
Di Lobi
Nafasnya masih memburu saat dirinya sampai di lantai satu tempat acara berlangsung, tepatnya dirinya berada di lobi.
Sebenarnya sudah ada rasa dihatinya, walau Rena sendiri belum yakin dengan perasaannya. Jadi bohong kalau hati Rena tidak sakit saat melihat kejadian di kamar Nathan, walau bagaimanapun mereka sudah terikat dalam sebuah hubungan, walau belum secara resmi.
***
Ting..
Rena terperanjat saat Nathan tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang, “Kamu kenapa? Ada apa dengan nafas mu!” tanya Nathan saat dirinya melihat Rena yang susah mengambil nafas.
“Hu-huuu...ng-ggak apa-apa Pak,” ucap Rena yang masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Tadi saya turun menggunakan tangga,” ujar Rena.
“Tangga? Kamu turun dari lantai 4 ke lantai 1? Pakai pakaian ini? Pakai sepatu tinggi juga?!” Ucap Nathan sembari menunjuk gaun dan sepatu yang dikenakan Rena.
Rena salah tingkah, dia lupa kalau pria yang ada di hadapannya saat ini adalah pria yang kurang peka. “Ngg, anu Pak, sekalian olahraga kecil,” sambung Rena dengan terkekeh. Nathan yang mendengarnya pun hanya bisa menatap Rena dengan heran, “Dasar aneh!” ucap Nathan dalam hati.
“Ya sudah, Pak. Kita masuk sekarang, acaranya sudah akan dimulai,” ucap Rena yang mengalihkan perhatian Nathan. “Ya sudah, Ayo!” jawab Nathan.
Sesampainya mereka di acara, Nathan disambut hangat oleh empunya acara bak seorang Raja. Nathan yang memang sudah terkenal di kalangan pebisnis sebagai sosok yang kuat, jujur, dan bertangan dingin. Hampir semua tender dimenangkan perusahaan-nya, baik karyawan-nya ataupun dirinya langsung. Nathan terlihat sibuk berbicara dengan beberapa kolega bisnis yang belum pernah temui Rena. Dirinya merasa asing di acara ini, tak ada satu pun orang yang dia kenal, sampai akhirnya Rayyan yang tiba-tiba datang dan menghampiri Rena.
“Hai, wanita cantik. Maukah kau menemaniku malam ini?” goda Rayyan yang mendapat cubitan keras dari Rena. “Auw auw, ampun, oke oke,” keluh Rayyan sembari mengelus pinggangnya yang tadi di cubit oleh Rena.
__ADS_1
Tapi sumpah, Ren. Aku memang tak punya teman di sini, aku tak mengenal siapa pun selain dirimu.” Bisik Rayyan ditelinga kanannya. Rena sedikit bergidik saat kulitnya terkena embusan nafas Rayyan.
Rena terlihat salah tingkah, dia menggaruk alisnya pelan. Dia sedang berpikir, bagaimana caranya agar Rayyan tidak terlalu dekat dengannya. Ya, posisi Rayyan saat ini memang sangat dekat dengannya hingga deru nafas mereka pun bisa terdengar satu sama lain.
Rena masih sedang mencari alasan, tidak mungkin bukan, dirinya ikut nimbrung dengan Nathan dan koleganya! Hingga matanya tertuju pada deretan makanan yang terhidang di meja panjang yang terletak cukup jauh diujung dari tempatnya saat ini.
Rayyan yang sedari tadi tak lepas menatap wajah cantik Rena, teralih kan oleh Rena yang sedang melihat deretan makanan yang terhidang di sudut ruangan tersebut. “Kamu sudah makan?” tanya Rayyan. “Belum, Mas,” jawab Rena pelan karena malu.
Rayyan tersenyum melihat tingkah Rena yang terlihat sangat lucu saat malu-malu, “Baiklah, tunggu di sini,” ucap Rayyan yang menunjuk sebuah meja. “Aku akan mengambilkan mu beberapa makanan,” sambungnya yang diangguki oleh Rena.
Rena duduk sesuai tempat yang ditunjukkan Rayyan tadi. Rena melihat di sekelilingnya, situasi seperti ini memang masih asing baginya, sejak dirinya bekerja di Raharja Corp, Rena sudah mendapatkan banyak pengalaman yang luar biasa, mulai dari tempat hingga bertemu dengan banyak orang. “Bagaimana nanti ya kalau kami sudah menikah, pasti aku akan sering ke tempat pesta seperti ini!” ucap Rena dalam hati membayangkan hidupnya ke depan.
Lamunannya terhenti saat Rayyan datang membawa 2 buah piring yang berisikan banyak jenis makanan. “Semua terlihat sangat lezat,” ucap Rena dengan mata berbinar.
Rayyan yang melihatnya terkekeh, hanya dengan sesuatu yang kecil saja Rena bisa sebahagia itu. Andai waktu bisa dia putar ulang kembali, ingin rasanya dia yang melamar Rena terlebih dahulu sebelum Nathan, namun nasi sudah menjadi bubur. Entah dia harus menerimanya dengan senang hati karena itu artinya, Nathan sudah bisa melupakan masa lalunya yang pahit bersama Mala, mantan kekasihnya.
“Ekhem, suara deheman Nathan membuat Rena dan Rayyan melonjak kaget, Nathan sudah berada di belakang mereka, sedang melihat keakraban mereka berdua.
“Eh, Pak Nathan,” tegur Rena. “Bapak sudah selesai?” sambungnya lagi saat tak mendapat jawaban dari Nathan. Melihat Nathan yang diam, membuat Rayyan tahu diri, “Ren, aku ke sana dulu,” tunjuk Rayyan pada sekelompok pria yang sedang berbincang.
“Selamat bersenang-senang, nanti aku hubungi.” Sambungnya sembari memegang bahu Rena yang terekspos karena saat ini dirinya memang sedang mengenakan gaun model Sabrina.
Sepeninggal Rayyan, Nathan duduk di tepat di kursi yang tadi diduduki oleh Rayyan. “Kamu menikmatinya?” tanya Nathan dengan nada menyindir. “Maksud Bapak apa?” jeda Rena, “Oh, makanan ini? Iya rasanya sangat lezat, Bapak mau?! Tawar Rena dengan mengangkat piringnya yang masih tersisa beberapa makanan yang belum habis dimakannya.
__ADS_1
Natha menghela nafasnya, “Sudahlah, kita kembali ke kamar sekarang.” Ucapnya sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Rena yang melihatnya, hanya bisa menghela nafasnya, “Bener-bener ini orang,” Ucap Rena sembari berjalan keluar mengikuti langkah Nathan.
Di Lift
“Kamu begitu bahagia ya bersama dia?” ucap Nathan yang tidak ingin menyebut nama Rayyan langsung. Dahi Rena berkerut, “Dia?” ulangnya. Nathan kembali mengambil nafas lalu menghembuskan-nya, entah mengapa dirinya harus selalu menahan emosinya setiap kali dia berbicara pada Rena.
Padahal, Nathan saja yang selalu menyangka kalau semua sama seperti Bram, yang punya kemampuan mengetahui keinginannya tanpa dia berbicara langsung.
“Memangnya, tadi kamu berbicara pada berapa orang sih,” lagi-lagi emosi Nathan terpancing. “Enggak banyak Pak, hanya sama Mas Rayyan saja tadi,” jawab Rena jujur, karena sedari tadi, dia hanya bisa melihat Nathan yang terlihat sibuk berbicara dengan relasi bisnisnya saja, sampai Rayyan datang dan menemaninya.
“Iya, dia. Kamu senang-kan kalau ada dia!” ucap Nathan dengan lantang, walau hatinya terus mengatakan bilang “Tidak.”
“Iya, aku senang. Untung saja tadi Mas Rayyan datang, kalau tidak ak— belum sempat Rena menyelesaikan perkataannya, mulutnya tiba-tiba ditutup oleh Nathan.
“Diam!” ucap Nathan sembari menyunggingkan senyumnya. Nathan cukup terhibur tingkah lucu Rena saat sedang mengomel dalam keadaan mulut tertutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sampai di lantai 4, Nathan yang perhatiannya teralih kan oleh suara lift, membuat Rena mempunyai kesempatan untuk melepaskan tangan Nathan yang membekap dan memegang tangannya dari belakang. Rena tak membuang kesempatan itu, tiba-tiba Rena menginjak kaki kanan Nathan dengan cukup kuat, sehingga Nathan mengadu kesakitan, langsung melepaskan tangannya.
Rena berlari kencang menuju kamarnya di kamar 300 tanpa mendengarkan Nathan yang meneriakkan namanya dengan lantang. “Rennaa....
Nathan berjalan tertatih tati menuju kamarnya, segera dilemparnya sepatu yang dia kenakan dan memeriksa kakinya yang tadi di injak oleh Rena, terlihat sedikit merah dan membengkak. Damn it!!
__ADS_1
“Aku akan memberikanmu pelajaran yang setimpal,” ucap Nathan dengan seringai di wajahnya saat sedang menelepon.
***