana Pak Nathan, maukan mengunjungi vila saya, ini baru selesai di bangun. Saya ingin yang menjadi penghuni pertama vila saya adalah orang besar seperti Pak Nathan,” ucap CEO kota B. Nathan yang tidak enak hati, akhirnya menyetujui permintaan dari klien barunya, hitung-hitung sebagai tanda terima kasihnya karena sudah memberikan kepercayaan pada perusahaannya.
“Tentu saja Pak, kami akan segera bersiap setelah ini,” ucap Nathan dengan senyum mengembang. “Baiklah, Pak Nathan. Nanti sopir saya akan menjemput kalian di sini, saya harap kalian akan bersenang-senang dia sana.” Ucap CEO kota B yang menyalami Nathan lalu pamit.
Nathan menghela nafasnya saat rombongan CEO kota B sudah keluar ruangan, “Rena, Bram, siapkan semuanya. Kita berangkat siang ini!” ucap Nathan sembari keluar dari ruang rapat tersebut.
Setelah mereka sampai di kamar masing-masing, baik Rena maupun Bram tengah bersiap untuk pindah di Vila yang dimaksud oleh CEO kota B tadi. Cukup banyak yang Rena siapkan, “Ah, kenapa juga sih Pak Nathan iya-in, kan harus berkemas 2 kali kalau begini!” gerutu Rena sembari memasukkan barang bawaannya ke dalam koper.
Di kamar yang berbeda, terlihat Nathan sedang berada di balkon kamarnya, memandang gunung yang menjulang tinggi, kalau semalam dia hanya dapat melihat bintang dan bulan saja namun kali ini dia bisa melihat gunung dan menghirup udara segar di pagi hari. Ini yang membuat Nathan setuju dengan permintaan CEO tadi, selain tidak sopan untuk menolak, dirinya juga suka dengan suasana gunung yang membuatnya nyaman saat menghirup udara segar, tidak seperti di kota A yang terkenal dengan banyaknya polusi udara.
“Dari awal kamu memang tak pandai berbohong, dasar bodoh!!” ucap Nathan dengan senyum seringai memandang jauh gunung yang akan mereka kunjungi sebentar lagi.
...****************...
__ADS_1