
Seminggu sudah Rena bekerja di perusahaan Raharja Corp dibawah kepimpinan dari pria yang dibencinya. Rena mulai menguasai tugas - tugasnya, beruntungnya Rena memiliki otak yang cerdas sehingga Bram, asisten pribadi dari Nathan tidak begitu kesulitan dalam mengarahkan tugasnya sebagai seorang sekertaris dari Ceo yang terkenal dengan sifat dinginnya.
Ketika Rena hendak akan keluar dari ruangannya, terdengar dering telepon yang memang khusus ter paraler dari ruangan Nathan ke ruangan Rena atau pun Bram.
"Raharja Corp dengan Rena disini, ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Segera ke ruangan saya sekarang!"
Ucapnya lalu segera mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengarkan sahutan Rena.
Rena menghela nafasnya setelah Nathan memutuskan secara sepihak, "Dasar manusia batu, nggak ada akhlaknya!!" Umpatnya dalam hati.
Rena merasakan perbedaan saat mereka berada didalam area perusahaan dan diluar perusahaan. Berbeda seratus delapan puluh derajat, di Perusahaan Nathan bersikap layaknya seorang atasan terhadap bawahannya, sikapnya sangat profesional namun berbanding terbalik ketika mereka berada diluar perusahaan atau pun saat hanya berdua, sifat asli Nathan yang menyebalkan, semaunya, keras kepalanya dan egoisnya pasti keluar.
Entah itu hanya perasaannya saja namun, entah mengapa sikap itu hanya ditujukkan ke orang terdekatnya seperti Mom dan Bram.
Apakah Rena harus bangga karena terpilih dari sekian ribu karyawannya ataukah dirinya termasuk yang apes?! Entahlah, hanya Nathan dan author saja yang tahu.
Setelah sampai didepan ruangan Nathan, Rena mengetuk pintu terlebih dahulu lalu masuk ketika mendapat sahutan dari dalam.
"Permisi, Pak. Bapak mencari saya." Ucapnya basa basi.
"Tentu saja saya mencari mu, kalau tidak, nggak mungkin bukan saya menyuruh mu datang kemari!" Ucap Nathan enteng.
Andai Nathan bisa melihat kabut asap yang keluar dari atas kepalanya, yang menandakan dirinya sudah sangat emosi namun masih mampu mengontrolnya agar tetap terlihat profesional dalam bekerja.
"Maaf, Pak."
"Hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Jepang sebentar siang, proyek ini sangat penting untuk perusahaan kita, jadi kamu..persiapkan segalanya dengan baik dan benar," Ucap Nathan dengan menekankan setiap kata agar terdengar lebih jelas.
"Bram tentunya sudah memberitahu mu bukan, soal cara menghandle klien dari luar negeri!"
"Iya, Pak sudah, semua sudah saya persiapkan sejak pagi." Ucap Rena yang memang sudah membuat reservasi untuk meeting diluar kali ini.
"Kalau begitu, dua jam lagi kita berangkat. Saya tidak suka dengan orang yang lelet apa lagi yang suka terlambat." Ucap Nathan, dan lagi lagi menekankan setiap kata yang menurutnya penting.
"Baik, Pak," kalau sudah tidak ada lagi, saya izin pamit keluar. "Saya harus mempersiapkan berkas-berkas yang akan saya bawa siang ini." Ucap Rena dengan sedikit menunduk.
"Silahkan." Balasnya singkat dan padat.
***
__ADS_1
"Siang, Bu Tina." sapa Rena.
"Loh, ada Ibu Rena. Ada apa Ren, tumben baru kelihatan, lagi menikmati pekerjaan barunya ya sebagai sekertaris Ceo ganteng." Godanya.
"Udah deh, Bu. Nggak usah godain terus. Aku kesini mau kembalikan ini ke Ibu, sepertinya karyawan Ibu, lupa mengambil berkas yang harus di revisi deh!"
"Berkas apa sih" ucap Ibu Tina.
"Ini bukannya berkas HRD?!" Ucap Rena menunjukkan berkasnya.
"Oh ini..kan, berkas yang harus kamu pelajari, ini daftar makanan juga restoran yang menjadi favorit Ceo kita, jangan bilang kamu nggak baca?!" Selidik Ibu Tina.
"Na loh, mati aku, Bu!!" Pekik Rena sembari mengeratkan genggaman tangannya.
"Astaga, Bu Rena. Hari ini bukannya ada meeting diluar ya? Terus kamu reservasi restoran apa?? Kamu tahu, Ceo kita tidak sembarang memakan makanan yang memang selalu dia makan!!" pekik Tina.
Seketika wajahnya menjadi pias saat mendengar perkataan Tina.
"Hei!! Tina mencoba menyadarkan Rena yang tiba-tiba terdiam.
"Restoran sudah aku booking, Bu. Gimana dong, mana meeting sebentar lagi, hufft!! Ucap Rena disertai helaan nafasnya.
"Yaah, nggak ikutan ya aku, Bu!" Ucap Tina sembari memberikan kembali berkas daftar restoran dan makanan favorit Ceo mereka.
Tring'
Suara lift terbuka saat dihadapannya sudah berdiri sosok pria yang tidak ingin ditemuinya sementara waktu. "Mati aku!!" Pekiknya dalam hati saat melihat tatapan selidik bos nya itu.
"Ada apa?" Ucap Nathan saat melihat Rena yang terlihat kaget ketika melihat dirinya.
"Aah, eh, nggak apa-apa kok, Pak." Cengir Rena lalu segera berlalu keluar dari lift.
Nathan terkejut saat Rena keluar dari lift dan bertanya padanya "kenapa keluar? Kita sudah harus berangkat sekarang!" Ucapnya tegas.
Rena membalikkan badannya lalu berkata "Sabar kenapa sih, Pak. Kan aku mau ambil tas juga berkasnya dulu!" Ucap Rena tak kalah galak.
Antara kaget dan heran, kenapa justru dia yang lebih galakkan!! "Sebenarnya disini itu..bos nya dia atau saya?!" Pikirnya.
"Kamu membentak ku!!" Hardik Rena saat sudah berada didalam lift yang berada tepat di hadapannya.
"Heh..hehe..maaf, Pak. Aku keceplosan." Ucapnya saat menyadari ucapannya.
__ADS_1
"Aku sudah pernah bilang bukan, disini ada peraturan yang harus kamu patuhi. Baca kembali peraturannya, agar kamu bisa lebih paham aturan kerja di perusahaan ku!" Ucap Nathan lalu melenggang keluar dari lift meninggal Rena yang masih tertunduk.
Rena menghela nafasnya, entah sudah berapa kali dia lakukan hari ini. Dengan langkah cepat dirinya keluar dari lift dan segera menyusul dan berjalan tepat di samping Ceo yang dianggapnya sangat menyebalkan.
Rena membuka pintu mobil untuk Nathan dan disusul dirinya masuk kedalam mobil, tepatnya duduk di kursi depan.
Yeah, itu juga merupakan salah satu dari sekian banyak peraturan yang ditulis di dalam surat kontraknya, agar duduk di kursi depan. Karena dirinya sangat tidak menyukai bercampur dengan orang lain.
***
Restoran Jepang
Setelah sampai, Rena turun lalu segera membukakan pintu untuk Nathan. Mereka berjalan beriringan, hingga saat sampai di pintu depan, pelayan tersebut menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat saat melihat Nathan melenggang masuk tanpa bertanya apapun.
Rena ingat betul saya dirinya datang untuk pertama kalinya ke Restoran Jepang ini untuk makan siang bersama Mom. Yeah, Rena memang membooking Restoran Jepang ini untuk meeting mereka siang ini.
Setelah sampai di ruangan VIP yang sudah di reservasi sebelumnya. Mereka duduk dan Rena mulai menyiapkan peralatan makan yang akan digunakan oleh Nathan.
Please, jangan tanyakan kenapa. Sebab lagi dan lagi itu adalah satu dari banyaknya tugas yang harus dia kerjakan sebagai seorang sekretaris dari Ceo Raharja Corp.
Kurang lebih 15 menit, klien yang ditunggu pun akhirnya tiba.
"Selamat siang, maaf membuat anda menunggu lama." Ucap sekertaris dari klien Jepang mereka yang bernama Tuan Akira Kiniciwa.
Mereka menikmati hidangan yang sudah mereka pesan sebelumnya, Rena heran karena semua makanan yang dipesannya tidak mendapatkan kritik tajam dari bosnya dan malah mendapatkan acuan jempol dari klien mereka. Katanya mereka sangat menyukai tempatnya dan terlebih dengan makanan yang rasanya nyaris sama seperti yang mereka makan saat di Jepang.
Kontrak berhasil mereka dapatkan, kliennya sangat puas dengan penjelasan yang dilakukan oleh Nathan. Begitu jelas dan detail, sehingga kliennya itu tak perlu banyak bertanya karena sudah dijelaskan oleh Nathan semuanya.
"Terima kasih, Pak Nathan atas jamuan nya hari ini. Semoga proyek kerjasama kita bisa segera jalan dan sukses di pasaran." Ucap Tuan Akira Kiniciwa yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Nathan.
Namun perhatian Nathan sedikit teralihkan saat melihat sekertaris Tuan Akira yang bernama Akiko berbicara dengan Rena dengan jarak yang cukup dekat.
"Aku kenapa?" Tanya Nathan dalam hati saat dirinya merasa risih melihat Rena berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
"Baiklah kami duluan, ada pertemuan yang harus kami datangi." Ucap Akiko yang menepuk bahu Rena pelan.
"Baiklah, terima kasih." Ucapnya dengan senyum sumringahnya. Tanpa Rena sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang sudah melihatnya dari tadi dengan tatapan tajam.
Setelah kepergian Tuan Akira dan Akiko. Mereka juga segera keluar dari ruangan mereka dan menuju lift yang tadi sudah membawa mereka ke lantai dua tempat ruangan VIP restoran ini.
Ting'
__ADS_1
Suara lift terbuka, saat Nathan akan melangkah masuk, betapa kaget dirinya saat melihat orang yang sudah sangat lama tidak dijumpainya, lebih tepatnya adalah orang yang dihindarinya selama ini.
***