
Pagi harinya, Rena bersiap lebih cepat ke kantor, karena rencananya mereka ber-3, dirinya, Nathan dan Bram akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota untuk beberapa hari ke depan.
Perjalanan kali ini merupakan pengalaman pertama baginya. Rena sangat bersemangat menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan dirinya selama beberapa hari di sana.
“Sudah mau berangkat, Nak? Tanya Ibu Panti saat melihat Rena terlihat sibuk mengepakkan pakaian di dalam tas besar miliknya. “Iya, Bu. Sebentar lagi selesai, tinggal bawa alat tempurku saja,” jawab Rena sembari tertawa. “Ya sudah, Ibu tunggu di luar ya, jangan lama-lama biar bisa sarapan dulu sebelum kamu berangkat, kan kota B jauh dari sini,” tukas Ibu.
Setelah sarapan pagi, Rena menunggu mobil jemputan perusahaan yang akan mengantarkan dirinya ke Kota B pagi ini. Rena memang tidak pergi bersama bosnya Nathan dan sang Asisten Bram, karena mereka harus menghadiri rapat pagi terlebih dahulu sebelum nantinya mereka akan menyusul Rena ke Kota B.
“Pak, ayo jalan,” ucap Rena sembari menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Sudah 1 jam lebih perjalanan yang mereka tempuh, memang jarak dari kota J ke kota B membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam lamanya. Rena melihat jam tangan yang dia kenakan, 30 menit lagi dia akan sampai.
Di sepanjang perjalanan, mata Rena di suguhi dengan pemandangan hijau di balik kaca jendela mobil, jarang-jarang dirinya bisa melihat hamparan sawah yang hijau seperti ini, “Ah, indahnya, di kota A mana ada yang hijau-hijau seperti ini,” gumam Rena.
“Iya, Non. Boro-boro bisa lihat yang hijau-hijau, palingan juga cuma bisa lihat tumbuhan merambat saja di sepanjang jalan atau di dalam gedung tapi dalam bentuk pot,” timpal sang sopir.
Rena sedikit tertawa, “Bener Pak, sekarang malah sudah jarang ada lahan hijau, yang banyak gedung-gedung pencakar langit saja yang makin bertambah dari waktu ke waktu,” ujar Rena yang pandangannya tak lepas dari sawah yang terhampar luas di sepanjang matanya memandang.
Rena meminta sopir untuk membuka kaca jendelanya, rasanya akan rugi kalau tidak menikmati udara pagi yang segar di kota ini. Mumpung kendaraan masih kurang, jadi masih bisa menikmati udara yang segar tanpa memikirkan akan polusi.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Rena, dirinya tak kuasa menahan rasa kantuknya, terlebih pagi tadi Rena memang bangun lebih awal dari biasanya, hal itu dilakukannya agar dirinya bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik saat akan melakukan perjalanan bisnis pertamanya.
Ciittttt..
Bunyi suara decitan mobil yang di tumpangi oleh Rena yang mau tidak mau membuat Rena terbangun dari tidurnya. “Suara apa itu, Pak?” Ucap Rena yang kaget sembari memegang dadanya. “Kayaknya suara ban mobil kita deh, Non,” Ucap sang sopir yang terlihat menepikan mobilnya.
“Saya turun dulu, Non. Mau mengecek mobil,” ucap sopir yang turun dari mobil.
1 menit berlalu, terlihat sang sopir memasuki mobil kembali. “Maaf, Non. Sepertinya kita akan terlambat sampai ke kota B,” ucapnya.
“Memang kenapa Pak dengan Ban mobilnya?” tanya Rena. “Anu Non, ban mobilnya meletus,” jawabnya.
“Kok bisa, Pak? Bukannya tadi baik-baik saja ya!” ucap Rena heran, karena saat merek pergi, Rena melihat mobil tersebut dalam kondisi yang bagus. “Enggak tahu juga, Non. Padahal sebelum berangkat, Bapak sudah periksa semuanya, mungkin bannya yang sudah kalah,” tukasnya.
“Ya sudah, Pak kalau begitu, terus kita harus buat sekarang?” tanya Rena. “Sebentar, Non. Bapak coba telepon montir langganan Bapak dulu, siapa tahu ada bengkel dekat sini.” Ucapnya sembari merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.
Cukup lama Rena menunggu sang sopir menelepon, entah sama siapa dirinya berbicara. “Untung saja rapatnya baru di mulai besok, kalau tidak, aku pasti bakalan kena omel lagi,” gumam Rena pelan.
“Bagaimana Pak? Bisa enggak mereka datang? Sudah hampir siang, kita juga kan belum makan siang pak,” tanya Rena. “Sebentar lagi, Non. Katanya butuh 30 menit mobil dereknya sampai kesini,” jawabnya.
Rena menghela nafasnya, dirinya merasa bosan berada di dalam mobil seharian. Rena menyusul sang sopir yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil. Rena membuka kaca mobil dan bertanya kembali pada sopir yang terlihat celingukan menatap jalan raya. “Belum datang juga mobil dereknya, Pak?!” tanya Rena yang dijawab sopir dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Akhirnya Rena keluar dari mobil, “Lumayan juga pemandangannya,” ucap Rena malas. “Masuk saja, Non. Sudah mulai panas di luar,” tegur sang sopir.
Rena tersenyum sebentar ke arah sang sopir yang bernama Bambang. Rena menyandarkan tubuhnya di samping mobil, dirinya lebih memilih menunggu di luar meski harus kepanasan daripada harus menunggu di dalam mobil.
Saat rena mendudukkan bokongnya di atas kap mobil. Tiba-tiba mobil sport putih berhenti tepat di hadapannya. Rena cukup kaget di buatnya, “Ada apa dengan mobil ini, apa mobilnya rusak juga!” gumamnya pelan,”
Saat kaca mobil terbuka, betapa kagetnya dia saat tahu , pria yang di dalam mobil tersebut adalah dokter Rayyan. “Dokter Rayyan,” ucap pelan Rena.
“Kamu kenapa ada di sini?” tanyanya.
“ Aku lagi perjalanan dinas, Mas,” jawabnya sembari tersenyum.
“Kalau Mas sendiri, kenapa ada di sini juga?” ucap Rena yang balik bertanya.
“Oh, aku ada undangan seminar siang ini.
“Mobilnya kenapa? Mogok?” tanya Rayyan.
“Iya, Mas. Kayaknya bannya deh yang mau diganti,” ucap Rena sembari tersenyum.
“Hem, Mas ada seminar di kota B. Kalau kamu mau, nanti Mas antar kamu sampai ke tujuanmu,” ujar Rayyan.
“Kebetulan banget ya, Mas. Aku juga mau ke kota B,” ucapnya.
“Kalau kamu tidak keberatan, kamu mau enggak ikut sama Mas ke kota B,” tawar Rayyan. “Kalau memang tidak keberatan sih, boleh deh mas, aku ikut sampai kota B,” ucap Rena.
“Baiklah, kalau begitu kita jalan sekarang, biar enggak ke terlalu sore sampai di sana.” Ucap Rayyan yang membukakan pintu mobil untuk Rena. “Bentar, Mas. Aku tanya Pak Bambang dulu,” jawabnya.
Setelah berpamitan pada sang sopir, Rena akhirnya ikut bersama Rayyan menuju kota B.
Di kantor
Bram yang sudah mengetahui tentang mobil yang ditumpangi Rena dari sopir yang dia hubungi tadi. Tanpa sepengetahuan Nathan, Bram memang akan berusaha melindungi siapa pun yang sudah menjadi bagian inti Raharja Corp, tak terkecuali Rena yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Nathan Raharja, seorang CEO dari perusahaan besar dan ternama.
Sungguh dilema hati Bram, antara dia mau memberitahu atau tidak, namun dia urungkan saat terdengar ketukan pintu dari luar. “Siska!!” ucap Nathan dan Bram bersamaan. “Mau apa kamu di sini? tanyanya. “Aku kesini mau mengajakmu ke kota B bersama. Aku juga dapat undangan seminar dan Makan malam itu,” ucap Siska dengan senyum seringainya.
“Dari mana kamu tahu kalau aku di undang?” tanya Nathan yang di balas Siska dengan tertawa geli. “Tentu saja tahu, siapa sih yang tidak tahu Nathan Raharja! tidak mungkin seorang Nathan tidak di undang di acara sepenting itu,” jelas Siska.
“Saya tidak pergi ke sana untuk mengikuti seminar itu, tapi karena akan menghadiri rapat. Jadi jangan terlalu berharap saya akan datang di pesta itu,” jawab Nathan dingin. “Baiklah, terserah kamu saja. Kalau begitu kita jalan sekarang, takutnya kita kemalaman sampai di sana.” Jawab Siska sembari menarik lengan Nathan.
__ADS_1
Nathan dan Bram tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Siska, sebab Siska sangat keras kepala, dia akan menghalalkan segala cara agar keinginannya terpenuhi. “Baiklah, tapi lepaskan tanganmu.” Ucap Nathan sembari melerai tangan Siska, dirinya merasa tidak nyaman digandeng Siska yang notabenenya bukan siapa-siapanya.
Siska terlihat kesal dengan Nathan yang seakan-akan tidak ingin berdekatan dengannya. “Baiklah, kita pakai mobilmu atau mobilku saja?” tanya Siska. “Pakai mobilku saja,” jawab Nathan singkat lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Siska ikut masuk ke dalam mobil namun, dia duduk di kursi belakang, Nathan sedari dulu memang tidak suka duduk berdekatan dengan orang lain, terkecuali dengan Momy-nya sendiri namun, karena tidak ingin berdebat, akhirnya Nathan tidak menegurnya. “Jalan, Pak!” bukan Nathan yang bersuara melainkan Bram.
Bram sangat tahu kalau Nathan saat ini sedang kesal, hanya dengan melihat raut wajahnya saja, dia bisa menyimpulkan kalau Nathan ingin secepatnya jauh dari wanita ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelehkan, akhirnya mereka sampai di sebuah Hotel yang memang sudah mereka pesan sebelumnya. Nathan merasa dirinya ingin mandi lalu beristirahat sebentar sebelum bersiap menghadiri undangan pesta dari rekan bisnisnya.
Namun siapa sangka saat dirinya akan memasuki lift, dirinya terkejut saat melihat Rena bersama dengan Rayyan. Rena yang melihatnya pun kaget karena melihat sosok perempuan yang pernah di ceritakan oleh Ayyura padanya, terlebih lagi saat ini dia melihat wanita itu bergelayut manja di lengan Nathan tanpa malu dilihat orang.
“Kak Rayyan di sini juga?” tegur Siska, yeah, Siska juga mengenal Rayyan karena Siska memang sudah lama mengenal keluarga Raharja. Orang tua Siska dan orang tua Nathan dan Rayyan bersahabat sejak dulu jadi tak heran jika Siska tahu masalah di antara Nathan dan Rayyan.
“Iya, kebetulan papa diundang tapi karena ada urusan di luar negeri, jadi saya yang menggantikannya,” jawab Rayyan sembari melihat Nathan yang sedari tadi menatap Rena dengan tajam.
Nathan tidak memedulikan perkataan Rayyan, baginya, kehadiran Rayyan sungguh tidak penting. Dia terus menatap tajam Rena yang terlihat menundukkan kepalanya ke bawah. “Ayo,” ucap Nathan pada Rena.
Rena, Bram, Rayyan bahkan Siska secara bersamaan menoleh ke arah Nathan, mereka bingung dengan perkataan ambigu Nathan. “Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu!” tanya Nathan yang terlihat heran di tatap oleh 4 orang sekaligus. “Kamu panggil siapa?” ucap Siska.
“Tentu saja sekretaris ku!” ucapnya dingin. “Sekretaris?” ulang Siska yang kini melihat Rena dari ujung rambut sampai ujung sepatunya. “Oh, ternyata dia sekretaris barunya Nathan. Cantik juga tapi jelas aku lebih cantik darinya,” ucapnya dalam hati.
Saat Rena akan masuk ke dalam lift, Rayyan menahan tangan Rena. “Tunggu, bukannya kita akan pergi bersama malam ini?!” ucap Rayyan pada Rena.
“Tidak,” bukan Rena yang menjawabnya, melainkan itu suara Nathan. Semua heran melihatnya, ada apa dengan Nathan hari ini. “Dia tidak akan pergi bersamamu.” Ucap Nathan yang menyentak tangan Rayyan yang masih memegangi tangan Rena.
“Kenapa?” ucap Rayyan tak mau kalah, dirinya tidak ingin membuang kesempatannya untuk bersama Rena malam ini. “Karen saya atasannya di sini,” jawab Nathan tegas. Dahi Rayyan berkerut, “Bukannya besok baru Rena bekerja padamu sebagai sekretaris, jadi hari ini dia bebas pergi ke mana pun dia mau.” Ucap Rayyan yang kembali menarik tangan Rena.
Nathan begitu marah dengan apa yang dilakukan Rayyan. Bram tampak diam melihat semuanya, menurutnya, belum saatnya dia turun tangan, sedangkan Siska terlihat bingung dengan pertengkaran Nathan dan Rayyan.
Saat Rayyan hendak keluar, Nathan menahan lengan Rena. Rayyan jengah dengan tingkah Nathan yang sok berkuasa pada bawahannya. “Apa mau? Biarkan bawahan mu menikmati harinya sebelum dia bekerja besok!” ucap Rayyan kesal.
“Saya sudah bilang, saya atasannya. Saya berhak melarangnya,” ucap Nathan datar. “Bukannya tadi saya juga bilang kalau dia bawahan mu tapi itu berlaku besok, jadi sekarang dia bebas ke mana pun dia inginkan,” balas Rayyan lantang.
“Cukup!! Kamu kenapa sih Nathan? Biarkan saja kenapa sih, dia pergi. Toh benar kan kata Kak Rayyan. Besok baru dia akan bekerja padamu, jadi biarkan dia pergi bersamanya malam ini,” ujar Siska yang sangat bosan melihat pertengkaran keduanya.
“Lebih baik kita segera bersiap lalu ke pesta itu juga bersama-sama,” ucap Siska yang kini menggandeng lengan Nathan. Nathan menyentak tangan Siska dengan kasar dan berkata pada Siska , “Aku tidak pergi bersamamu, sudah dari tadi saya katakan padamu, dan ya mungkin sebagai atasan saya tidak berhak, tapi apakah sebagai calon suami saya tidak berhak pergi bersama dengan calon istriku!!”
***
__ADS_1