Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 27. Bram Marah


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Nathan saat Bram memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku jas.


"Ini Mom, tuan. Mom memintaku untuk putar balik." Ujar Bram.


"Loh, memang kenapa? Bukannya mom juga sudah bersiap kekantor bersama Rena tadi!"


"Iya tuan awalnya namun, saat akan berangkat. Mobil Mom tidak bisa hidup, saat ini masih dalam pengecekan Pak Anto.


Nathan menghela nafasnya pelan lalu berkata pada Bram, "kalau begitu kita kembali kerumah, aku tak mau kalau harus berdebat dengan Mom lagi hari ini."


"Baik tuan."


Disepanjang jalan, Nathan menatap kaca mobil yang memperlihatkan pantulan wajahnya samar. Tanpa memalingkan wajahnya, Nathan bertanya pada Bram. "Hem, Bram. Boleh aku bertanya padamu? Jawab saja sebagai seorang sahabat!"


"Silahkan, Tuan. Saya akan menjawab yang saya tahu dengan jujur." Jawabnya.


"Apakah perlakuanku pada Rena sudah keterlaluan?" Tanyanya.


"Iya, Tuan. Saya perhatikan Anda memang sedikit keterlaluan padanya, padahal dia tulus dengan sikapnya selama ini."


"Benarkah?" Ucapnya dengan kedua alisnya naik ke atas. Tapi mengapa aku masih tidak bisa melihatnya?!"


"Mungkin karena hati, Tuan yang tertutup karena pernah..." Bram tak melanjutkan perkataannya, dirinya takut mengingatkan kembali akan masa lalu yang ingin dilupakan Nathan.


Nathan tahu maksud Bram, "apa iya mata hatiku sudah tertutup karena peristiwa itu!!" Pikirannya melayang jauh dimasa lalu, yang membuat dirinya sampai sekarang tidak membuka hati pada seorang wanita.


Terkadang ada rasa aneh yang menjalar dihatinya saat berdekatan dengan Rena, apa agi aat menatap matanya, namun Nathan selalu menepis perasaan itu.


Nathan dan bram kembali lagi menuju rumah yang baru lima belas menit yang lalu mereka tinggalkan. Saat percakapan mereka selesai , mobil yang dikendarai Bram pun sudah memasuki pelataran rumah.

__ADS_1


Terlihat Rena yang sudah berdiri menunggu kedatangan Bram, disampingnya kanannya pun sudah ada Mom Laura yang terlihat sumringah melihat mobil yang semakin mendekat kearahnya, berbeda dengan perasaan Rena yang campur aduk, sungguh dia sangat takut melihat reaksi wajah bosnya di mobil, namun dia tak punya pilihan lain, dirinya tak ingin sampai terlambat masuk kantor.


Setelah mobil berhenti, Rena berpamitan pada Mom Laura, diciumnya tangan kanannya lalu memeluknya dengan erat sambil berkata dengan lembut "Terima kasih Mom untuk semuanya." ucapnya sambil tersenyum. Rena segera masuk kedalam mobil, dia tidak ingin sampai ditegur. Rena membuka pintu depan untuk ia duduki, sebenarnya ingin rasanya rena menyapa namun dirinya tak punya keberanian itu.


Disepanjang perjalan, mereka bertiga diam tanpa da yang membuka suara, bahkan Rena mau bernafas saja sangat pelan, siruasi yang dirasakannya saat ini sangat


tidak nyaman buatnya, kalau tidak memikirkan waktu, pasti dia sudah meminta diturun dijalan.


Sesampainya di pelataran Raharja Corp, Bram melihat gadis yang selama ini diperhatikannya terlihat berboncengan dengan lelaki yang belum pernah dilihatnya selama ini.


Yeah, yang dimaksud Bram adalah Ayyura. Selama setahun, Bram selalu mengamati gerak gerik Ayyura, baik secara langsung ataupun lewat cctv yang terhubung dengan komputer miliknya. Dia tidak punya keberanian mengungkap perasaannya, sungguh selama 32 tahun, baru kali ini dirinya tertarik dengan seorang gadis, terlebih gadis kecil pembuat masalah.


Setiap kali mereka bertemu, pasti karena Ayyura membuat kesalahan. Bram yang cepat dan gesit sangat berbanding terbalik dengan Ayyura yang lamban dalam semua hal. Namun satu yang disukai dari gadisnya itu, sifatnya yang tidak sombong, padahal Ayyura yang notabenenya adalah anak orang kaya namun dia tidak tinggi hati dan tetap mau bekerja mulai dari bawah. Padahal kalau dia mau, dia pasti akan mudah bekerja di perusahaan orangtuanya.


Yeah, Bram mengetahui semuanya, sejak dirinya menyadari bahwa dia menyukai gadis ceria itu. Bram menyelidiki latar belakang keluarga gadisnya. Namun satu hal yang tidak diketahui olehnya, dia tak tahu kalau Ayyura juga menyukai, dan begitupun sebaliknya.


'Terkadang cinta memang aneh..'


Nathan dan Rena berjalan masuk teelebih dahulu kedalam kantor, Bram yang biasanya meminta tolong pada security untuk memarkirkan mobil milik Nathan, namun tidak dengan hari ini. Dia ingin memarkirkannya langsung, hal itu tak lepas karena dia ingin melihat dan mendengar secara langsung percakapan Ayyura dengan lelaki yang baru dilihatnya.


Sebenarnya siapa mereka? Tiap hari ada saja wajah baru yang mengantarkan." Gerutu Bram sembari mencari parkiran mobil.


***


"Terima kasih ya, Kak sudah mengantarku hari ini. Untung tadi ada kakak, jadi bisa sampai tepat waktu." Ucap Ayyura saat melihat jam tangan miliknya.


"Iya, Dek sama-sama. Kamu yang rajin ya kerjanya, kalau sudah nggak kuat, resign aja, nanti kakak masukin ke tempat kerja kakak." Ucapnya sembari mengacak rambut milik Ayyura.


"Iya iya, sana gih. Nanti malah kakak yang telat." Ucap Ayyura dengan tangan yang mengibas yang dibalas dengan anggukan kecil olehnya.

__ADS_1


Ayyura berlari kecil menuju arah pelataran pintu masuk Raharja Corp, namun baru selangkah, sudah ada tangan kokoh yang menarik tangannya dan membawanya kebelakang sebuah Mobil sedan.


"Aahh," ucapnya kaget, apa lagi saat melihat orang yang menarik tangannya. "Pa-pak Bram!" Pekik Ayyura terbata dengan mata membulat.


Bram yang sedari tadi memperhatikan Ayyura dari jauh, walau samar, namun masih bisa mendengar percakapan mereka tadi, tangannya mengepal saat melihat tangan lelaki yang dipanggilnya kakak itu menyentuh kepala gadisnya.


Setelah melihat lelaki itu pergi, Bram dengan sigap menarik tangan Ayyura dan membawanya kebelakang sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya menunggu tadi.


"Siapa dia?? Tanya Bram dengan ketus.


Antara kaget dan bingung, Ayyura malah bertanya balik "Siapa?".


Bram menghela nafasnya "siapa lelaki tadi yang mengantar mu?!" Tanyanya.


"Apa hubungannya dengan bapak?" Jawab Ayyura


"Ng-gak, nggak ada apa-apa kok! Hanya saja saya harus tahu orang-orang yang memasuki wilayah kantor ini," Jawabnya.


Huft, Ayyura menghembuskan nafasnya keras hingga anak rambut miliknya terbang. "Nggak ada!! Gila aja nih orang, sudah narik tangan orang, malah dibilag nggak ada apa-apa." Batinnya.


"Maaf ya, Pak. Ini tuh privasi saya, jadi saya rasa, tidak perlu menjawab pertanyaan bapak!! Maaf, saya permisi masuk dulu, sudah hampir jam 7 juga." Ucap Ayyura melenggang pergi dan berjalan menuju pintu depan.


Bram tak mungkin mengejarnya, apa di jam seperti ini, jam dimana banyak-banyaknya karyawan yang datang dan berlalu lalang di lobby. "Nanti sajalah aku tanyakan padanya." Batin Bram saat melihat Ayyura yang semakin jauh dai pandangannya.


Dering ponselnya membuyarkan lamunannya, dilihatnya nama Nathan yang tertera.


"Iya, Tuan." jawabnya cepat.


[...]

__ADS_1


Baiklah, saya naik sekarang." Jawabnya lalu berjalan dengan cepat menuju lift tanpa melihat ke arah Ayyura yang sudah terlebih dahulu masuk.


***


__ADS_2