Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 46. Menjadi Sahabat


__ADS_3

Sementara itu, di kejauhan, sepasang mata tengah memperhatikan kegiatan dari keduanya. Bahkan sejak awal. Sayangnya dia harus mengakhirinya saat Bram memanggilnya.


“Ck’ ada apa hah? Kesal Nathan, pasalnya sedari tadi dirinya mengikuti taksi yang membawa Rena dan Rayyan dan berhenti di sebuah taman, dan tak berhenti di situ saja, sialnya Rayyan mengambil kesempatan untuk bisa mendekap Rena dengan erat, buku-buku tangannya sudah memutih, sekuat tenaga dirinya menahan amarah yang sudah membuncah di hatinya.


Dia tahu kalau ini pasti permintaan Rayyan untuk yang terakhir kalinya pada Rena, jadilah dia mengizinkannya.


Rena dan Rayyan pulang secara terpisah, tadinya Rayyan ingin mengatakannya langsung ke kantornya namun karena Rena terus menolaknya, akhirnya dia mengalah dan pulang masing-masing dengan arah yang berbeda. Rayyan pergi setelah melihat Rena naik ke dalam taksi yang membawanya kembali ke Raharja Corp, sedang dia kembali ke restoran Jepang tempat Mery dan Laura menunggunya.


Belum setengah perjalanan, taksi yang di tumpangi Rena mendadak mogok, ‘Bagai pucuk dicinta Wulan pun tiba’, Rena akhirnya turun dan kembali menunggu taksi yang lewat di sekitar tempatnya berdiri saat ini.


Tak jauh dari tempat Rena berdiri, mobil Nathan yang sedari tadi mengikuti taksi yang dinaiki Rena pun akhirnya berhenti. “Kenapa dia turun? Dia mau ke mana lagi!” ucap Nathan yang terlihat sibuk memperhatikan Rena melalui kaca mobil bagian depan. Bram hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu, “malu tapi mau,” ucap Bram.


“Bram, cepat jemput dia, dan suruh dia cepat masuk.” Pintanya. Bram segera menjalankan mobilnya dan menepikan mobilnya tepat di depan Rena, awalnya Rena bingung dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Mobilnya tak asing baginya, namun belum tentu bukan, hanya dia yang memiliki mobil yang seperti ini.


Rena lantas mundur perlahan lalu berjalan melalui mobil yang di depannya, entah mengapa mobil tersebut juga ikutan maju ke depan, hingga Rena merasa kesal dan mengetuk mobil di depannya itu dengan keras.


Tok, tok.. ketuk Rena dengan ekspresi wajah yang siap memaki. Namun saat kaca mobil itu terbuka, Rena terperanjat kaget saat melihat ekspresi kesal Nathan padanya.


“Pak Nathan? Kok bapak ada di sini? Aku kira bapak sudah ada di kantor!” ucap Rena sembari meringis melihat wajah dingin Nathan.


“Cepat masuk!” titah Nathan, “kamu dari mana? Kenapa jam begini masih di luar? Bukannya kembali ke kantor malah kelayapan!” ucapnya dengan kesal, dirinya masih mengingat saat Rena terlihat menikmati dekapan Rayyan saat itu.


Terdengar helaan nafas Rena panjang, “Saya baru saja bertemu dengan Mas Rayyan di taman. Dan untuk pertanyaan kedua bapak, taksi yang saya tumpangi mogok, tuh lihat di belakang!” tunjuk Rena sembari menengok ke arah belakang.


Nathan mengangkat alisnya satu, terus, apa yang kamu lakukan di taman? Apa yang kalian bicarakan! Apa dia mengatai ku?” selidik Nathan. Rena yang ingin mengerjai Nathan terlihat tersenyum lalu berkata padanya, “Iya, Mas Rayyan menjelekkan mu, dia juga menceritakan tentang masa lalu kalian dan masa kecil kalian hingga remaja.” Tukas Rena lalu membuang pandangannya ke arah jendela.


“Ap-apa kamu bilang? Dia menceritakan semua aibku?!” pekik Nathan yang dibalas anggukan oleh Rena sembari menahan tawanya yang siap meledak, “berani sekali dia.” Ucap Nathan yang kini merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.

__ADS_1


Saat akan menekan daftar kontak yang dia cari, Rena menahan tangannya lalu berkata padanya, “Aku hanya bercanda, dia tidak menceritakan apa pun tentangmu padaku. Dia hanya menceritakan kisahnya padaku saja.” Ucap Rena yang tanpa sengaja memegang kuat lengan Nathan.


“Kau berani mempermainkan ku?” ucap Nathan yang langsung menarik tangan yang Rena gunakan untuk menahan tangannya hingga jarak keduanya sangat dekat.


Nathan yang terbawa suasana saat melihat Rena tertawa terbahak-bahak membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya pada wajah cantiknya. Semakin dekat, Nathan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rena, begitu pun sebaliknya. Hingga saat mereka akan menyatukan bibir mereka, tiba-tiba deheman Bram membuyarkan konsentrasinya, mereka baru sadar, kalau ada Bram di atas mobil ini juga.


“Sialan, kau Bram!” umpat Nathan sembari menatap tajam Bram dari kaca spion.


Rena sangat malu, hampir saja mereka jadi tontonan Bram.


Rena tak menyadari kalau dirinya tidak di bawa ke kantor, melainkan ke rumah pribadinya, bukan rumah Momy Laura namun, rumah yang Nathan persiapkan untuk mereka berdua nantinya.


“Nathan menggendong Rena yang tengah tertidur naik ke lantai 2 rumah ini, sangat nyenyak hingga saat dirinya digendong dan diletakkan di atas kasur, dirinya pun tak bangun. Nathan menatap wajah damai Rena, terlihat guratan di keningnya, Nathan mengelus kening Rena dengan lembut membuat Rena kembali tidur dengan damai. “Apa yang kau mimpikan hingga kening mu berkerut seperti ini, hm!”


Nathan meninggalkan Rena sendirian di dalam kamarnya dan segera kembali ke ruang kerja miliknya di lantai satu tempat di mana Bram menunggunya.


Terakhir yang Rena ingat, dia masih berada di dalam mobil Nathan, dirinya pura-pura menutup mata saking malunya tadi.


Rena beranjak turun dari tempat tidurnya, dirinya berkeliling layaknya sedang tur sekolah, saking luasnya. Hingga saat dia menyadari, bahwa dirinya berada di kamar seorang pria, terlihat dari beberapa ornamen, gaya kamar dan warna dari wallpaper dindingnya, dan jangan lupakan parfum aroma woody yang khas dari parfum pria yang masih tercium oleh Indera penciumannya.


Rena berjalan menuju balkon kamar ini, sungguh luas, terdapat beberapa sofa dan kursi malas yang tersimpan di sudut ruangan dan terdapat sofa bed yang panjang dan mampu menampung 3 hingga 4 orang dewasa untuk tidur di atasnya.


Rena menyenderkan tubuhnya di jeruji pagar, menatap langit malam yang terlihat sepi, tak ada bintang-bintang yang bersinar, bulan pun tampak malu memperlihatkan dirinya. “Ternyata kau sesuka ini menatap langit malam, jika kutahu, aku akan sering-sering membawamu ke balkon rumahku tiap malam,” bisik Nathan sembari memeluk Rena dari belakang.


Rena terkejut, seingatnya dirinya memang bersama Nathan dan Bram siang itu, tapi setelah dia bangun, ternyata dia sudah ada di sini, di rumah Nathan.


“Pak Nathan....” Rena berbalik tanpa melepas pelukan mereka. “Bapak mengejutkanku.”

__ADS_1


“Salahmu. Dari tadi aku berdiri di belakangmu, tapi kau asyik melamun sembari memandang langit gelap itu,” ucap Nathan mencibir.


“Katakan... apa yang kau lamun-kan? Apa ada yang meresahkan mu?”


Rena terdiam, tidak tahu harus berkata apa, karena tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya, antara malu dan takut mendengar jawabannya nanti.


“Hei, kau melamun lagi.” Usapan Nathan di pipi menyadarkan Rena.


“Maaf, Aku hanya memikirkan—”


“Apa kau sedang memikirkan Rayyan? Benar begitu!” kini Nathan menatap wajahnya dengan horor.


Hening.


Terdengar suara helaan nafas yang panjang sebelum Rena mengatakan sesuatu, “Ck’ apa-apaan sih Pak, kok bawa-bawa nama Mas Rayyan segala. Dia tak ada hubungannya loh! Kasihan kalau namanya terus di ucap,” kesal Rena, ternyata dirinya tak 100 persen percaya kembali dengan Rayyan.


“Memang kenapa?” lagian juga dia tak akan tahu,” ucap Nathan kesal, dirinya tak suka panggilan Mas yang dia arahkan saat memanggil Rayyan.


“Kata orang, ‘Orang yang kita bicarakan itu, akan tersedak saat namanya di panggil” ujar Rena memberitahu.


“Lantas apa yang aku lihat tadi, mengapa kau diam saat tubuhmu didekap mesra oleh Rayyan siang itu.” Ucap Nathan semakin mengeratkan pelukannya, hingga dagunya bersandar pada bahu Rena.


Rena tersenyum, dirinya sangat bahagia saat merasa Nathan saat ini sedang dalam mode cemburu padanya. Rena mengelus lalu menepuk punggung tangan Nathan dengan pelan. “Itu hanya pelukan salam perpisahan, katanya dia akan berangkat ke kota M besok lusa makanya aku membiarkannya memelukku untuk terakhir kalinya.


Lagian kami sudah bersepakat menjadi sahabat baik saja.” Ucap Rena sendu namun dia paksakan untuk tersenyum lebar, walau dirinya juga sedih dengan apa yang Rayyan rasakan saat ini, dirinya harus patah hati karena dirinya memilih Nathan, bukan dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2