Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 48. Kebahagiaan Rena


__ADS_3

“Gaun pernikahan? Pernikahan sore ini?” Rena hanya bisa berkedip, sementara beberapa pelayan, kembali menjalankan pekerjaannya.


Sebenarnya dirinya terbangun di dalam kamar ini, dan bukan di kamar Pantinya, Rena sudah sangat bahagia, itu meyakinkannya bahwa yang terjadi semalam bukan hanya sebuah mimpi belaka. Namun, melihat gaun pernikahan yang elegan dengan warna putih berkilau yang sudah digantung dengan rapi, sesuai dengan pilihannya waktu itu.


Kebahagiaan merasuki dadanya. Bahkan dia merasa tidak mampu menampung kebahagiaan lagi.


Rena bergegas turun dari ranjang, menatap gaun itu terpesona. Gaun tersebut sangat cantik. Berwarna putih dengan bagian bawah yang menjuntai panjang di lantai. Sangat persis seperti model gaun-gaun yang sering di pakai para putri di film-film Disney.


Dan, seakan belum cukup, butiran swarovski pada tiap detail gaun itu yang membuatnya takjub. Padahal waktu itu, saat dirinya mencoba gaun tersebut, belum secantik seperti saat ini. Benar-benar indah, membuat gaun itu terlihat bagai langit cerah penuh bintang.


“Saya harap Anda menyukainya,” ucap Pelayan bernama namanya Lestari. Rena menoleh. Wanita itu sudah berada di belakangnya. “ Tuan Nathan sendiri yang memesannya secara langsung, Nathan meminta agar Lestari membuat gaun putih yang indah dan spesial yang hanya dia desain khusus untuk Rena.


Rena masih betah melihat gaun yang akan dirinya kenakan. “Astaga... itu bahkan sudah cukup lama, bagaimana caranya dia masih mengingatnya dengan rinci.


Ucapan pelayan tadi itu pun membuat Rena tidak bisa berkata-kata lagi. Sejak makan malam bersama, Nathan terus menyebutkan soal pernikahan, Rena tadinya sempat beranggapan bahwa itu adalah keputusan mendadak yang dia ambil. “Di mana Pak Nathan?” tanya Rena, dia ingin sekali menemui pria yang sudah memberinya kebahagiaan.


Tuan Nathan di lantai bawah, dia sedang di sidang oleh Nyonya Laura.”


“Sidang?” ulang Rena yang merasa aneh.

__ADS_1


“Benar Nona, yang aku dengar, Nyonya Laura meyakinkan apakah keputusan Tuan Nathan adalah keputusan benar, jangan sampai ini hanya keputusan keterpaksaannya karena Nyonya Laura terus mendesak menikahi Anda.” Ucap Pelayan yang menunduk karena takut Rena akan tersinggung.


“Jadi? Apakah kamu mendengar jawaban Pak Nathan?!” selidik Rena.


“Eng, maaf Nona, tadi saya tidak sempat mendengarnya. Keburu saya di suruh ke kamar Nona mempersiapkan segala sesuatu keperluan Nona terkait gaun yang akan Anda kenakan.” Ucap Pelayan wanita itu lalu beranjak pergi dari hadapan Rena.


Rena memegang dadanya, “Ya Tuhan, kenapa dengan dadaku ini? Kenapa rasanya seperti ini!” batinnya.


Rena tak henti-hentinya berjalan dari ujung ke ujung kembali, mondar-mandir bak setrikaan. Hatinya terus bertanya-tanya tentang jawaban Nathan pada Laura. Alasan yang juga Rena ingin tanyakan padanya, padahal dulu, Nathan sempat tidak ingin menikah dengannya, bahkan dirinya sudah berencana akan membuat surat perjanjian kontrak padanya


Dan, apakah niatnya yang dulu akan tetap dia lakukan? Apakah keputusan dadakannya ini juga bagian dari keterpaksaannya? Tapi selama seharian ini, sikapnya pada Rena sudah berubah, lebih hangat dan mulai banyak bicara.


Rena merasa tubuhnya dilingkupi dari belakang. Hangat. Seakan ada dua tangan besar yang memeluknya. Apalagi dengan aroma tubuhnya tercium seperti perpaduan musk, vanila dan wood juga ikut membuat tubuhnya nyaman. Sangat familier, membuat Rena menutup matanya dan menikmati keharuman dan kehangatan yang dirasakannya. Aku berharap khayalanku kali ini, tidak pernah berakhir.


“Sudah bangun?” pemilik tangan itu berkata dengan suara yang serak.


Rena membola saat mendengar suara yang sangat dikenalnya, bukannya ini suara Pak Nathan??” Rena membuka matanya, dan benar saja, pria yang memeluknya adalah Nathan. Entah sejak kapan dirinya berada di belakangnya, apakah yang sedari tadi memeluknya adalah Nathan!”


“Pak Nathan!” seru Rena saat dirinya berbalik.

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa kau begitu terkejut? Apakah ada pria lain yang kau khayalkan!”, ucap Nathan selidik.


Tawa Rena pecah, “Kenapa kau tertawa? Apa yang salah dengan perkataan ku?” tanya Nathan dengan tatapan tajamnya.


Tidak, tidak ada yang salah, tapi mengapa setiap kali aku melamun, kenapa selalu saja bapak membawa nama pria lain, aku selalu jujur padamu, tidak ada laki-laki lain di hati juga pikiranku selain bapak.” Tutur Rena sembari menatap mata Nathan dengan intens.


“Maafkan aku, entah mengapa hatiku begitu takut jika pengalaman yang dulu kembali terulang.” Lirih Nathan.


Rena memegang kuat tangan Nathan seraya mengatakan, “Aku tak bisa janji untuk terus bersamamu, karena Tuhan sudah mentakdirkan hidup kita akan sampai di usia berapa, namun satu yang pasti, yang bisa aku pastikan adalah aku akan selalu mencintaimu dengan segenap hatiku.” Ucap Rena sungguh-sungguh dan tanpa malu lagi, Rena memeluk erat pinggang Nathan dengan erat, menghirup kembali aroma tubuh yang membuatnya merasa nyaman.


***


Rena merasa sungguh sangat di cintai, pertanyaannya selama ini akhirnya terjawab juga. Cinta yang sedari dulu di rasakan ya dan ternyata harus bertepuk sebelah tangan, dengan segala kesabarannya dalam menghadapi sikap dan sifat Nathan yang sering berubah-ubah, dirinya sungguh merasa bersyukur. Kalau ini adalah waktu terakhirnya, dirinya sudah ikhlas meninggalkan dunia ini, dia sudah puas di cinta oleh banyak orang di dunia ini.


Rena mencintai Nathan dengan diam selama ini, membuatnya begitu merasa tersiksa, ditambah dengan sikapnya yang selalu berubah-ubah, namun saat cintanya terbalas, dirinya begitu bahagia, seakan beban dan sakit yang dulu dirasakannya sirna semua.


“Ayo kita turun sarapan, Momy sudah menunggu kita di


bawah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2