
“Pak Bram!!” Pekik Ayyura saat melihat Bram ada di hadapannya saat ini, “bukankah dia sedang melaksanakan tugas dari Pak Nathan! Tapi kenapa bisa ada disini!” batinnya.
Bram mendudukkan kembali tubuh Ayyura yang tengah berdiri. “Ayo duduk, temani aku makan,” pinta Bram. Ayyura yang masih kesal karena dirinya selalu saja di nomor 2 kan lantas jual mahal, “Maaf Pak, aku sudah kenyang, dan aku mau kembali bekerja, jam istirahatku sudah habis.” Ucap Ayyura yang kini tengah bersiap berdiri namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh Bram, “Kenyang bagaimana? Makananmu saja tidak kau sentuh, jangan keras kepala, duduk dan habiskan makananmu!! ucap Bram, “kalau tidak... Kamu akan kuberi hukuman!” ucap Bram dengan seringainya.
Dengan terpaksa Ayyura kembali duduk dan memakan makanannya dengan menatap tajam Bram yang sedang tersenyum. “Perhatikan makananmu, fokus dan kunyah sebanyak 33 kali agar perutmu tidak sakit,” ucap Bram yang membuat Ayyura meleleh.
Terdengar hembusan nafas panjang Ayyura. “Kenapa? Ada yang ingin kamu katakan?” ucap Bram sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. “Apa bapak enggak malu makan bersamaku di sini? Tanya Ay selidik, “apa bapak tak lihat orang-orang matanya tertuju pada kita berdua.” Tutur Ayyura yang melirik ke arah orang -orang yang melihat dirinya dan Bram makan bersama.
Bram melihat ke arah yang di maksud Ayyura sekilas dan kembali lagi menatap wajah cantik Ayyura, “Lihat, apa perlu saya menyuruh mereka menutup matanya semua!!” ucap Bram enteng.
“Ck’ bukan itu maksudku. Kenapa tiba-tiba bapak ada disini? Dan bukankah tadi bapak harus melakukan sesuatu yang penting!” ucap Ay karena melihat Bram pergi terburu-buru setelah menerima telepon dari Nathan.
“Iya, tapi sudah selesai.” Ucap Bram datar sembari menikmati kembali makanannya yang hampir habis, “cepat habiskan makananmu, jam istirahatmu sudah hampir habis,” sambungnya.
“Dasar perahu layar!! Sukanya buat hati orang terombang-ambing,” umpat Ayyura dalam hati.
Di tempat berbeda,
Tampak Rena yang masih kaget saat menerima beberapa tas belanjaan dari Bram. “Maaf Pak, ini tas belanjaan siapa? Banyak banget, kok dikasih ke saya!” ucap Rena yang terlihat bingung.
“Itu buatmu semua, ambillah dan ganti pakaianmu sekarang, setelah itu kita pergi,” ucap Nathan tanpa menoleh ke arah Rena yang fokus pada layar laptopnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Nathan menghela nafasnya saat melihat Rena beranjak pergi dari kantornya. “Mau ke mana lagi kamu? Bukankah aku suruh ganti sekarang!!
“Iya ganti di bawahlah Pak, masa iya saya harus ganti di depan bapak!” balas Rena sembari menyimpangkan tangan di bagian dadanya. “Ganti disini maksudnya R.e.n.a,” ucap Nathan yang perjelas kata Rena.
Sana masuk ke dalam kamar, ganti di sana saja. Saya tak mau melihatmu memakai rok kurang bahan itu lagi.” Ucapnya kesal setiap kali mengingat mata Alan yang seakan siap menerkam Rena.
Bukan roknya yang kurang bahan, tapi karena tinggi Rena dan Ayyura yang berbeda. Rena memasuki ruangan yang cukup besar, lagi-lagi kamar milik Nathan lebih besar dari kamarnya di Panti. Rena memilih salah satu dari sepuluh pasang pakaian yang berwarna hitam, sangat senada dengan warna jas yang di pakai Nathan hari ini.
Rena mengingat rambutnya ke atas agar leluasa memakai pakaian yang dibelikan oleh Nathan untuknya. Dirinya bersolek di depan cermin, melihat ke kiri dan ke kanan, tampak sempurna, sangat serasi dan pas di tubuhnya. Setelah 10 menit, Rena keluar kamar dengan menenteng pakaian yang tadi di pakainya, tampak Nathan yang masih fokus menatap layar laptopnya.
Konsentrasinya dibuyarkan saat Rena memanggil namanya dengan lembut, “Pak Nathan, saya sudah siap,” ucap Rena malu-malu.
Rena terlihat salah tingkah, wajahnya bersemu kemerahan. “Mana pakaianmu yang tadi itu, sini!!” ucap Nathan mengalihkan.
“Ini Pak.” Ucap Rena sembari memberikan pakaian yang dikenakannya tadi.
“Tunggu Pak, jangan di buang!” Ucap Rena yang kini memegang tangan Nathan yang terlihat akan membuang rok yang dikenakannya tadi di tempat sampah. “Kenapa? Apa kau masih ingin memakainya?” tanya Nathan dengan satu alisnya terangkat, “tidak, ini harus segera dibuang,” ucap Nathan yang menepis secara halus tangan Rena.
“Jangan Pak! Aku mohon jangan dibuang, itu bukan punyaku tapi punya Ayyura, dia meminjamkannya padaku karena tidak memiliki baju kantor yang bersih,” mohon Rena.
Nathan menggeleng kepalanya lalu membuang nafasnya berat. “Ini!” Ucap Nathan sembari memberikan rok yang dipegangnya tadi. “Langsung berikan, jangan sampai saya melihatmu memakai rok itu lagi.” Ucap Nathan yang kembali ke mejanya dan mengambil jas yang dia gantung di belakang kursi.
__ADS_1
“Baik, Pak. Terima kasih ,” ucapnya sembari bermonolog ria, “hampir saja aku kena marah Ayyura!
***
“Maaf Pak, kalau saya boleh tahu, kita mau ke mana?” tanya Rena penasaran karena sejak tadi dirinya tak diberi tahu oleh Nathan.
“Sebentar lagi juga kamu akan tahu,” jawab Nathan datar. Rena mengangguk pasrah, tidak ingin bertanya lagi yang akan membuat Nathan nantinya akan marah.
Rena menatap Nathan, wajah tampannya begitu memesona Rena hingga dirinya tak berkedip. Sampai saat Nathan menegurnya. “Awas jatuh cinta nanti, saya enggak tanggung jawab ya!” ucap Nathan melirik.
Ya, sedari tadi dirinya memang menyadari kalau sejak tadi Rena terus memperhatikan wajahnya, sangat terlihat dari sudut matanya. Semenjak dari kota B, Nathan berjanji akan mulai membuka dirinya untuk Rena, yang salah satunya adalah dengan mengizinkan Rena duduk di sampingnya. Awalnya Rena akan duduk di depan bersama dengan Bram, namun tiba-tiba saja Nathan menyuruh Rena duduk di belakang bersama dengannya.
Itulah mengapa Rena terus memperhatikan wajahnya Nathan, dirinya sangat heran dengan perubahan sikap bosnya itu, walau belum 360 derajat, tapi Rena sudah sangat bersyukur sebab itu artinya dia mempunyai peluang untuk bisa membuat Nathan jatuh cinta padanya.
Setelah sampai di sebuah restoran Jepang, Rena turun bersamaan dengan Nathan dan Bram. “Ini bukanya restoran kesukaan Momy ya!” ucapnya dalam hati. Rena terus mengekori ke mana Nathan melangkah ke mana kakinya berjalan. Hingga berhenti tepat di depan ruangan 202.
“Ayo!” Ucap Nathan sembari memberikan lengannya ke arah Rena.
Rena yang tak paham maksud Nathan, membuat bosnya itu sedikit kesal, Nathan menarik lembut tangan Rena lalu mengalungkannya ke dalam lengannya hingga tak ada jarak pemisah di antara keduanya, bak sebuah prangko.
...****************...
__ADS_1