
"Bersahabat? Yakin bisa bersahabat? Kamu tahu Ren, seorang laki-laki dan perempuan bisa saja menjadi teman. Tapi pada satu titik, mereka bisa jatuh cinta satu sama lain. Saat sudah berteman lama, salah satu atau keduanya bisa tiba-tiba merasakan jatuh cinta. Ada yang cuma sementara, atau mungkin jatuh cinta pada saat-saat tertentu, bisa jatuh cinta pada waktu yang salah, bisa jatuh cinta yang datang terlambat, atau mungkin selamanya, jadi aku harap, kamu bisa bersikap objektif dan rasional.” Tutur Nathan yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Rena.
"Aku paham maksudmu,” sahut Rena.
"Apa kamu mau makan? Bram sudah membelikan kita makanan untuk makan malam.” ucap Nathan.
"Mau, aku juga sudah lapar banget. Eh tapi... Aku baru ingat, ini rumah siapa? Kenapa kita ada di sini!” tanya Rena yang tiba-tiba teringat saat dirinya bangun sudah berada di dalam sebuah kamar.
"Ini rumah kita,” ucapnya sembari mengendurkan pelukannya.
Rena yang kaget, berbalik menatap Nathan tanpa melepaskan pelukannya, “Maksudmu apa ? Kita!”
"Iya, rumah kita berdua,” ulang Nathan yang mencoba meyakinkan Rena dengan perkataannya, “mari kita menikah!!” seru Nathan yang membuat gelinang riak air mata dikelopak mata indahnya yang menetes, ada rasa yang membuncah, meronta, dan ada risak peluh kepedihan, rindu dan juga riuh yang membisu dalam diam tatkala meningkat semua kisahnya bersama Nathan.
Air mata di pelupuk mata itu, bukan saja ungkapan rindu, luka, atau juga duka. Tapi juga romansa gegap gempita ria dari cinta dan juga amarah yang membuncah hingga keluar tetesan air yang kadang sebut dengan air mata.
Hatiku sudah damai, aku sudah mencoba berbaikan dengan hatiku, maafkan aku yang terlalu lama meraih tanganmu. Hingga saat Rayyan datang, membuatku berusaha dengan keras agar bisa melupakan semua sakit yang tertoreh di hatiku. Aku sangat bersyukur karena bisa mengenal wanita sepertimu, wanita kuat, mandiri dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupannya.
Tetapkanlah hatimu untukku, aku akan berusaha membuatmu bahagia, tersenyum, dan selalu mendapat curahan cinta dan kasih dariku dan Momy.
Rena berkaca-kaca saat mendengar perkataan tulus Nathan secara langsung, ini benar-benar di luar perkiraan Rena. Apakah ini buah dari kesabarannya selama ini!!
***
__ADS_1
Mereka makan bertiga dengan hikmat hingga terdengar sebuah langkah kaki seseorang yang cukup nyaring menuju ruang makan tempat mereka sedang menyantap makan malamnya.
Nathan, Rena dan Bram menoleh ke arah derap langkah yang semakin lama semakin dekat. Hingga suara nyaring yang mereka kenal pun terdengar, “Enak ya kalian semua di sini! Bisa-bisanya kalian meninggalkan Momy di rumah, sedang kalian di sini berkumpul bersama, sedang makan lagi, tega kalian!!” tutur
Rena yang merasa iba langsung menghampiri calon mertuanya itu. “Momy, maafkan kami ya, dan jangan berkata seperti itu lagi, sebab kami semua sangat menyayangimu.” Ucap Rena sembari menggandeng lengan Laura dan menuntunnya berjalan menuju kursi di samping Nathan.
Nathan mengulas senyumnya, begitu pun dengan Bram yang tersenyum penuh cinta yang masih bisa melihat tingkah konyol Laura tadi.
Rena melayani Laura dengan telaten, membuat Nathan tersenyum simpul melihatnya. “Kau sungguh wanita yang sempurna Rena, tak banyak wanita yang bisa meluluhkan hati Momy.” Ucapnya sembari melanjutkan kembali makanannya.
Setelah makan malam, Laura dan Rena bergabung dengan Nathan dan Bram yang sudah terlebih dahulu berada di ruang keluarga setelah makan malam. “Ini Pak Nathan, buahnya. Oh iya, Pak Bram juga bisa memakan buah itu bersama.”
"Kapan kalian menikah? Rasanya sudah cukup kalian saling mengenali bukan, toh juga masalah yang dulu sudah selesai ‘kan!! Jadi apa lagi yang kalian tunggu, keburu Momy modar, baru kalian akan menikah!!” Ucapnya dengan sedikit lantang.
Laura, Rena dan Bram bersamaan menatap Nathan dengan takjub. “Kamu pikir menikah itu seperti makan mie instan! Semua ada prosesnya Nathan—jadi enggak serta merta mau menikah dan besoknya langsung nikah.” Jelas Laura pada anaknya.
"Minggu depan kalau begitu, Momy tenang saja, biar Nathan yang mengurus semuanya,” ucap Nathan sembari melirik ke arah Bram.
Bram yang tahu maksud lirikan Nathan pun menghela nafasnya pelan, “Gerak cepat lagi kalau begini ceritanya.”
Malam semakin gelap, mereka berempat bersepakat akan menginap di rumah baru milik Nathan. Mereka tidur di kamar masing-masing, Nathan dan Rena pun di kamar masing-masing, mereka sepakat kalau akan menjaga hal yang paling berharga yang dimiliki Rena, begitu dengan Nathan, dia ingin mengambil hal sakral itu dengan momen yang indah yang tidak dapat Rena lupakan.
Saat ini mereka berdua sudah berada di kamar yang tadi sore Rena tempati, kamar milik mereka berdua nantinya setelah menikah. Di balkon kamarnya, Nathan dan Rena lagi-lagi sedang menatap langit malam, namun kali ini begitu berkilau, entah mengapa, tengah malam begini, para bintang entah muncul satu persatu tanpa di minta. Seakan sedang mendukung apa yang akan Nathan lakukan pada Rena.
__ADS_1
"Kemari-kan tanganmu,” pinta Nathan pada Rena, yang membuatnya bertanya.
"Untuk apa?” tanyanya sembari menoleh ke arah Nathan.
"Kemari-kan saja,” Nathan berkata penuh rahasia, setelah itu dia langsung berbalik ke arah Rena, saling berhadapan tanpa melepas tangan yang sudah di genggamnya.
"Nathan meraih jemari Rena, memakaikan sesuatu yang berkilau di jari manisnya. Semakin indah dan berkilau saat kau memakainya.” Ucap Nathan sembari mencium tangan Rena yang memakai cincin berlian.
"Cincin? Tapi untuk apa?” Rena terlihat bingung.
"Memang kenapa kalau cincin? Bukannya bagus, biar orang-orang di luar sana tahu, kalau Kau adalah sekretaris galakku—"
"Ih, menyebalkan sekali dirimu Nathan Raharja, pria dingin dan datarku!!” ucap Rena tersipu malu.
***
Sinar matahari pagi yang menyorot tepat di wajahnya sebenarnya sudah cukup membuat Rena terjaga, tapi Rena tidak mau bangun. Apa yang dia alami semalam rasanya masih seperti mimpi. Rena tak ingin mengambil risiko kehilangan semuanya. Namun, suara kasak-kusuk pelan di sekitarnya membuat Rena mengernyitkan keningnya. Berisik. Seperti bukan hanya satu dua orang saja yang ada di kamarnya. Penasaran, akhirnya Rena membuka mata. Di saat itulah dia mendapati jika banyak sekali orang yang mondar-mandir di dalam kamar yang bernuansa hitam dan perak itu.
Ya, setelah makan malam, Rena dan ketiga lainnya, Laura, Nathan dan Bram juga menginap di rumah yang dibeli Nathan untuk dia tinggali bersama keluarga kecilnya, ukurannya memang tidak sebesar rumah Laura, namun sangat nyaman ditinggali.
"Selamat pagi, Nona. Maafkan kami yang membangunkan Anda,” ucap salah satu wanita yang menyadari gerakan Rena.
Rena bergegas duduk. “Ada apa ini?” tanya Rena heran. Wanita itu menunduk. “Tuan Nathan memerintahkan kami menyiapkan gaun dan semua keperluan Anda untuk pernikahan Anda sore ini, Nona,” jawab wanita yang bertugas di dalam kamarnya.
__ADS_1
...****************...