Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 30. Plong


__ADS_3

“Jadi, apa jawabanmu?!” kali ini bukan Mom Laura yang berbicara, melainkan Nathan.


Rena menghembuskan nafasnya pelan lalu berbicara, “Aku menerima pinangan Pak Nathan padaku,” ucap Rena mantap.


Mom Laura segera beranjak dari duduknya lalu segera memeluk Rena erat. Sungguh hatinya sudah tenang, keinginannya untuk menjadikan Rena menantunya sudah terealisasikan.


Baiklah, karena kalian semua sudah setuju, lebih baik kita segera mengurus segala urusan pernikahan kalian,” ucap Mom Laura yang disambut senyuman oleh semua.


Setelah makan malam selesai, Mom Laura berpamitan untuk kembali ke kamarnya, entah mengapa setelah mendengar jawaban dari Rena, hatinya serasa ringan, sudah tidak ada lagi beban yang dipikulnya. Rasa kantuk menyeruak tatkala beban yang dirasakan selama beberapa bulan belakangan ini ikut menyeruak.


“Aahh, nikmatnya bisa berbaring seperti ini,” ucap Mom Laura yang tengah membaringkan tubuhnya menghadap langit-langit kamarnya. Bayangan tentang pernikahan Nathan dan Rena sudah terbayang olehnya. “Rasanya sudah tidak sabar menimang cucu,” ucap Mom Laura sembari membayangkan wajah cucunya kelak hingga matanya terlelap hingga memasuki alam mimpinya.


Sementara di ruang makan, Rena, Nathan dan Bram tampak kikuk dengan suasana di sana selepas Mom Laura pergi. “Bram, sudah kau bawakan apa yang aku pesan!” ucap Nathan yang memecah keheningan yang terjadi. “Sudah Tuan, saya sudah membawa sesuai yang Tuan minta tadi,” jawab Bram cepat.


“Kamu ikut saya ke ruang kerja, lebih baik kita bahas di sana saja. Takut Mom akan mendengar percakapan kita,” ucap Nathan dengan tatapan matanya mengarah pada Rena.


Rena beranjak dari duduknya, sepanjang jalan menuju ruang kerja Nathan, Rena terus menerus memberikan semangat pada dirinya sendiri, “Enggak apa-apa, pakai surat kontrak pun tak masalah, intinya kamu tetap menjalaninya dengan ikhlas tanpa harus terikat pada surat kontrak tersebut, semua yang kau lakukan hanya demi Mom Laura. Urusan belakangan, biar di pikirkan nanti saja, toh juga jodoh di tangan Tuhan!” ucapnya dalam hati.


Sesampainya mereka di ruang kerja, Nathan mempersilahkan Rena masuk dan duduk di sofa yang berwarna perak. “Saya langsung saja ke intinya,” ucap Nathan tanpa mau berteletele. “Bram, berikan surat perjanjian itu padanya,” ucap Nathan dingin.


“Iya, Tuan. Bram segera mengambil map yang berisikan surat kontrak pernikahan yang sudah dia revisi waktu itu.


“Aku sudah menambahkan poin-poin yang kamu inginkan soal, ingin tetap bisa menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri! jadi tanda tangani-lah.


Setelah mereka menandatangani surat perjanjian tersebut , Rena sempat mengatakan 1 pertanyaan atau lebih tepatnya sebuah ultimatum agar dirinya tetap bisa bekerja walau bukan di Perusahaan Raharja Corp.

__ADS_1


Setelah menyetujui persyaratan Rena, barulah mereka menandatangani secara bergantian perjanjian tersebut.


“Besok siang kita akan fitting baju pengantin,” ucap Nathan dingin lalu memberikan kode pada Bram untuk mengantar Rena kembali ke Panti Asuhan.


“Mari, Nona saya antar pulang,” ucap Bram sembari berdiri di samping Rena mempersilahkan bangun dari duduknya lalu membukakan pintu. Rena cukup terkejut dengan panggilan baru yang di dengarnya, namun karena tak ingin berlama-lama dengan Nathan, akhirnya Rena pun mengikuti segala arahan dari Bram.


Di dalam mobil, “Pak Bram, bisakah bapak memanggil saya seperti biasanya saja? Saya kurang nyaman mendengarnya,” ucap Rena.


“Maaf, Nona, saya hanya menyesuaikan dengan kondisi saat ini, sebentar lagi Nona akan segera menjadi Nyonya Nathan, jadi sudah sepantasnya saya menghormati Nona seperti saya menghormati Mom dan Nathan,” ucap Bram dingin sembari meneruskan perjalanan yang sempat dia hentikan saat menjawab pertanyaannya.


Rena hanya bisa menghela nafasnya sembari memandang jalan dari kaca jendela. Yeah, saat ini dirinya memang sudah menjadi calon istri dari CEO Raharja Corp, salah satu perusahaan besar dan berkuasa di Negaranya. “Apa jadinya aku nanti ya!” ucapnya membayangkan masa depan dirinya bersama Nathan kelak yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Setelah mengantar Rena, Bram langsung pulang ke rumahnya. Nathan menghubunginya tadi saat Rena sudah masuk ke dalam Panti.


****


“Toh ini juga hanya setahun, jadi tidak akan lama,” gumamnya. Dan setelahnya, Nathan kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena besok merupakan awal mereka akan bersandiwara sebagai calon istri-suami.


Jauh di tempat yang berbeda, perasaannya pun tak menentu, semoga apa yang dia sudah putuskan adalah yang terbaik untuk kehidupan barunya. Dengan dukungan dari Ibu panti dan Mom Laura, rasanya sudah cukup membuat Rena yakin dengan keputusannya saat ini.


Pagi harinya,


Saat Nathan turun ke bawah untuk sarapan seperti biasanya, Mom Laura tak tampak seperti biasanya. Biasanya dirinyalah yang selalu menunggu dirinya di meja makan namun, entah mengapa pagi ini Mom nya belum turun juga.


Saat asisten pribadi Mom Laura turun dari lantai 2, Nathan bertanya padanya, “Di mana Mom? Kenapa belum turun?” tanya Nathan cemas.

__ADS_1


“Oh, Nyonya Laura berpesan agar Tuan bisa makan terlebih dahulu saja, tidak perlu menunggunya sarapan bersama,” Ucap sang asisten yang bernama Maya.


Dahi Nathan berkerut, “Memangnya Mom kemana? Apakah dia sedang sakit? tanya Nathan selidik.


“Tidak, Tuan, malah Nyonya saya lihat lebih baik dari beberapa bulan yang lalu.” Jawab Maya dengan menundukkan kepalanya.


“Lantas, kenapa dia tidak turun untuk sarapan? Bukankah dia baik-baik saja! tanya Nathan ulang yamg di jawab oleh Maya, “Maaf, saya juga tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak menjawab pertanyaan saya,” ucapnya sembari menunduk. “Baiklah, kamu boleh pergi,” titah Nathan.


Nathan kembali menapaki tangga satu demi satu, dia sangat heran dengan apa yang di dilakukannya di dalam kamar sampai tidak ingin sarapan bersama dengan anaknya, tak seperti biasanya, itulah yang ada di pikirannya.


Tok. Tok..


“Mom, ini Nathan, aku masuk ya.” Ucap Nathan sembari masuk ke dalam kamar Mom nya yang tidak kalah luas dai kamar miliknya.


Nathan kaget melihat Mom nya masih berbaring di atas kasurnya, “Bukankah kata Maya Mom tidak sakit? Tapi mengapa masih tidur jam begini!


Nathan berjalan mendekat menuju ranjang tempat tidurnya. “Mom, apa kau baik-baik saja? Tanya Nathan dengan menggoyangkan tubuh Mom nya yang terlihat sangat pulas.


Mom Laura membuka matanya perlahan saat merasakan tubuhnya diguncang oleh seseorang. Perasaan dirinya baru saja memberi tahu pada sang asisten agar tidak mengganggu tidurnya pagi ini, karena saat siang hari, mereka bertiga akan pergi bersama untuk fitting baju pernikahan anaknya.


“Mayaaaaa!! Pekik Mom Laura yang membuat Nathan ter lonjak kaget. Berapa kali saya harus bilang, kalau pagi ini saya tidak mau di ganggu oleh siapa pun jadi pergilah dari sini sebelum ku potong gaji mu 50%,” kesalnya.


Mom, ini aku. Bangunlah dahulu, ada yang ingin Nathan tanyakan,” ucap Nathan sembari duduk di sisi kanan kasur miliknya.


“Nathan?? Kamu sedang apa di sini sayang!! Tanya Mom Laura yang masih terlihat mengerjap kan matanya.

__ADS_1


****


__ADS_2