
Rena benar-benar tak menyangka kalau Nathan juga menyukai dirinya. “Eh, tapi bukankah Pak Nathan tidak mengatakan cinta atau sayang padaku tadi! Oh ya ampun Rena....” ucap Rena yang merutuki kata-katanya sendiri.
Rena menghela nafasnya panjang, “Paling tidak dia sudah tahu perasaanku dan paling tidak juga, dia mau menerimaku, walau dia belum mencintaiku, tapi akan kupastikan agar membuatnya mencintaiku juga,” ucap Rena sungguh-sungguh, dia tak ingin perkawinannya nanti hanya dijadikan status belaka.
Malam begitu singkat rasanya jika hati sedang dilanda jatuh cinta, walau Nathan masih terlihat datar padanya, paling tidak, kini dia melihat kalau Nathan sudah mulai mencoba menerima kehadirannya. Terbukti dengan dirinya sudah mau menyapa Rena terlebih dahulu seperti pagi ini, tidak sedingin saat pertama kali mereka bertemu.
“Apa kau sudah mengemasi barangmu? Sebentar lagi kita akan pulang ke kota A.” Ucap Nathan sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Iya, Pak, semua sudah siap. Tinggal aku bawa turun saja ke bawah,” jawab Rena tersipu malu, pasalnya ini adalah perhatian pertama yang dia tunjukkan secara tulus, bahkan saat dulu dia sakit pun, Nathan tetap dingin padanya, menengoknya pun waktu itu hanya karena dipaksa oleh Momy Laura.
Setelah sarapan pagi, Rena dan Nathan terlihat sedang berjalan-jalan di tengah taman di belakang Vila ini. Bram yang melihatnya pun tersenyum lebar, pasalnya baru kali ini sahabatnya itu mau berdekatan dengan wanita lain setelah Kemala. “Berjuanglah, buang jauh-jauh rasa sakit dan traumamu. Kamu berhak untuk bahagia juga, setelah apa yang kamu lalui dulu,” ucap Bram yang melihat Rena dan Nathan dibalik gorden lantai 2 vila ini.
Di taman,
Setelah kita sampai di kota B, seminggu kemudian kita akan menikah. Ada yang harus kamu ketahui tentangku dan masa laluku, jadi kuharap kau mau bersabar pada sikap dan sifatku seperti ini. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan tetap berusaha menerimamu dalam hidupku.” Ucap Nathan sembari berjalan kecil bersama Rena di sampingnya.
Rena berhenti sejenak, dia berpikir, apakah dia harus bertanya soal perasaan Nathan sesungguhnya? Apakah dia harus bertanya kalau sebenarnya dia itu menerimanya apakah karena sudah cinta atau—ah enggak usah deh, nanti malah aku sendiri yang sakit hati mendengar jawabannya. “Kamu kenapa?” tanya Nathan saat melihat Rena tertinggal di belakang.
“Ah? Enggak apa-apa kok Pak. Oh iya, apakah setelah menikah, aku tetap bisa bekerja di perusahaan bapak?! Tanya Rena pelan, karena dia sangat takut kalau pertanyaannya itu akan membuat Nathan marah.
__ADS_1
Nathan terlihat berpikir, “Boleh.. toh juga pernikahan kita nanti tidak akan dirayakan. Hanya keluarga inti saja yang hadir.” Jawaban Nathan barusan membuat hati Rena patah. Luka dihati rena tadinya sudah mulai merekat menjadi pecah berkeping-keping kembali, bahkan kepingannya kali ini menjadi lebih kecil. Apakah begitu sulit dirinya bisa meyakinkan bahwa dirinya tidak akan seperti wanita dari masa lalunya, yang telah memberikan luka dalam di hatinya.
“Oh,” kalimat singkat dan padat yang Rena ucapkan saat mendengar ucapan Nathan, dia tak ingin memaksanya lebih keras untuk bisa mencintainya, masih banyak waktu yang bisa Rena lakukan untuk mendapatkan kepercayaan cinta Nathan.
Di sepanjang perjalanan, baik Nathan maupun Rena sama-sama diam tanpa sepatah kata pun, membuat Bram mengerutkan dahinya, “Sebenarnya mereka kenapa? Perasaan tadi aku lihat mereka tertawa bersama di taman.” Batin Bram yang memperhatikan gerak gerik Rena dan Nathan.
Rena masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa meyakinkan Nathan kalau perasaannya tulus padanya. Dan disisi lain pun, Nathan terlihat berpikir keras, apakah jalan yang diambilnya adalah benar, benarkah tindakannya yang menjadikan Rena sebagai pelampiasan agar dapat melupakan cinta pertamanya! Terlalu banyak kenangan yang Kemala torehkan di hidup Nathan, dan tak sedikit pula luka yang ditorehkannya.
Setelah sampai di kota A, mereka bertiga langsung kembali ke kantor, tadinya mereka akan pulang ke rumah masing-masing, namun karena tiba-tiba klien yang rencananya akan rapat seminggu lagi, dimajukan siang ini, alhasil mereka masih memakai baju seadanya saat ke kantor.
“Renaaaa...
Mata Ayyura terbelalak saat mengetahui ada Bram dan CEO gantengnya bersama Rena. Ayyura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu meminta maaf atas keributan yang dilakukannya,”
“Maafkan saya , Pak. Maaf!! ucap Ayyura berulang karena takut dirinya akan dipecat.
“Ayo!!” Bram menarik lembut tangan Ayyura hingga mereka sudah berada di taman belakang tempat dulu mereka janjian. “Bapak kenapa membawa saya kesini?” tanya Ay saat menyadari dirinya sudah berada di taman belakang.
“Ada yang ingin saya sampaikan padamu,” ucap Bram sembari menatap wajah Ayyura. Wajah yang selama setahun terakhir yang dia pandangi melalui layar laptopnya.
__ADS_1
Ayyura yang dilihat Bram menjadi salah tingkah, “O-oh, mau bicara apa Pak?” ucap Ay dengan terbata-bata. “A-a-aku, maksud saya, saya Cuma mau bilang, apa selama saya pergi, kamu tidak membuat masalah di sini! Ucap Bram yang merutuki ucapan yang keluar dari mulutnya. Padahal dirinya ingin jujur, kalau dia sangat merindukan Ayyura, merindukan tingkahnya yang kadang membuat dirinya emosi.
“Ck’ hanya itu??” ucap Ayyura dengan kesal sembari mengentakkan kakinya berjalan masuk ke dalam area kantor. “Aku kira dia mau bilang apa! Bilang rindu kek, apa kek,” gerutu Ayyura.
Sementara itu,
Di lantai 15, Nathan yang langsung masuk ke dalam ruangannya telah berganti pakaian yang memang selalu tersedia di dalam kamar pribadi miliknya yang berada di dalam ruangannya. Bram selalu menyiapkannya untuk keadaan darurat seperti sekarang ini. Nathan kembali berkutat mempelajari berkas-berkas yang akan dia presentasikan pada klien yang sebentar lagi datang. Sedangkan Rena saat ini sedang berada di dalam loker perempuan, ya dia berencana akan mengganti pakaiannya namun niatnya di urungkan karena stok baju yang dibawanya sudah habis semua, saat di kota B, dirinya tidak memakai jasa laundry di hotel.
Ayyura membuka pintu loker dengan keras hingga Rena yang berada di sana pun terlonjak kaget karenanya. “Ya ampun Ay, apa-apaan sih kamu. Bikin orang jantungan tahu!!” ucap Rena kesal.
“Ha, syukurlah ada kamu Ren, aku mau curhat!” ucap Ayyura dengan nada manjanya. “Ayo cepat bicara, aku harus segera naik, aku harus mempersiapkan rapat siang nanti.” Ucap Rena sembari menepuk bangku di sampingnya.
***
Tok, tok..
Permisi Pak, ruang rapat sudah siap. Klien kita juga sudah berada di dalam ruang rapat. Tinggal menunggu bapak saja,” ucap Rena dengan lugas. “Baiklah, ayo!” ucap Nathan yang kini berjalan di depan Rena.
Rena melamun saat melihat punggung Nathan. Dirinya terbayang kejadian malam itu, punggung yang lebar, yang semalam baru saja dipeluknya. Serta wangi parfum yang dihirupnya, seakan masih menempel di Indera penciumannya.
__ADS_1
...****************...