Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 39. Rasa Untuk Rayyan


__ADS_3

“Bram, apakah semuanya sudah siap?!” tanya Nathan, namun pandangan matanya tertuju pada Rena yang terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya. “Semua sudah siap, Tuan!” jawab Bram sembari memperhatikan Nathan yang terlihat intens menatap Rena dari kejauhan.


“Tuan, apa mungkin Nona Rena sedang bertukar pesan dengan Dokter Rayyan!” ucap Bram yang mendapat tatapan tajam dari Nathan. “Itu bukan urusanku, terserah dia mau bertukar pesan pada siapa pun.” Ucap Nathan sembari berjalan menuju mobil yang sudah disediakan oleh Tuan rumah.


Bram memanggil Rena yang terlihat sibuk dengan ponselnya, bukan dengan Rayyan dirinya bertukar pesan, namun Rena sedang membalas pesan yang dikirimkan oleh Momy Laura. “Oh iya, Pak. Tunggu sebentar,” ucap Rena yang terlihat kerepotan membawa beberapa tas tangan, tas laptop dan koper miliknya bersamaan. Saat sudah di depan pintu lobi, bawaan yang dibawa Rena jatuh tercecer di lantai, Rena terlihat sibuk mengambil berkas2 yang berserakan di lantai, saat akan berdiri, Rena sudah melihat sebuah uluran tangan di hadapannya. “Eng, tangan siapa ini!” ucap Rena penasaran. Sebuah tangan pria, namun bisakah Rena berharap ini ada tangan Nathan! Dia akhirnya bisa berbuat baik padanya!


Rena meraih tangan pria yang entah siapa, namun dirinya berharap, itulah adalah Nathan. Kedua manik mata Rena terkejut saat melihat sang empunya tangan, “Mas Rayyan!!”


Orang yang disebut pun tersenyum dengan lebar, apakah kau kecewa?” tanya Rayyan yang melihat ekspresi wajah Rena yang terlihat kecewa. Rena tertawa kecil, “Mas Rayyan bisa saja, lagian juga siapa sih yang aku tunggu!” ucap Rena menghela nafasnya.


Aku kira Mas Rayyan sudah balik ke kota A! Ucap Rena basa basi, ya dirinya masih canggung setelah Rayyan mengutarakan perasaannya semalam. “Rencananya sih hari ini, tapi kok kamu sudah berkemas? Bukannya 2 hari lagi kalian akan pulang!” ucapnya sembari menegakkan koper milik Rena yang terbalik tadi.


Tadinya begitu, Mas. Tapi klien yang tadi pagi membujuk Pak Nathan untuk menikmati vila baru yang dimilikinya, katanya sebagai oleh-oleh darinya,” tutur Rena.


Bip..bip.. terdengar bunyi suara klakson yang cukup keras dari arah mobil jemputan yang dinaiki Nathan dan Bram, “Aduh, Mas. Aku pamit pergi ya, nanti kita bicara lagi. Enggak enak sama yang lainnya, sudah dari tadi mereka menungguku mobil.” Ucap Rena sembari mengambil koper yang dipegang Rayyan.


“Sini! Biar aku yang bantu.” Ucap Rayyan sembari meraih koper yang tadi diambil Rena. “Terima kasih ya, Mas sudah membantuku, entah ini sudah yang ke berapa kalinya selama kita kenal,” ucap Rena sembari tertawa pelan. “Enggak apa-apa, aku malah senang bisa selalu ada untukmu.” Ucapnya sembari membukakan pintu mobil untuk Rena.

__ADS_1


Deg'


Hati Rena serasa meleleh mendengar perkataan tulus dari Rayyan. Tanpa diduga, Nathan langsung menarik tangan Rena agar segera masuk. Rayyan yang sadar, akhirnya menutup pintu mobil yang ditumpangi Rena.


Rena masih mengingat perkataan Rayyan saat akan menutup pintu mobilnya, “Kabari aku kalau sudah sampai, agar aku tak khawatir,” ucapan Rayyan itu selalu terngiang di telinganya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka pun sampai. Mereka berdecap kagum melihat Vila milik CEO kota B. Tampilan luarnya memadukan unsur etnik dan modern yang membuatnya terlihat sederhana namun terasa sangat nyaman ditinggali, apalagi saat kita masuk ke dalam Vilanya, sungguh membuat mereka tercengang.


“Mewah,” kata itulah yang terucap dari mulut mereka bertiga. Vilanya sendiri memiliki beberapa kamar, 2 kamar di atas dan 1 kamar lagi di bawah. Bram memilih memakai kamar yang dilantai 1, alasannya? Karena merasa lebih mudah untuk ke mana-mana dari pada harus naik turun tangga pikirnya. Akhirnya Nathan dan Rena naik ke lantai 2 menuju kamar mereka masing-masing. Rena membaringkan tubuhnya menghadap langit-langit, “Nyamannya,” ucap Rena sembari menggerakkan tangan dan kakinya layaknya seekor kupu-kupu yang sedang terbang.


Tanpa terasa, Rena tertidur cukup lama sampai saat pintu kamarnya di ketuk seorang pelayan yang juga disediakan oleh Tuan rumah. Akhirnya Rena bangun karena merasa terganggu, “Eh, iya mbak, ada apa?” tanya Rena yang terlihat kaget melihat ada orang lain yang berada di dalam vila ini.


Flashback on


“Lain kali itu, kamu harus bisa bedakan waktu bekerja dan waktu pribadimu. Walaupun ini di luar kantor, namun tetap saja ini masih jadwal kamu bekerja di luar kota, ingat itu!!” ucap Nathan datar.


“Baik, Pak!” jawab Rena menunduk. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Rena ditegur karena mencampur adukkan urusan pekerjaan dan pribadi di waktu jam kerjanya. “Lain kali, perusahaan tidak akan tinggal diam dengan karyawan yang tidak taat dengan aturan.” Sambungnya Nathan yang membuat Rena semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah kejadian tadi, baik Rena, Nathan maupun Bram tak ada yang bersuara lagi, terlebih dengan sopir yang mengantar mereka, mungkin dia takut dengan Nathan yang terlihat sangat sangar.


Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka kelelahan dan akhirnya mereka tertidur. Rena yang memang duduk di kursi belakang bersama Nathan dan mau tidak mau pasti saling berdempetan, sebab mobil yang menjemputnya adalah mobil Mercedes C63 yang mewah namun kecil, sehingga mereka harus duduk berdempetan. Namun entah mengapa hari ini Nathan begitu tak rewel perihal tempat duduk, padahal biasanya dirinya tak ingin ada yang duduk di sampingnya, kalau terpaksa duduk, pasti dirinya akan terus mengomel.


Nathan yang sedari tadi memandangi jalan yang dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi melalui kaca jendela mobil, sungguh ini pengalaman yang menyenangkan baginya, kota B memang terkenal sebagai kota yang asri. Layak memang dijadikan sebagai tempat mengistirahatkan pikiran dari rutinitas pekerjaan yang terkadang membuatnya stres.


Nathan cukup dikagetkan saat kepala Rena bersender pada bahunya. Awalnya Nathan ingin langsung menyingkirkan kepala Rena dari bahunya, namun entah mengapa tangan dan hatinya tidak bisa bekerja sama. Nathan tersenyum melihat Rena yang terlihat lucu saat tidur, begitu damai wajahnya. Nathan terus menatapnya dari samping kirinya, “Like a baby,” gumam Nathan pelan.


Bram yang melihat dari kaca spion pun tersenyum tipis “Semoga Rena bisa menyembuhkan hatimu sobat!” batinnya.


Saat sudah sampai di Vila, Rena merasakan mobil yang dinaiki sudah berhenti. Kedua tangannya dia rentangkan sembari menguap ria “Hoaaaam, segarnya!” ucap Rena spontan tanpa mengingat kalau saat ini sedang berada di mana dan bersama siapa.


“Enak ya ... Cepat lepaskan tanganmu dari wajahku!!” pekik Nathan yang tengah terimpit oleh lengan Rena.


“Maaf Pak, maaf,” ucap Rena berulang dengan sedikit menunduk.


Flashback off

__ADS_1


...****************...


__ADS_2